Intaian Kapitalisme Bencana di Balik Lockdown

Esais
Intaian Kapitalisme Bencana di Balik Lockdown 23/03/2020 742 view Opini Mingguan pixabay.com

Pandemi covid-19 makin mencekam; kondisi di Indonesia pun kian membikin bulu kuduk berdiri. Per 21 Maret 2020 pukul 17.00 WIB, dari 450 pasien yang positif, rasio kesembuhan pasien covid-19 di Indonesia untuk sementara baru 4,4 persen atau hanya 20 kasus. Sementara korban jiwa sejauh ini telah mencapai 38 orang, menjadikan Indonesia zona termerah covid-19 se-ASEAN.

Sebagian publik mendesak pemerintah Indonesia untuk menerapkan kebijakan full lockdown atau karantina total. Ini langkah yang sangat besar dan sarat akan dampak, jika jadi ditempuh. Namun setidaknya, strategi ini telah terbukti berhasil untuk menurunkan tingkat pertumbuhan penderita covid-19 di Tiongkok. Begitulah kesimpulan analisis komparasi kasus covid-19 sebelum dan sesudah implementasi kebijakan lockdown dari penelitian Hien Lau dan kawan-kawan yang segera dipublikasikan di Journal of Travel Medicine dalam waktu dekat.

Walau karantina total bakal mampu meredam penetrasi covid-19, besar kans ini bukanlah opsi favorit pemerintah kita. Sebab, selain melumpuhkan sendi-sendi kehidupan warga, sektor ekonomi bisa meradang hebat. Seperti kita ketahui bersama, sebelum disibukkan oleh aktivitas penanganan pasien covid-19 dan penekanan penyebaran seperti sekarang saja, Presiden Joko Widodo lebih memilih untuk memberikan insentif pariwisata dalam rangka merespons virus corona jenis baru ini yang kala itu mulai mengglobal.

Namun, tidak ada yang tidak mungkin. Meski konsekuensinya sangat besar, karantina total bisa saja bakal diimplementasikan. Apabila pemerintah kita jadi memilih untuk mengambil langkah ini – tentunya dengan memahami betul segala konsekuensinya tanpa ada pembelaan “belum memeriksa dokumen yang ditandatangani” atau “salah ketik” jika nanti disenggol oleh masyarakat, rasa-rasanya perlulah pula negara untuk memelihara warganya agar tidak sampai diperangkap oleh aktor kapitalisme bencana.

Disaster Capitalism says “Hi!”

Dalam The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism (2007), Naomi Klein mengejawantahkan bagaimana bencana dapat mengakselerasi kapitalisme. Dari analisisnya terhadap kasus-kasus di sejumlah negara, proses ini terdiri dari dua tahap: “kejutan” – yang berasal dari bencana alam, peperangan, maupun krisis lainnya baik yang didesain oleh pihak tertentu atau tidak, dan “solusi”.

Nah, tahap buntut inilah yang dikarakterisasi sebagai kapitalisme bencana (disaster capitalism), ditandai dengan adanya “solusi” pasar bebas dari perusahaan atau pihak swasta yang berorientasi untuk meraup keuntungan dari krisis skala besar. Visi itu sendiri ditempuh dengan mengeksploitasi sekaligus memperburuk kesenjangan yang ada.

Alurnya lebih kurang seperti ini. Tahap “kejutan” bakal menghasilkan rasa takut dan ketidakteraturan di tengah masyarakat. Saat krisis, keduanya ini memang bak bara di tumpukan sekam. Kalau dipelihara, bara itu bakal cukup untuk melumat habis seluruh sekam.

Tentunya di saat krisis seperti pandemi covid-19 ini, insting naluriah masyarakat secara umum, termasuk para penyintas, adalah menyelamatkan dirinya. Seringkali, hal itu ditempuh dengan mengorbankan pelbagai cara, termasuk mengorbankan uang yang ada di kantongnya.

Klop. Para aktor kapitalisme bencana akan terbuka lebar menyambut kita. Mengingat ekosistem pasar bebas terpelihara di pelbagai tempat termasuk di Indonesia, maka aktivitas para aktor itu pun akan dianggap normal-normal saja.

Contoh tergampangnya sudah bisa kita rasakan bersama-sama. Ketika anjuran untuk mengenakan masker bagi yang kondisi tubuhnya sedang tidak fit dan meningkatkan higienitas sebagai langkah proteksi diri ramai-ramai digaungkan, yang didapat masyarakat justru kelangkaan masker dan hand sanitizer. Kalaupun tersedia, harganya pun sering kali sudah dipermak oleh pihak tertentu.

Ini pula yang saya khawatirkan dari dampak “pesan kejut” Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kepada masyarakat dengan membatasi mobilisasi transportasi publik, Senin 16 Maret 2020. Hari itu, para penumpang menumpuk dan terlantar di halte-halte TransJakarta juga stasiun-stasiun MRT dan LRT. Alhasil secara psikologis – yang juga selaras dengan tujuan gubernur seperti disampaikan dalam rapat teknis percepatan penanganan covid-19 (16/3/2020), publik akan menyadari bahwa dirinya berada dalam posisi darurat.

Dari sini, masyarakat ibu kota pun mulai melakukan mekanisme penyelamatan diri. Hasilnya sudah terlihat, walau sifat datanya masih terbatas. Penjualan mobil bekas di Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua terpantau naik sekitar 10 hingga 20 persen sebagai upaya memproteksi kebutuhan mobilisasi diri. Rerata penjualan bulanan di sana yang sekitar 2.000 unit pun diprediksi akan naik menjadi 2.200 unit pada bulan Maret ini (Kumparan.com, 19/3/2020).

Apabila permintaan makin tinggi, bukan tidak mungkin banderol mobil bekas tereskalasi, mengingat status darurat bencana covid-19 yang diberlakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bertambah lama hingga 29 Mei mendatang.

Inilah yang perlu diwaspadai betul andaikata Presiden Joko Widodo beserta para jajarannya yang merupakan pakar pelbagai bidang memilih langkah karantina total untuk negeri ini. Dengan karantina total, maka otomatis posisi masyarakat menjadi sangat lemah karena beragam pembatasan. Praktis, mayoritas masyarakat sangat bergantung pada mereka yang punya power lebih untuk bertahan hidup. Jangan sampai mendorong kami lepas dari serangan covid-19, tapi membiarkan kami tercincang di dalam mulut aktor kapitalisme bencana.

Soal power lebih ini, ternyata inisiatornya tidak harus dari pihak berkekuatan kapital super. Ambil contoh kecil di Spanyol sebagai gambaran. Full lockdown yang diberlakukan pemerintah setempat untuk menekan penyebaran covid-19 sedikit banyak membuat 46 juta jiwa di sana tersiksa, karena hanya bisa keluar rumah untuk urusan yang sangat mendesak seperti membeli makanan dan obat-obatan. Kalau tidak, mereka bisa dikenai denda hingga €600.000.

Namun menariknya, pemerintah Negeri Matador itu masih mempersilakan warganya untuk mengajak hewan peliharaan keluar rumah selama tetap menjaga jarak dengan warga lainnya. Walau terdengar seperti lelucon, ternyata ada juga orang yang berinisiatif menawarkan jasa sewa anjing untuk diajak jalan-jalan sebesar €25 saja, seperti dilaporkan TheOlivePress.es (17/3/2020).

Ah, benar juga kata Klein tentang perbedaan karakter orang saat menghadapi bencana. Kalau orang-orang biasa menimbun persediaan makanan, para Friedmanites – pengikut Milton Friedman, ekonom yang mencetuskan shock doctrine – justru mempersiapkan ide bisnis pasar bebas untuk diaplikasikan nanti.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya