Jacques Rancière: Kesetaraan dan Demokrasi

Jacques Rancière: Kesetaraan dan Demokrasi 25/04/2021 84 view Politik biennaledemocrazia.it

Sabtu (10/4/2021) lalu, fraksi PKS DPR RI menyelenggarakan kegiatan mimbar demokrasi dan kebangsaan seri ketiga dengan tema “Melampaui Demokrasi Kita Hari ini”. Salah satu pembicaranya adalah Gubernur DKI, Anies Baswedan (wartaekonomi.co.id).

Pada kesempatan itu, pak Anies membicarakan soal demokrasi dan kesetaraan. Pak Anies beserta jajaran Pemprov DKI berjanji akan senantiasa berusaha keras agar iklim demokrasi tetap terjaga.Beliau mengatakan bahwa cara untuk merawat iklim demokrasi adalah dengan menyiapkan ruang publik yang setara.

Seperti apa ruang publik yang setara itu? Contoh yang diutarakannya adalah dengan pembangunan transportasi umum dan taman. Pembangunan ini diharapkannya dapat menumbuhkan perasaan setara bagi seluruh warga DKI Jakarta.

“Kita melihat transpotasi tidak sebagai alat pemindah badan, tetapi alat penumbuh kesetaraan. Tidak ada umum dan VIP. Semua mendapat fasilitas yang nyaman tanpa memandang latar belakang. Begitu juga pada taman, semua orang dengan strata ekonomi maupun sosial dapat berkumpul di sana tanpa ada sekat”, demikian kata-kata yang dikutip dari wartaekonomi.co.id.

Alasan yang diutarakan oleh pak Anies adalah fasilitas umum yang diadakan oleh pemprov DKI tidak memandang strata sosial dan latar belakang warga. Artinya, semua orang, tanpa kecuali –yang kaya, yang miskin, yang laki-laki, yang perempuan, yang bekerja, yang pengangguran, buruh, majikan, wisatawan, pengunjung, dan sebagainya– dapat menikmati fasilitas umum tersebut. Tiada satu pun warga yang dikecualikan untuk menikmati fasilitas yang ada.

Ihwal demokrasi dan kesetaraan yang diutarakan oleh pak Anies merupakan sesuatu yang terberi. Artinya demokrasi dan kesetaraan adalah milik dari yang memiliki wewenang atau kekuasaan, hal itu hanya muncul apabila memang ada inisiatif dari penguasa saja. Sedangkan rakyat sebagai yang dikuasai hanya bisa menunggu kapan inisiatif itu muncul, dan demokrasi serta kesetaraan itu bisa diberikan kepada mereka.

Dalam arti ini pula, dapat kita katakan, demokrasi dan kesetaraan sebenarnya tidak ada pada diri rakyat. Rakyat tidak memiliki demokrasi dan kesetaraan sehingga mereka tidak memiliki hak untuk berdemokrasi dan tidak memiliki kesetaraan dalam kehidupan bersama. Kendali demokrasi dan kesetaraan hanya ada pada sekelompok orang yang memiliki kekuasaan.

Sayang sekali, kebanyakan orang masih berpikir demikian adanya. Bahwa demokrasi dan kesetaraan adalah hal yang terberi dari atas kepada yang di bawah telah terpatri dalam benak orang-orang. Padahal, hal-hal demikian sudah ada dalam diri setiap orang. Dan di sini, penulis mencoba menjelaskannya dengan menggunakan pemikiran Jacques Rancière. 

Jacques Rancière, seorang pemikir Prancis yang akhir-akhir ini tengah naik daun dalam dunia akademik, akan membantu kita untuk menelisik makna sesungguhnya dari kesetaraan itu. Pemikiran Rancière tentang kesetaraan berbeda dengan para pemikir lainnya.

Orang kebanyakan berbicara tentang kesetaraan adalah tentang pemberian dari suatu institusi tertentu kepada pihak tertentu (Todd May, dalam Deranty, 2010:70). Contohnya bisa dilihat pada apa yang telah penulis sebutkan di atas. Terlihat bahwa kesetaraan model di atas hanya bisa dicapai apabila ada satu pihak yang memberi sesuatu kepada pihak lain. Kesetaraan hanya mungkin terjadi apabila ada inisiatif dari pihak yang lebih tinggi posisinya kepada pihak yang lebih rendah posisinya.

Sedangkan menurut Rancière, kesetaraan digambarkan dengan cara lain. Kesetaraan bukanlah sebuah pemberian dari pihak yang berkuasa kepada pihak yang dikuasai, melainkan kesetaraan itu sudah ada pada semua orang dan semua orang itu setara. Kesetaraan sudah ada dalam diri masing-masing orang.

Kesetaraan yang diserukan oleh Rancière merupakan titik tolak atau titik berangkat baginya untuk berbicara tentang demokrasi. Rancière berasumsi bahwa semua orang setara memberi jalan baru bagi orang-orang, khususnya mereka yang bukan bagian dalam bagian (Rancière menyebut mereka ini dengan istilah The Wrong), untuk berpolitik.

Dalam politik itu, mereka perlu berbicara bahwa mereka setara dengan yang lain yang ada dalam police. Politik menunjukkan kepada police dan kepada mereka yang ada, yang muncul, dan yang mendapat ruang dalam police, bahwa ada orang-orang yang selama ini hidup dan tinggal dalam police, namun mereka itu tidak terlihat, tidak terhitung. Dengan demikian, untuk membawa mereka ke permukaan police, mereka perlu berpolitik.

Tindakan politik hanya mungkin terjadi apabila orang bertolak dari kesadaran bahwa dirinya setara dengan yang lain. Rancière mengatakan bahwa politik merupakan instrumen atau cara mereka yang tak terlihat, tak terhitung untuk memverifikasi kesetaraan. Mereka bukannya tidak setara. Justru sebaliknya, mereka sudah setara.

Bersama Rancière, politik tidak melulu dilihat sebagai sebuah aktivitas mengurus negara, misalnya ikut Pemilu atau menjadi seorang anggota legislatif (sayang sekali, kebanyakan kita masih melihat politik sebatas itu). Politik dalam pemikiran Rancière dilihat sebagai suatu gerakan untuk memverifikasi kesetaraan, dan itu berarti, politik adalah gangguan atas tatanan yang ada. Maka, kata Rancière, esensi politik adalah disensus (Rancière, 2010:38).

Rancière menempatkan demokrasi sebagai politik itu sendiri. Dengan Rancière, demokrasi berpindah tangan menjadi milik the wrong. Rancière mengajak the wrong untuk bergerak dari kesetaraan, menggunakan demokrasi sebagai suatu tindakan politik untuk memunculkan diri dalam police yang dominan diisi oleh mereka yang terhitung dan yang terlihat.

Demokrasi Rancière berusaha melonggarkan rezim konsensus yang rupanya sesak dengan dominasi mayoritas. Sekaligus memutus rantai relasi yang di atas dan di bawah.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya