Intensionalitas Kelas dan Represi Kapitalisme atas Cogitatum

Founder Ruangan Filsafat
Intensionalitas Kelas dan Represi Kapitalisme atas Cogitatum 09/09/2022 762 view Lainnya purplemonochrom.wordpress.com

Cogito Ergo Sum” yang berarti “aku berpikir maka aku ada”. Dengan makna tersebut perlu kita perhatikan bahwa untuk memastikan suatu keberadaan dari diri kita memiliki suatu tingkat kesadaran tertentu untuk memberikan interpretasi di dalam pemikiran kita atas segala yang dibutuhkan untuk menyusun dan mendukung keberadaan kita.

Pengandaian tersebut di atas memerlukan beberapa syarat dari kita sebagi subjek yang menyadari dan materi sebagai objek yang kita sadari. Tindakan ini saling berkorelasi untuk membentuk suatu gagasan yang tidak dapat disangkal. Ini merupakan gagasan yang dihasilkan oleh Rene Descartes yang memberikan suatu gambaran singkat atas keberadaan yang sedang menyadari keberadaannya. Namun, setiap kesadaran yang kita miliki mempunyai suatu batasan yang dapat dikendalikan oleh manusia itu sendiri. Batasan ini membentuk suatu tingkat kesadaran yang dinamis bagi dirinya sendiri, sehingga ia dengan optimal dapat menggerakan atau menyadari segala sesuatu berdasarkan sudut pandang yang telah ia identifikasi.

Ketertindasan yang belum disadari sebagai suatu bentuk dari tindakan menyadari yang terhambat atau sengaja untuk dihambat agar suatu entitas tidak terganggu dengan tindakan perlawanan yang diberikan oleh pihak tertindas. Ketertindasan telah menjadi salah satu infrastruktur yang membawa manusia kepada perubahan peradaban. Ia merupakan suatu tindakan yang tidak mutlak terjadi, namun ia bisa dipicu oleh tindakan untuk mencapai suatu tujuan yang terbatas.

Permasalahan yang timbul disebabkan adanya suatu upaya pemenuhan kebutuhan yang tidak terbatas, sehingga manusia mencari cara yang paling cepat dan efektif untuk melakukan produksi. Cogitatum sebagai apa yang disadari, memainkan peran yang optimal dalam diri manusia untuk membantu dalam tindakan menyadari objek-objek di luar dirinya. Namun, kegiatan manusia yang sering kali membawa suatu perubahan mendadak dan mengancam keberlangsungan hidupnya dapat menimbulkan permasalahan yang tidak dapat terselesaikan hanya dengan melakukan suatu tindakan pengabaian.

Tindakan pengabaian yang terjadi menyebabkan penumpukan masalah sosial-ekonomi-lingkungan yang perlahan akan menjadi katastrofi atau bencana yang tidak dapat dihindari lagi. Dapat kita lihat dalam perang dunia ke-2 bahwa terdapat persaingan ideologis yang menyebabkan pergesekan jutaan manusia dan menimbulkan kerugian yang luar biasa besar di alam semesta.

Permasalahan yang timbul melibatkan adanya upaya dari perbudakan dan penindasan terhadap para tahanan perang dan kelompok masyarakat yang hanya memiliki fisik sebagai daya agar ia dapat menghasilkan suatu pendapatan. Ketertindasan ini hanya disadari bagi seseorang yang telah berhasil mengidentifikasi bagaimana suatu pola yang membentuk ketertindasan itu. Perekonomian yang merupakan hasil dari kegiatan manusia yang ingin memenuhi kebutuhannya banyak menyebabkan kesenjangan sosial. Dalam sistem kelas yang sudah kita ketahui melalui gagasan Karl Marx, pembagian antara kaum borjuis dan kaum proletar.

Cogitatum Individual

Cogitatum atau apa yang disadari memiliki cakupan yang luas dan ia tidak terbatas pada konsep material. Ia merupakan upaya manusia untuk melakukan interpretasi di dalam pikirannya agar ia dapat membayangkan suatu materi meskipun ia tidak eksis di hadapannya. Sehingga manusia pada dasarnya dapat melakukan tindakan Cogito Cogitatum, aku menyadari sesuatu yang disadari. Bahwa ia tidak terlepas atas konsep relasi yang berhubungan erat antara subjek dan objek. Namun, untuk melakukan penyederhanaan kita perlu untuk memfokuskan pemikiran dan kesadaran kepada apa yang disadari secara individual dan tidak terikat pada objek lainnya yang disadari. Misalnya, aku menyadari keberadaan gunting yang tersandar di lakban. Dengan memperhatikan ilustrasi di atas kita telah memasuki suatu dualitas dari Cogitatum dan hal ini dapat membentuk oposisi biner, ia memuat gunting dan lakban sebagai objek yang disadari dalam pikiran.

Kedua objek tersebut memiliki fungsi yang berlawanan gunting (untuk memotong) dan lakban (untuk memperbaiki/menghubungkan). Ia memuat perbedaan yang cukup mendasar, namun ia merupakan suatu kesamaan dalam segi utilitas yang digunakan oleh manusia. Keterbagian pemikiran tersebut menyebabkan adanya informasi yang tidak jelas untuk kita identifikasi secara bersamaan. Sehingga ktia memerlukan sedikit waktu untuk menyadari adanya keberadaan yang satu dan yang lainnya agar ia dapat membentuk suatu kesadaran menyeluruh. Dengan melakukan identifikasi pada apa yang disadari secara tunggal, ia berupaya untuk memahami lebih detail struktur yang terbentuk dalam suatu realitas sehingga setiap informasi yang diperoleh tidak bersifat implisit.

Pemahaman secara individual atas suatu fenomena yang tidak terikat pada beberapa fenomena lainnya dapat memberikan manusia pemahaman yang lebih mendalam dan membuat identifikasi yang baik agar dapat memahami lebih lanjut dampak dari suatu realitas yang ada. Ketertindasan yang terjadi harus dipahami sebagai suatu keutuhan dari ketertindasan itu dan ia tidak dapat dikaitkan dengan adanya unsur pembelaan untuk ketertindasan tersebut. Misalnya, upah rendah yang diberikan kepada para pekerja memiliki tujuan agar perusahaan dapat melakukan efisiensi biaya dan melakukan distribusi dana ke bidang lainnya. Apabila kita melihat kaitan ini secara bersamaan, maka akan timbul bantahan bagi pihak yang menindas sebagai pembelaan diri dan pihak yang tertindas hanya akan dilupakan sebab mereka tidak memiliki daya yang optimal untuk melakukan identifikasi dirinya sendiri sebagai manusia yang tidak boleh ditindas. Ketertindasan harus dipahami secara utuh sebagai suatu ketertindasan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Ia memiliki relasi khusus pada perkembangan perekonomian, sistem kapitalisme menyebabkan siapa saja menjadi objek untuk ditindas sehingga intensionalitas kelas sangat diperlukan.

Pelaku Represi

Homo Homini Lupus, manusia merupakan serigala bagi manusia lainnya. Tindakan yang melanggengkan ketertindasan merupakan hal yang sudah sering kita temui dalam realitas sosial. Ketertindasan bukan hanya perilaku yang timbul sebagai dampak dari adanya kepentingan ekonomi, namun dapat timbul dengan latar belakang yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Para penindas ini kemudian berupaya menjadikan ketertindasan sebagai alat kontrol sosial agar yang tertindas tidak memiliki kemampuan mutlak untuk melawan dan menyadari dirinya sebagai kelompok yang berdaya. Tindakan ini berfokus pada keberlangsungan siklus yang harus dijaga agar manfaat yang dihasilkan bertahan lebih lama dan memberikan kepastian pada pelaksanaannya. Dengan ketertindasan tersebut, korban tidak akan menyadari bahwa dengan melakukan identifikasi yang kritis ia akan berhasil melakukan perlawanan agar terbebas dari tekanan yang tidak mereka inginkan. Pelaku represi ketertindasan agar tidak disadari mengambil beberapa poin khusus yang dapat mempengaruhi kelompok yang ditindas. Ia akan membentuk pola pikir dan melakukan pembatasan pada tindakan eksplorasi intelektual sehingga kesadaran yang terbentuk tidak sempurna, ia menciptakan ketergantungan atas keuntungan yang diberikan kepada kelompok tertindas.

Keuntungan tersebut tidak memberikan dampak baik secara menyeluruh kepada kelompok atau entitas yang tertindas. Ia hanya memberikan keuntungan kepada objek yang tertindas agar ia dapat melanjutkan kehidupannya sehingga objek yang tertindas tidak mati dan keberlangsungan dari siklus penindasan akan terus berjalan. Para pelaku hanya membentuk siklus yang sama yaitu: Kebutuhan – Pembiayaan – Ketergantungan – Kebutuhan. Sehingga akan terus mengacu pada pola yang sama dan objek tidak sempat menyadari dirinya sedang dalam siklus penindasan.

Keterbatasan Konseptual Cogitatum.

Perlu kita ketahui bahwa apa yang disadari merupakan suatu konsep yang melekat pada diri manusia selama ia mengusahakan dirinya untuk melakukan proses menyadari. Namun, apa yang disadari hanya akan menjadi sesuatu yang disadari ketika suatu pengalaman dan realitas tersebut merupakan sesuatu yang dialami secara langsung dan ia tidak dapat disadari apabila tidak menyandarkan suatu pemahaman tanpa adanya suatu pengalaman dan observasi. Pengalaman yang terbentuk dan analisis yang mendukung adanya suatu realitas atas kesadaran mendukung agar manusia lebih mudah dalam menyadari adanya fenomena. Sehingga kesadaran perlu didasarkan oleh suatu pengalaman-pengalaman yang terdefiniskan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya