Jalan Asmaradana dan Kesadaran Kolektif Kita

Jalan Asmaradana dan Kesadaran Kolektif Kita 30/08/2021 43 view Budaya Kataucapan.net

Barangkali kita harus membaca ulang Kuntowijoyo lewat cerpennya yang berjudul Jalan Asmaradana. Cerpen tersebut mendapatkan penghargaan cerpen terbaik Kompas tahun 2005. Dan hari-hari belakangan, kita menyadari bahwa cerpen tersebut memang sangat pantas karena apa-apa yang diceritakan ternyata masih relevan hingga saat ini.

Wajar saja, Kuntowijoyo selain sebagai cerpenis, juga adalah sosiolog. Ia bersumbangsih besar dengan mencetuskan Ilmu Sosial Profetik, yang sederhananya memandang bahwa ilmu sosial tak cukup jika hanya memahami dan menjelaskan realitas, tetapi juga harus mengemban tugas perubahan menuju kondisi yang ideal bagi masyarakat.

Kesadaran sosial profetik tersebut kental dalam cerpen-cerpennya, termasuk Jalan Asmaradana. Simpelnya, cerpen ini mengisahkan sudut pandang seorang Ketua RT yang tidak biasa-biasa saja. Ya, sang tokoh adalah Ketua RT dengan ijazah S3 universitas ternama di Amerika.

Kuntowijoyo menghadirkan ironi seorang Ketua RT yang kerap dianggap sebagai simbol belaka. Sang tokoh tentu tidak setuju dengan anggapan simbolik itu. Kutipan paling epik yang menegaskan pandangan sang tokoh: "Dia pasti tidak tahu bahwa pekerjaan Ketua RT itu jabatan paling konkret di dunia: mengurus PBB, semprotan DB, kerja bakti membersihkan selokan, menjenguk orang sakit, pidato manten, dan banyak lagi. Presiden bisa diam, Ketua RT tidak."

Pikiran kita akan melayang pada berita-berita yang berseliweran belakangan. Bantuan sosial untuk masyarakat justru ada yang dipotong oleh Ketua RT dengan berbagai alasan. Tak jarang pula persoalan-persoalan publik harus melewati Ketua RT atau aparat Desa lewat simbol berupa tanda tangan, yang sayangnya simbol ini memiliki harga-harga tertentu. Misalnya, ada provider internet kabel hendak masuk RT harus membayar atau bahkan mau mengurus SHM, dimintai persentase tertentu oleh Kepala Desa.

Secara akal sehat. kita merasa hal itu sangat tidak masuk akal. Sebab, seharusnya Ketua RT memiliki jarak yang sangat dekat dengan warganya. Satu rukun tetangga paling banyak terdiri dari 30 Kepala Keluarga untuk desa dan 50 Kepala Keluarga untuk kelurahan. Bayangkan, jika berkumpul, hanya ada 30 bapak-bapak yang seyogianya saling kenal satu sama lain. Jika posisi Ketua RT yang sedekat itu dengan masyarakat (karena lingkarannya yang terbatas) mampu berbuat hal yang menyeleweng, bagaimana dengan posisi-posisi yang semakin jauh dengan lingkaran yang lebih luas?

Nah, dalam konteks pandemi, peran Ketua RT yang disinggung Kuntowijoyo dalam cerpennya terbukti menjadi sangat penting. Sebab, Ketua RT-lah yang memegang data pertama warganya yang terkena Covid-19, yang tahu siapa-siapa saja yang tengah melakukan isolasi mandiri, dan sebagainya.

Ketika diletakkan bukan hanya sebagai simbol, apabila ketua RT benar-benar mengkhidmati tugasnya dengan baik, barangkali separuh masalah dari negeri ini selesai.

Tentu saja, ada berita-berita baik dari para Ketua RT yang benar-benar mengkhidmati tugasnya itu. Misalnya saja kisah Ketua RT yang mengetuk pintu demi pintu warga agar mau melakukan vaksin dan rela mendaftarkan warganya untuk vaksin. Terhadap mereka yang isoman, Ketua RT ini menyatukan warga untuk saling bantu memasok kebutuhan pokok saat isolasi mandiri. Cerita-cerita positif ini menyadarkan kita bahwa memang masih ada harapan terhadap kepemimpinan di dalam masyarakat kita.

Lalu sebenarnya kualifikasi apa yang kemudian dapat memastikan bahwa kepemimpinan itu benar-benar berjalan?

Lagi-lagi Kuntowijoyo memberikan ironi lain lewat latar belakang pendidikan tokohnya yang S3 tadi. Kasus pertama yang dihadapi sang tokoh adalah upaya mendamaikan dua warganya yaitu Pak Dwiyatmo dan Siad Tuasikal. Apakah Sang Ketua RT berhasil? Gagal ternyata. Seorang doktor ilmu politik lulusan luar negeri tidak mampu memahami dua manusia.

Pada saat itu, terlintas pidato mahasiwa asal Indonesia yang berkuliah di Ilmu Hukum Boston University, Abdul Gafur, yang viral beberapa waktu lalu. Gafur berkata kurang-lebih, dia pernah merasa bahwa segala sesuatu bisa dipelajari dari buku. Ternyata dia keliru. Buku hanyalah kertas. Video adalah tentang piksel dan cahaya. Sementara yang sesungguhnya ada adalah manusia, dengan segala pemikiran dan pengalaman yang nyata.

Dan Kuntowijoyo pun mengatakan dalam penutupnya, manusia selalu menjadi misteri bagi orang lain. Dan terhadap hal itu, kita selalu bodoh, amat sangat bodoh.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya