Indonesia Dilema Antara Bangku Kosong Najwa Atau Pemerintah?

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang
Indonesia Dilema Antara Bangku Kosong Najwa Atau Pemerintah? 17/10/2020 1154 view Politik Pikiran-rakyat

Eksistensi dari dualisme masalah yang ada di Indonesia terbilang semakin panas. Keberadaan covid-19 yang hingga saat ini belum pernah tuntas seakan membuat berbagai pihak bungkam dan gigit jari menanti virus ini segera berakhir.

Di lain hal penolakan kehadiran Terawan Agus Putranto dalam tayangan Mata Najwa dengan terminologi “bangku kosong” menyiratkan seribu makna terhadap nilai dari sebuah pertanggungjawaban selalu pemimpin rakyat.

Suara rakyat dari kaum anak-anak hingga orang tua, dari kaum cendekiawan hingga masyarakat pelosok seakan mempertanyakan dimanakah keberadaan Terawan? (Zonajakarta.com) Apa alasan terawan sehingga tidak menghadiri undangan tayangan Mata Najwa, Sebaliknya justru mengirim perwakilannya?

Mungkinkah “bangku kosong” Najwa merupakan simbolik “bangku kosong” Terawan dalam tugasnya sebagai Kementrian Kesehatan Republik Indonesia?

Jika dilihat lebih dalam kasus penanganan dan pencegahan covid-19 di Indonesia yang dilakukan Terawan belum mencapai titik akhir. Titik pembebasan dari belenggu penyakit akibat virus yang sulit diatasi. Keberadaan virus yang belum tuntas ini seakan memberikan banyak pertanyaan di kalangan lembaga maupun masyarakat awam. Sudah semaksimal inikah pencapaian terawan dalam mengatasi covid-19? Pertanyaan ini membuat beragam petisi yang mendesak terawan agar angkat kaki dari jabatannya sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Namun, di lain hal Sufmi Dasco Ahmad selaku wakil ketua DPR RI mengatakan,”Bahwa menteri adalah pembantu daripada presiden untuk melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan bidang masing-masing. Menurutnya keputusan mencopot Terawan dari jabatannya adalah hak perogatif Presiden Jokowi.” (Detik.com, 5 Oktober 2020)

Data statistik kasus covid-19 hingga 04 Oktober 2020 dengan penambahan kasus 3.992, total covid-19 di Indonesia menjadi 303.498 (Kompas, 2020). Hal ini tampak jelas menyatakan bahwa Indonesia belum bebas Covid-19.

Keberadaan virus ini memberikan banyak dampak yang terjadi. Indosesia dilema karena berbagai aspek kehidupan mengalami kemacetan bahkan kelumpuhan total. Melihat keadaan yang demikian lalu siapakah yang akan disalahkan dalam kasus ini? Apakah pemerintah? Tidak karena pemerintah telah melakukan berbagai optimalisasi dalam kinerjanya mengatasi covid-19.

Apakah para tim medis, dokter, perawat yang harus disalahkan karena tidak dapat menyembuhkan bahkan membasmih virus ini? Tidak karena dengan berbagai usaha dan kerja keras telah dilakukan tim medis. Bahkan sebagian dari mereka justru mengorbankan nyawa demi keselamatan bangsa. Apakah para TNI-POLRI yang harus disalahkan? Tidak karena dengan usaha dan perjuangan keras mereka berjuang dalam mengatasi covid-19 yang mewabah hingga di pelosok kampung.

Apakah berbagai pemuka dan lembaga agama yang harus disalahkan karena anggapan bahwa ini adalah azab dari Tuhan? Tidak karena Tuhan sendiri tidak menginginkan umat-Nya mengalami penderitaan.

Lalu siapakah yang akan disalahkan? Tidak ada alasan dan tindakan apapun untuk saling menyalahkan. Tidak ada yang patut salah dan disalahkan. Namun, bagaimana dengan keberadaan Terawan? Hal ini menjadi tanda tanya besar untuk menjawab penyebab covid-19 yang masih marak beredar di Indonesia.

1001 Makna Bangku Kosong

Ketidakhadiran Terawan dalam undangan tayangan Mata Najwa menjadi penegasan bahwa Terawan mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya selaku wakil rakyat.

Indikasi lain “bangku kosong” bahwa Terawan mengabaikan nilai-nilai yang terkandung dalam dasar negara yang secara jelas dinyatakan dalam sila ke empat pancasila “ Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.” Undangan Mata Najwa merupakan undangan rakyat Indonesia yang dilema akan keberadaan covid-19 yang tak pernah usai. Rakyat meminta sebuah kompromi. Rakyat meminta penjelasan seorang pemimpin. Rakyat meminta sebuah kejelasan akan nasibnya yang semakin kabur akibat badai pandemi ini. Hal ini tampak nyata dengan terjadinya berbagai kesenjangan Ekonomi, Sosial, Budaya, Pendidikan, Politik, dan Agama. Semua aspek kehidupan Ikut menderita. Indonesia Dilema akan hal ini.

Namun, terawan tetap bungkam hal ini dengan tidak menghadiri undangan Mata Najwa “bangku kosong” simbolik kekosongan dan kehampaan harapan rakyat.

“Bangku kosong” Najwa pun menjadi wujud jarang tampilnya Terawan diruang publik dalm menjelaskan penanganan covid-19. Terawan seakan taku jika kehadirannya jutru mem-flasback kembali pernyataannya yang sangat kontadiktif dengan keberadaan covid-19 hingga saat ini. Sebab, Jika ditilik lebih dalam mengenai komentar Terawan pada media sejak Februari-Maret lalu, banyak pertanyaan menjadi sorotan publik. Hal ini terkait pernyataan Terawan yang dirangkum Kompas.com 29 September 2020. Pertama, Bersyukur Covid-19 tak terdeteksi. Hal ini disampaikan terawan pada 11 Februari lalu akibat banyaknya pertanyaan keberadaan virus corona di Indonesia.

Kedua, Salahkan warga yang membeli masker. Hal ini terkait lonjakan harga masker pada 15 Februari lalu.

Ketiga, Kekuatan doa. Terawan menyatakan kekuatan doa menjadi penyebab covid-19 tidak masuk ke Indonesia. “kita ini negara berketuhanan Yang Maha Esa, apapun agamanya selama kita berpegang teguh pada Pancasila, doa itu menjadi hal yang harus utama. Makanya namanya ora et labora (berdoa dan berusaha).

Keempat, Penyakit yang bisa sembuh dengan senirinya. Terawan mengatakan , publik mestinya tidak perlu khawatir karena penyakit flu yang biasa menjangkiti warga Indonesia justruk mempunyai angka kematian lebih tinggi daripada covid-19. “Padahal kita punya flu yang biasa terjadi pada kita, batuk pilek itu angka kematiannya lebih tinggi dari yang ini corona tapi kenapa ini bisa hebohnya luar biasa.” kata Terawan di kantor KemKes, Senin (2/3/2020).

Mungkinkah pernyataan Terawan yang demikian menjadi penyebab penolakannya dalam undangan tayangan Mata Najwa? Lebih jauh dari itu sebagai masyarakat yang berbangsa dan berbudaya masyarakat NKRI tidak akan pernah mencari kesalahan dari sang pemimpin. Masyarakat Indonesia mengedepankan kekeluargaan, gotong-royong, peduli, jujur, menghargai sesama ciptaan sebagai manusia yang bermartabat.

Berbagai macam kesalahan yang dilakukan tentu memiliki jalan keluar dan solusi yang dapat dipikirkan bersama. Nilai diplomasi dahulu mampu memerdekakan Indonesia. Inilah nilai tertinggi yang seharusnya semakin terpatri dalam hati. Masyarakat meminta pertanggungjawaban dan bukan harapan. Masyarakat meminta implementasi dari nilai-nilai luhur bangsa yang ber-PANCASILA dan itu adalah tanggung jawab pemerintah sebagai garda depan Bangsa dan Negara.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya