Indonesia Mati di Lumbung Padi

Mahasiswa Terujung
Indonesia Mati di Lumbung Padi 26/03/2020 1737 view Ekonomi Inilah.com

Indonesia adalah representasi nyata dari idiom yang menyatakan bahwa “Tidak semua negeri yang kaya raya hidup bahagia”. Karena kesusahan, kemiskinan, penindasan, dan luntang-lantang demi sesuap nasi adalah pemandangan yang lumrah dan akan sering kita lihat, dengar, dan rasakan di negeri yang (katanya) kaya raya ini.

Andaikan, segala kekayaan negeri ini mampu menghidupi seluruh manusia di alam semesta dengan jangka waktu yang cukup lama, maka probabilitas yang akan dirasai oleh penduduk Indonesia selama ini, tidak lebih dari persekian persen saja.

Belum lagi isu-isu kemanusian yang sering kita dengar dari mulut-mulut aktivis kemanusiaan: persoalan bagaimana petani dipukuli di lahannya sendiri, nelayan di usir dari tanah yang telah dihuni nenek moyangnya selama ratusan tahun, bahkan pedagang yang diamuk abdi negara berpakaian lengkap dengan panser di kiri dan kanan. Semua itu adalah ironi yang sama tuanya dengan umur Indonesia. Kemaslahatan masyarakat dengan seabrek persoalan hidup diketepikan, suara kritis dari pemerhati dibenamkan.

Sehingga muncul pertanyaan; apakah Indonesia benar-benar sebuah negara yang hadir sebagai nabi ketika rakyat dalam kesusahan yang berlipat-lipat? Atau Indonesia tidak lebih dari sebuah perusahaan yang mempekerjakan buruh dengan patron tanpa singkap antara budak dan tuan, dan digerakkan oleh mereka yang berduit saja? Entahlah, yang jelas Indonesia benar-benar seperti negeri yang mati di atas lumbung padi.

Ada dua persoalan yang dihadapi Indonesia saat di lumbung padi. Pertama, kekayaan sumber daya alam (SDA) berlimpah ruah, kemampuan sumber daya manusia (SDM) independen yang diakui dunia, namun tidak termaksimalkan secara baik, bahkan yang lebih tidak masuk akal, kita seperti kebingungan untuk mengelola SDA dan SDM-nya negeri ini. Kedua, tentang siapa yang mengelola hasil alam Indonesia merupakan persoalan yang tak kalah menyesakkan untuk dipikirkan, karena isinya hanya manusia-manusia rakus yang ingin untung sendiri.

Dua persoalan ini benar-benar menjadi petaka matinya Indonesia di lumbung padi, pada akhirnya SDA, dan SDM Indonesia dikelola negara yang memiliki kepentingan ganda di Indonesia, antara bekerjasama dan menguras habis kekayaan alamnya. Kemudian, persoalan elit yang telah menghisap habis kekayaan alam Indonesia untuk kepentingan pribadi. Mereka adalah sekelompok orang barbarik yang telah berlepas diri dari realitas sosial yang terjadi di Indonesia

Indonesia dan Sejarah Ketimpangan

Pertarungan hidup di Indonesia adalah bagian dari sejarah ketimpangan, dan umurnya sama tua dengan Republik Indonesia. Namun jika ingin lebih ortodoks lagi, maka sejarah ketimpangan di Indonesia sama tuanya dengan kehadiran manusia pertama yang mendiami Indonesia, entah lewat imigrasi penduduk besar-besaran dari Yunan, atau primus interpares dari bekas wilayah atlantis. Ketimpangan adalah makanan sehari-hari yang biasa disantap oleh penguasa dan pengusaha, agar bantuan yang seujung kuku yang mereka berikan diliput media massa.

Oleh karena itu, Indonesia dan ketimpangan adalah saudara dekat yang selalu bergandeng tangan dalam melangkah. Bukan Indonesia namanya jika tidak ada berita ketimpangan di dalamnya. Angan-angan pada kemurnian hidup sama rata, sama rasa hanyalah jargon sakti pengobat luka yang disediakan pemerintah bagi rakyat kecil. Indonesia mati di lumbung padi, mungkin belum jelas letak duduknya, namun melihat arah arus Indonesia di masa depan, maka hipotesa awal ini barangkali akan jadi nyata.

Karena sudah beberapa provinsi yang dipaksa mati di tanah mereka sendiri. Rakyat Papua sengsara di tambang emas terbesar di dunia, tanpa ada benefit nyata bagi seluruh masyarakat Papua, Bangka-Belitung babak belur (Babel) di negeri yang kaya dengan timah dan sebangsanya, Riau, Kalimantan dan banyak provinsi lainnya yang tidak dapat disebut satu persatu, karena takut membuat luka mereka semakin menganga.

Pendek kata, jika kajiannya Indonesia adalah gugusan pulau-pulau yang sambung menyambung menjadi satu dari Sabang sampai Merauke; jika belum semuanya yang teraniaya, maka belum pantas disebut Indonesia. Maka waktunya akan tiba bagi seluruh negeri tersebut untuk dipaksa mati sebagaimana provinsi lainnya yang telah lebih dahulu mati di lumbung padi.

Jika ingin mengelak dari jeratan setan tersebut, kita tidak bisa menggelorakan semangat dan pekik “Saya Pancasila, Saya Indonesia”, karena semua itu membutuhkan langkah taktis dan visi besar untuk kemajuan Indonesia, agar tidak menjadi bulan-bulanan seonggok orang saja.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya