Investasi Bohong di Tengah Pandemi

Noob writer
Investasi Bohong di Tengah Pandemi 01/11/2020 1285 view Lainnya dokumentasi pribadi

Akhir pekan lalu seorang karib yang lama tidak berkomunikasi menghubungi saya perihal investasi yang baru-baru ini diikutinya. Cukup terkejut sebetulnya ketika ia mengatakan di saat pandemi seperti ini ternyata ada investasi yang justru mampu menghasilkan untung. Memang ada beberapa jenis usaha yang justru meraup untung tinggi di tengah pandemi tetapi biasanya bidang industri tersebut adalah perusahaan yang memiliki modal besar semacam perusahaan telekomunikasi dan farmasi. Sementara saya dan sebagian besar penduduk dunia terimbas negatif ekonominya. Jangankan untung, sekadar bertahan hidup dan tidak menjadi gila agaknya menjadi suatu pencapaian.

Meskipun sudah lama tidak berjumpa lagi, sesekali, terutama ketika hari raya tiba, kami bertegur sapa dan saling mengucapkan selamat hari raya. Pernah pada suatu hari tidak sengaja bertemu di sebuah rumah makan. Sontak keharuan dan keakraban muncul dari senyuman diantara kami. Tentu saja kami saling berpesan untuk senantiasa bahagia, mendoakan kesehatan, dan menyempatkan bertemu suatu hari kelak.

Saya diajak bertemu untuk membahas investasi tersebut. Pertama-tama saya cuma menebak-nebak saja kira-kira apa yang hendak ditawarkan. Sebagai seseorang yang tengah memasuki usia setengah baya, saya membayangkan penawaran usaha pemasaran berjenjang/multi-level marketing (MLM) yang ramai dari era saya kanak-kanak dan tetap eksis hingga kini.

Ternyata benar undangan tersebut adalah untuk menghadiri acara rutin pemaparan investasi yang pesertanya merupakan investor maupun calon investor MLM tersebut. Acara pemaparan dan penguatan semangat ini merupakan acara khas MLM, karena cara yang paling efektif dan efisien untuk berhasil adalah melalui suatu komunitas yang solid.

Usaha pemasaran berjenjang sendiri bukanlah suatu usaha yang tercela, namun memang bukan sesuatu yang istimewa. Skema ini dipakai oleh beberapa perusahaan sebagai strategi memasarkan dan menjual produk barang atau jasa mereka. Namun sejarah mencatat jatuh bangun usaha dengan skema seperti ini. Suatu produk tiba-tiba digandrungi, jadi pembicaraan dimana-mana, dipakai oleh orang-orang di sekitar kita, bahkan dipromosikan oleh pesohor. Namun kemudian, hangat-hangat tahi ayam, tren tersebut seperti menguap saja dan berhenti keriuhannya.

Begitu banyak cerita tentang kegagalan dari berpartisipasi dalam skema pemasaran ini. Herannya, masih banyak saja yang tertarik. Bahkan mungkin sesekali kita dapat menemukan orang yang "Berpengalaman" gagal dalam bermacam MLM. Produk wadah plastik, sandang, makanan/minuman atau suplemen diet, perhiasan logam/batu yang diyakini punya khasiat kesehatan, air mineral, asuransi, bahkan alat kecantikan tidak luput menjadi strategi pilihan perusahaan menggunakan MLM.

Yang sangat memprihatinkan adalah dengan beberapa kegagalan yang pernah dirasakan, justru tidak mengurangi kewaspadaan di masa berikutnya, sehingga terjadilah kegagalan demi kegagalan. Yang berbeda hanya produknya. Mengapa terjadi demikian?

Yang saya perhatikan adalah sangat sulit untuk tidak tergoda atau sulit untuk menolak ajakan usaha semacam ini. Satu hal yang paling umum adalah karena pendekatannya sangat personal. Para pemasar biasanya menyasar orang-orang yang secara personal dekat. Kakak, adik, ayah, ibu, paman, keponakan, sahabat, tetangga, dan seterusnya. Terlepas dari kecil atau besarnya keuntungan, manfaat ekonomi akan diusahakan sebesar-besarnya untuk orang-orang terdekat. Jadi, kalau seseorang berhasil, maka inginnya pasangannya juga berhasil, atau anaknya, atau adik/kakaknya.

Dalam sedikit kasus, suatu produk tersebut diyakini mampu menyelamatkan keadaan seseorang. Diselamatkan ekonominya, kesehatannya, atau bahkan diselamatkan nyawanya. Saya katakan sebagai "dalam sedikit kasus" karena memang hanya segelintir saja yang diselamatkan secara dramatis. Kesaksian orang yang diselamatkan inilah yang menjadi energi dari pemasaran, sedangkan orang-orang yang tidak mendapat manfaat secara signifikan (yang sesungguhnya mendominasi populasi) seolah senyap saja, ibarat arus laut yang tidak terlihat, tidak terdengar, sedangkan ombak riuh rendah di pantai.

Yang paling diuntungkan biasanya adalah para pemasar perintis, yang memulai usaha lebih dahulu. Mimpi sukses besar, mampu membiayai pelesiran ke luar negeri, gaya hidup mewah, penghasilan di luar batas nalar seolah membius para investor/pemasar pemula. Ketika kemudian tidak mendapat manfaat secara signifikan berbulan-bulan, kesabaran akhirnya luntur lalu kemudian mundur teratur diam-diam. Karena gagal adalah aib.

Kalau gagal meskipun berusaha sesungguhnya suatu hal yang wajar karena tidak semua orang cocok menjadi pemasar atau investor. Kalau gagal karena skema penipuan? Inilah yang celaka. Kembali, gagal dalam berinvestasi meskipun karena penipuan adalah suatu aib bagi seseorang, sehingga cenderung ditutupi. Bukan hanya sekali atau dua kali mendengar sebuah koperasi atau lembaga keuangan non-formal dilaporkan ke kepolisian, dituntut oleh anggotanya karena usahanya sebetulnya penipuan saja. Nasib menjadi korban di negeri ini: sudah menjadi korban, harus menanggung aib.

Sebetulnya beberapa hal perlu dilakukan oleh calon investor/pemasar sebelum terjun masuk berkecimpung di sistim MLM, yakni sikap kritis dan berhati-hati. Bersikap kritis dan berhati-hati ini sesungguhnya yang pertama-tama runtuh mengingat yang memperkenalkan kita pada usaha ini biasanya orang yang dekat dengan kita.

Selain orang yang dekat dengan kita, pertemuan yang dilakukan secara berkala akan membangkitkan euforia para pesertanya yang tergabung dalam satu komunitas atau kelompok sehingga, lagi-lagi, nalar serta sikap kritis teggelam. Sebetulnya, dorongan mental semacam inilah yang rawan membuat seseorang terlena lalu terjerumus lebih dalam sembari terus mengajak orang-orang baru untuk bergabung, kemudian rantai siklus berlanjut hingga suatu saat lelah dan berhenti.

Setelah bersikap kritis dan berhati-hati, yang perlu diperhatikan adalah kredibilitas dari perusahaan termasuk didalamnya kelengkapan administrasi/legalitas perusahaan. Memperhatikan kredibilitas suatu perusahaan di zaman sekarang sebetulnya relatif mudah karena sistem informasi sudah saling terhubung sehingga jauh lebih mudah mengecek ke sumber-sumber yang resmi. Untuk meneguhkan kredibilitas juga bisa dengan memanfaatkan media sosial yang berkembang saat ini karena informasi yang didapat bisa jadi melengkapi sehingga kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh, sejarah perkembangan, keberhasilan bahkan kegagalan di masa lalu.

Kemudian yang paling penting dan yang paling menuntut sumber daya adalah mengerti akan cara kerja usaha serta apapun yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan usaha. Tahap yang paling krusial ini menuntut perhatian dan ketenangan. Belajar sesuatu yang baru bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi bidang pemasaran maupun investasi bukanlah keahlian masyarakat umum seperti anda dan saya. Saya biasanya mempelajari sesuatu melalui konsultasi dengan orang yang lebih mengerti dan tidak terkait dengan perusahaan tempat usaha ini agar memperoleh pendapat yang tidak memihak.

Saya adalah salah satu jenis orang yang selalu ingin mempelajari dan mempertimbangkan banyak aspek sebelum membuat keputusan. Jenis orang semacam saya relatif lebih lambat dalam mengambil keputusan, namun keputusan yang dipilih bisa dikerjakan dengan percaya diri. Saya rasa, itulah kelebihan dan kekurangan dari model kebiasaan dalam mengambil keputusan yang sampai saat ini menyelamatkan saya dalam banyak hal.

Setelah melalui bermacam tahap di atas: bersikap kritis dan hati-hati, menggali informasi sebanyak mungkin, membandingkan data-data, uji silang informasi, saya berkesimpulan bisnis atau usaha yang coba ditawarkan kepada saya terindikasi investasi bohong/fiktif. Saya sebutkan sebagai "terindikasi" karena kurang tepat rasanya menghakimi sesuatu yang bukan dalam kuasa saya untuk memutuskan, juga mengantisipasi kemungkinan saya salah.

Ada kelegaan pada saat saya akhirnya berkesimpulan karena saya merasa telah melakukan sesuatu dengan pertimbangan dan berhati-hati. Di sisi lain, ada rasa tidak tenang mengingat karib saya yang mengundang saya umtuk ikut dalam usaha ini telah menggelontorkan uang yang sangat banyak. Lalu terngiang juga orang-orang yang saya temui bercerita ia menggunakan hartanya yang tersisa untuk usaha ini padahal sudah beberapa bulan ini tidak bisa bekerja.

Kini, saya sungguh-sungguh berharap bahwa penilaian saya salah. Jika penilaian saya salah, saya tidak dirugikan serta tidak diutungkan. Juga jika penilaian saya salah, maka orang-orang yang ikut dalam pemasaran berjenjang ini semoga mendapat keuntungan yang besar.

Alangkah jahat pihak yang mencari untung dengan memperdaya orang lain.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya