Isu Aborsi Artis Korea

Pegiat HAM
Isu Aborsi Artis Korea 25/10/2021 467 view Opini Mingguan Pxfuel

Hingga hari ini (Sabtu, 23 Oktober), jika kita mengetik kata "aborsi" pada mesin pencarian Google, nama aktor Korea, Kim Seon-Ho akan muncul pada berita teratas. Sedangkan kata "permintaan maaf" menempatkan berita tentang Kim Seon-Ho pada urutan ketiga.

Di Instagram, terdapat 421 ribu postingan dengan tagar #kimseonho sedangkan Twitter, satu jam terakhir terdapat 450 cuitan yang menyertakan tagar #kimseonho. Sangat jauh dibawah tagar dengan nama Kim seperti #kimtahyung 37M atau #kimnamjoon 29M. Tapi ini bukan tentang popularitas tagar melainkan berita yang baru-baru ini menghebohkan media sosial mengenai Kim Seon-Ho.

Aktor drama Korea "Hometown Cha Cha Cha" ini menjadi pembicaraan netizen karena gaslighting dan pemaksaan aborsi pada pacarnya (kini mantan). Kim Seon-Ho kemudian diberitakan mengakui kasus gaslighting dan aborsi yang melibatkan dirinya serta meminta maaf pada publik. Pengakuan tersebut diungkapkan Kim Seon-Ho pada Rabu (20/10), beberapa hari setelah kasus ini pertama kali menyebar pada Minggu (17/10).

Isu aborsi merupakan salah satu isu yang menjadi agenda gerakan feminisme di Korea. Perang gender telah berlangsung di Korea Selatan selama bertahun-tahun. Kelompok proaborsi kemudian mengedarkan petisi pada tahun 2007 dan berhasil menggalang lebih dari 235 ribu orang menandatangani petisi untuk melegalkan aborsi.

Petisi ini mendorong Mahkamah Konstitusi Korsel untuk mencabut larangan aborsi yang telah berlaku selama 66 tahun. Peraturan ini secara resmi bakal berlaku mulai 2020. Ditetapkan setelah tujuh dari sembilan hakim memutuskan bahwa pelarangan aborsi tidak konstitusional. Paktek ini legal pada Januari 2021.

Dalam kasus Kim Seon-Ho, aborsi yang dilakukan kekasihnya dapat dianggap legal menurut peraturan baru yang menyatakan bahwa kehamilan yang dapat diaborsi atau digugurkan adalah yang berusia kurang dari 20 minggu. Sehingga, besar kemungkinan Kim Seon-Ho dan mantan kekasihnya tidak akan terjerat hukuman.

Terlepas dari legal dan tidaknya, aborsi bukan hanya bicara mengenai hukum, namun juga nyawa bayi dan kondisi mental ibu. Kehamilan bagi pasangan yang mengharapkan anak berbeda dengan kehamilan yang tidak diinginkan. Saat mengetahui dirinya hamil, ada berbagai perasaan yang timbul dalam diri seorang perempuan, terkejut, bahagia, terharu, atau takjub. Namun, ada juga yang sedih dan ketakutan. Bagi kehamilan yang tidak diinginkan, rasa takut yang lebih menguasai.

Kehadiran janin dalam rahim perempuan bukan hanya karena tindakan satu pihak namun kedua belah pihak. Baik kehamilan itu diinginkan maupun tidak. Namun, perempuan menanggung lebih besar karena membawa janin tersebut dalam tubuhnya, dengan segala resiko selama sembilan bulan. Kondisi tubuh perempuan tidak sama dan akan terbawa terus hingga saat melahirkan.

Saat memutuskan aborsi, perempuan mengambil keputusan yang tidak mudah. Resiko yang harus dihadapi adalah nyawa janin dan nyawanya sendiri. Rasa sakit saat melahirkan dan aborsi juga bukan situasi yang nyaman. Terlebih bagi perempuan dengan fisik lemah, termasuk kondisi fisik dan mental pasca aborsi.

Ada rasa lega (bagi yang tidak menginginkan kehamilan). Lega karena masih hidup namun tetap ada rasa sedih, takut, dan yang terbesar adalah rasa bersalah, yang dapat mengendap hingga bertahun-tahun. Situasi ini pula yang harus dihadapi kekasih Kim Seon-Ho.

Pada kebanyakan kasus aborsi, perempuan dihadapkan pada situasi penghakiman. Dikeluarkan dari sekolah, dikucilkan, menerima amarah dari keluarga, mendapat stigma negatif dan yang terburuk adalah ditinggal kabur pasangannya hingga harus melahirkan, merawat, dan membesarkan anaknya sendirian.

Di banyak kasus, perempuan selaku orang tua tunggal yang minim akses ekonomi dapat terjerat hutang, membunuh bayinya, atau terjebak sebagai pekerja seks. Kekasih Seon-Ho mungkin tidak mengalami kesulitan ekonomi, namun tetap dapat bagian penghakiman terutama dari netizen. Sebagai artis, Seon-Ho tetap menyerap lebih banyak perhatian dan simpati dari para fansnya.

Seon-Ho bukan satu-satunya artis yang mendapat sorotan dalam kategori kasus kekerasan seksual. Selain aborsi, dalam kasus ini juga muncul istilah gaslighting. Istilah ini pertamakali digunakan oleh The New York Times dalam bentuk gerund umum, pada tahun 1995, dalam kolom Maureen Dowd.

Gaslighting adalah Colloquialism yang didefinisikan sebagai membuat seseorang mempertanyakan realitas mereka sendiri. Colloquialism atau bahasa sehari-hari adalah gaya bahasa yang digunakan untuk komunikasi biasa. Umumnya hanya mungkin terjadi dalam hubungan kekuasaan yang tidak setara, rentan, atau ketika salah satu pihak takut dan lemah narasinya.

Tindakan ini juga dilakukan oleh individu yang tidak dapat mentoleransi ketidaksetujuan atau kritik terhadap pandangan mereka tentang hal-hal dari individu penting dalam hidup mereka. Cara efektif untuk menetralisasi kemungkinan kritik adalah dengan meruntuhkan konsepsi orang lain tentang diri mereka sebagai lokus pemikiran, penilaian, dan tindakan yang otonom (Abramson, Kate (2014). 

Hubungan antara Kim Seon-Ho dan kekasihnya tidak setara karena status sosial yang berbeda. Hal tersebut terlihat dari pernyataan yang ditulis oleh kekasihnya. Dari berbagai berita mengenai artis Korea, tampaknya memang sorotan publik sangat berpengaruh pada karir mereka. Satu skandal kecil dapat menghancurkan semua kontrak iklan, film, atau variety show. Demikian pula dengan Seon-Ho yang harus kehilangan beberapa kontrak iklan dan film.

Simpati pada Seon-Ho tidak salah namun keliru jika hanya terpaku pada sosoknya. Seon-Ho memang sudah minta maaf ke publik dan mengakui perbuatannya namun itu dilakukan setelah kekasihnya membuka kasusnya di media, walau tidak terang-terangan menyebut namanya. Tindakan manipulasi yang dilakukan, baik secara langsung dengan menyebutkan jumlah kerugian material maupun secara tidak langsung dengan memutarbalikkan dorongan untuk aborsi, bukan tindakan yang perlu mendapat simpati.

Hubungan antara dua pihak yang tidak setara, siapapun itu, bukan hanya publik figur juga banyak terjadi. Gaslighting bisa dilakukan oleh siapapun dalam jenis hubungan ini, terlebih dalam masyarakat patriarki. Pada era digital, gaslighting dapat tersebar dengan cepat dan lebih luas. Kepiawaian dalam berbicara, bahasa tubuh, dan intonasi turut mempengaruhi. Jadi lebih bijak untuk bersikap jeli, membaca secara komprehensif, dan tidak menghakimi. Selalu ada berbagai sisi dalam sebuah peristiwa. Lihat dengan seksama, siapa tahu ada kejadian gaslighting di sebelah kita

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya