Iqbal, Islam dan Keresahannya

Iqbal, Islam dan Keresahannya 12/10/2022 78 view Agama islami.co

Muhammad Iqbal merupakan seorang humanis, filsuf, penyair, pembaru dan ahli politik dari Sialkot, India (sekarang Pakistan) abad ke-19 yang mashyur lewat karya-karya nya seperti Asrar-I-Khudi dan “ The Reconstruction of Religious Thought in Islam”(terjemahan Inggris dari bahasa aslinya).

Secara garis besar Iqbal mendasari pemikiran filsafatnya lewat kitab suci Al-Qur’an. Namun jangan mengira bahwa ia adalah sosok fundamentalis garis keras yang hanya memaknai ayat-ayat dalam kitab suci tersebut secara leterlek. Ia adalah sosok yang radikal dalam melawan penjajah (semasa ia hidup, Inggris menduduki negaranya) namun juga toleran dan sangat religius dalam satu waktu. Seorang humanis dari dunia timur yang resah dengan keadaan zaman. Ia berusaha membuka pandangan umat Islam atas ketertinggalan mereka dengan dunia barat, mencari cara untuk membangunkan mereka dari tidur panjang kemandegan intelektual. Mengajak mereka untuk bangun dan bangkit menghadapi alam semesta yang terus bergerak ini.

Frasa mengenai alam semesta diciptakan untuk sebuah tujuan, bahwa alam semesta tidak diciptakan untuk sekadar main-main, sudah umum diketahui. Namun ironisnya masih banyak di antara umat Islam yang tidak mengetahui esensi dari kalimat ini. Mengapa manusia dicipta? Mengapa justru manusia yang dengan segala kekurangannya malah mendapat amanah menjadi “khalifah” di muka bumi? Atau bila dikaitkan dengan masa sekarang (dan sebenarnya sudah berlangsung sejak lama) mengapa segala fenomena seperti matahari terbit, senja, pasang-surut air laut, malam dan siang, hembusan angin, bunga yang mekar dan mati, seolah tampak sebagai fenomena yang tak berharga lagi. Apakah karena sudah begitu sering terlihat ataukah karena hati dan akal ini yang kian hari kian tumpul dalam menangkap makna tersembunyi ayat-ayat kauniyahNya?

Manusia pada dasarnya terdiri dari actus dan potensia, Iqbal mengatakan bahwa setiap manusia diberi potensi oleh Tuhan untuk mewujudkan apa yang mereka cita-citakan. Ia juga menambahkan, bahwa jenis pengetahuan yang dimiliki manusia adalah pengetahuan yang bersifat konseptual (Ia mengutip dari Q.S 2: 30-33) dan lewat senjata pengetahuan konseptual inilah manusia berhubungan dengan kebenaran-kebenaran lain yang harus ia selidiki, seperti menyelidiki ayat-ayat kauniyah di atas. Apa-apa yang diselidiki manusia ini pada akhirnya akan bermuara dengan terciptanya keilmuan-keilmuna modern yang baru. Poin penting yang hendak disampaikan Iqbal di sini adalah bahwa Al-Qur’an hendak menyadarkan manusia agar mau menyelidiki. Actus, yakni beraksi atau berusaha dengan sebaik mungkin mewujudkan potensi-potensi yang telah diberi Tuhan padanya. Potensi terbesar tentulah terletak pada akal dan hati nurani.

Demikian, manusia dengan dua potensi besar yang dimilikinya tersebut seharusnya dapat survive dalam menghadapi lika-liku kehidupan dunia yang sifatnya selalu berubah. Tidak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri. Alam semesta tidak dicipta untuk menjadi statis, ia dinamis dan selalu berkembang. Manusia yang dapat melewati perubahan-perubahan yang ada di alam, kata Iqbal “hal demikian itu akan memperkaya, memperkuat dan mempertajam pikiran seseorang, muaranya adalah akan memudahkan seseorang memasuki segi-segi pengalaman manusia yang paling halus” (Iqbal: 44).

Hal yang sangat disayangkan oleh Iqbal adalah, adanya dikotomi keilmuan dan spiritual antara dunia Barat dan Timur. Barat yang sangat rasionalis dan positivistik, sedangkan Timur yang sangat mistik dan pantheistik. Kedua hal ini tidak ada yang unggul sama sekali, keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Bersikap mistik memang terlihat kuno dan tidak akan menimbulkan semacam kemajuan, apalagi ditambah dengan sikap pasrah-isme namun, umumnya bagi para pegiat mistik Islam yakni tasawwuf, di antara mereka banyak yang medapat semacam ketenagan batin. Sebaliknya, naturalisme postivistik dan sifat rasional di Barat juga tidak selamanya mendatangkan kemajuan apalagi ketenangan. “Berlebihan” dalam bersikap rasionalis justru akan menghasilkan ide-ide yang tidak produktif serta membingungkan. Iqbal mengharapkan adanya pengertian atas dua pihak yang saling bertentangan ini, mengapa tidak mencoba mengambil hal-hal baiknya saja, dan mengintegrasikan dikotomi dua dunia?

Umat Islam sejak kejatuhan di Baghdad pada abad 13, telah mengalami tidur yang amat panjang. Iqbal menuliskan dalam karya fenomenalnya yang berjudul “ The Reconstruction of Religious Thought in Islam”, bahwa cara manusia dalam menggapai pengetahuan setidaknya melalui dua media yakni secara fisiologi dan secara psikologi. Fisiologi, mudahnya adalah pengetahuan melalui cerapan indera. Sedangkan psikologi adalah pengetahuan yang diperoleh melalui sarana jiwa, seperti pengalaman religius, umumnya juga diidentikan dengan sifatnya yang mistik.

Sejauh ini mungkin tidak ada masalah, manusia dengan kecerdasan lewat pengetahuan konspetualnya diberi kebebasan untuk memilih media apa yang akan digunakannya dalam menggapai atau menyelidiki fenomena-fenomena di alam secara lebih lanjut. Tetapi masalah yang dihadapi saat ini adalah, adanya ketidakseimbangan dalam penggunaan dua media tadi juga ketidak-kongruenan antara media yang digunakan dengan kenyataannya.

Sekelompok orang beranggapan bahwa pengetahuan lewat fisiologi lebih unggul dan valid daripada sekadar pengalaman religius. Yang lainnya beranggapan bahwa pengalaman religius sifatnya lebih suci. Iqbal menyayangkan sikap dikotomi kedua hal ini. Dalam sebuah prolog, Syaifi’i Ma’arif menuliskan betapa Iqbal sangat mengharapkan terwujudnya sikap saling pengertian antara dunia Barat dan Timur.

Terutama untuk umat Islam, bila ingin bangkit kembali, maka mulailah semuanya dari dalam diri, Iqbal menyebutnya sebagai Khudi atau Ego. Islam adalah ajaran yang sempurna, Al-Qur’an telah secara jelas menyampaikan tentang adanya perubahan-perubahan di alam, artinya manusia sudah sepatutnya menggunakan potensi yang ia miliki untuk menghadapi perubahan itu. Suatu peradaban yang tahan “banting” bagi Iqbal, adalah di mana para manusianya menunjukkan sikap penghargaan dan pengawasan atas perubahan. Bukan hanya sekadar berteori.

Namun demikian, betapapun Iqbal berusaha menuliskan keresahan-keresahannya ini lewat buku dan puisi-puisinya, hal ini tidak akan terwujud bila objek sasaranya yakni individu itu sendiri, tidak berusaha untuk bangkit dan memulai perubahan. Apa yang dialami Iqbal sebagai seorang pemikir, bukanlah lagi dalam fase meng-interpretasikan suatu pemikiran, namun ia sudah dalam tahap mengubah, bahkan merekonstruksi suatu pemikiran.

Manusia menurutnya tidak bisa hanya bergantung pada satu aspek sumber atau media pengetahuan saja. Antara nalar dan hati haruslah sejalan. Sebuah produk pemikiran bila hanya berlandaskan pada akal, maka akan menciptakan banyak sekularisme baru. Sebaliknya, pengetahuan yang hanya didapat lewat perasaan justru akan menciptakan kemandegan dan nihilnya dinamika intelektual apalagi penemuan-penemuan baru.

Menyadur pendapat Iqbal di atas, bila dikaitkan dengan masalah manusia modern saat ini, khususnya umat Islam yang sedang mengalami stagnansi inteletual (bila dibandingkan dengan zaman para pemikirnya terdahulu) maka diperlukan sebuah perombakan atas pemikiran tentang agama (Islam), agar dimungkinkan terciptanya keseimbangan dalam pola berpikir bahwa agama (Islam) bukan hanya untuk sebagian manusia, namun ia merupakan rahmatan lil a’lamin. Dengan demikian adalah tugas kita sebagai pelakunya untuk meyebarkanluaskan rahmat itu. Karena pada hakikatnya, manusia sudah dibentuk oleh alam. Sifat alam yang dinamis dan berubah-ubah “memaksa” manusia untuk menggunakan nalar dan hatinya semaksimal mungkin. Hal demikian akan membawanya menuju keumungkinan-kemungkinan atau pengetahuan-pengetahuan baru yang akan menunjangnya menyongsong kehidupan jauh ke depan. Semacam sebuah teknik untuk survive, yang sebenarnya sudah diinformasikan oleh Al-Qur’an sedemikian rupa, ironisnya mayoritas muslim hannya menjadikan kitab suci itu sebagai pajangan semata.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya