Ironi Tenaga Medis dan Kisah Pahlawan Pandemi Lainnya

Geschiedenisactivist
Ironi Tenaga Medis dan Kisah Pahlawan Pandemi Lainnya 06/04/2020 631 view Opini Mingguan pixabay.com

Perhatian dunia saat ini terpusat pada masalah wabah virus Corona atau Covid-19 yang sudah dinyatakan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan merenggut banyak korban jiwa.

Salah satu sorotan masyarakat adalah pada tenaga medis, yang bertugas memberi pelayanan menangani pasien yang terinfeksi virus Corona. Permasalahan yang dihadapi tenaga kesehatan di lapangan beragam. Namun yang paling sering mendapat sorotan adalah minimnya alat pelindung diri tenaga kesehatan saat bertugas ketika memeriksa pasien yang terjangkit Corona. Alat pelindung diri tersebut seperti baju hazmat, sarung tangan, dan masker N95.

Bahkan ada cerita miris, seorang tenaga medis di salah satu rumah sakit di Kalimantan memakai kembali baju hazmat yang telah dikenakan karena baju tersebut langka di pasaran dan harganya yang melambung.

Kelangkaan alat pelindung diri tidak saja terhadap baju hazmat, namun juga alat pelindung diri lainnya seperti masker. Ledakan permintaan akan barang-barang pencekal virus tampaknya melambungkan hasrat menimbun dan memperkaya diri bagi sebagian orang di negeri ini.

Di beberapa rumah sakit bahkan para tenaga medis terpaksa memakai jas hujan. Di tengah kondisi wabah Corona yang mencekam sebagaimana hari ini, alat pelindung diri itu selain mahal juga langka di pasar. Misalnya seperti yang dikenakan para tenaga medis di RSUD Sekarwangi, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, yang terpaksa mengenakan alat pelidung diri (APD) darurat dalam penanganan pasien terkait virus Corona. Para tenaga medis yang bekerja paling terdepan ini memakai jas hujan plastik untuk melindungi seluruh badannya dalam menangani pasien terkait Corona. Hal ini terjadi karena persediaan APD sudah tidak mencukupi dan tidak sebanding dengan pasien yang sedang ditangani (Kompas.com, 20/3/2020).

Kelangkaan APD bagi tenaga medis tentu saja membahayakan keselamatan mereka. Karena tanpa alat pelindung diri yang memadai bukan tidak mungkin mereka akan tertular virus Corona dari pasien yang mereka tangani. Sebagaimana yang terjadi di berbagai penjuru dunia hari ini, dimana ribuan pekerja medis tertular virus Corona.

Jumlah mereka yang meninggal akibat terjangkit virus itu juga bertambah setiap hari (Kompas.com, 02/04/2020). Kondisi ini sungguh menggiriskan karena mereka rela bekerja melebihi waktu kerjanya. Tidak sedikit pula tenaga medis yang harus bekerja 24 jam non stop bahkan lebih, demi menjaga kesehatan para pasien (Liputan6.com, 18/3/2020).

Pengorbanan para medis tak cukup sampai di situ, saat bekerja mereka juga harus bertahan dengan hawa panas saat menggunakan baju hazmat tersebut. Senyatanya permasalahan para tenaga medis sangatlah kompleks. Belum selesai dengan masalah keterbatasan APD, mereka juga dihadapkan pada stigma negatif di masyarakat karena merawat pasien Covid-19. Seorang tenaga medis yang merawat pasien Covid-19 harus terusir dari kontrakannya, setelah pemilik kost mengetahui penghuninya merawat pasien Corona di RSUD Banten (VIVAnews.com, 27/3/2020).

Ada pula kisah lainnya, satu di antara tenaga medis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan menceritakan diskriminasi yang dia alami karena bekerja di rumah sakit yang menangani pasien Covid-19. Ia menceritakan jika dirinya dikucilkan dan menjadi bahan pembicaraan tetangga karena merawat pasien Covid-19. Tetangganya khawatir karena ia bekerja di rumah sakit yang menangani pasien Covid-19 akan menularkan ke lingkungan tempat tinggal mereka. Hal semacam ini tentunya tidak baik terhadap mental dan psikis para tenaga medis. Apalagi setelah mereka disibukkan dengan aktivitas merawat pasien yang terinfeksi Covid-19, mereka tentu saja membutuhkan dukungan moril dan cinta dari masyarakat agar terus memiliki semangat bekerja dan menghentikan penularan virus Corona di negara ini.

Di samping dukungan dari kita semua terhadap para tenaga medis itu tentunya sangat diperlukan pula dukungan dan peran serta pemerintah. Dukungan pemerintah misalnya melalui penyediaan fasilitas yang memadai bagi tenaga kesehatan. Di samping itu, negara juga harus hadir memberikan pengertian kepada masyarakat supaya memberi dukungan dan tidak memberi stigma negatif terhadap tenaga medis yang merawat pasien Covid-19. Karena sejatinya mereka sudah berkontribusi besar untuk keberlangsungan umat manusia hari ini.

Akan tetapi, di tengah kisah getir yang mengelilingi tenaga medis sebagai garda terdepan memutus mata rantai Covid-19, ada secercah cahaya datang. Selalu ada orang baik yang muncul di tengah bencana walaupun perannya tidak terlalu menonjol di permukaan. Ada kisah seorang penulis novel yang menjual dua buah buku karyanya, lalu dari hasil penjualan buku tersebut ia peroleh uang untuk membuat baju hazmat dan diberikan gratis pada para medis di kota tempat tinggalnya.

Ada pula sekelompok anak muda yang menggalang dana, lalu dari hasil penggalangan dana tersebut mereka belikan sembako untuk diberikan pada warga miskin di sekitar tempat tinggalnya yang kehilangan mata pencarian akibat wabah virus Corona ini.

Ada pula sepasang suami isteri yang membuat masker dengan menjahitnya sendiri untuk diberikan secara gratis pada warga di sekitar tempat tinggalnya. Mereka yang melakukan hal-hal semacam ini tentu juga pantas kita berikan apresiasi sebagai pahlawan dalam memutus mata rantai pandemi. Karena dari hal-hal yang mereka lakukan menunjukkan bahwa masih ada orang-orang yang mau berbagi di kala yang lain banyak yang tidak peduli.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya