Indonesia dan Dialektika

Institut Social Diversity
Indonesia dan Dialektika 24/01/2023 37 view Politik jpicofmindonesia.org

Negara Indonesia adalah negara yang terdiri dari beraneka macam suku, bangsa, dan budaya. Keanekaragaman ini membuat Indonesia menjadi kaya akan budaya dan kearifan lokal yang berasal dari setiap provinsinya. Akan tetapi, selain memiliki kelebihan akan keanekaragaman, negara yang terdiri dari beraneka ragam suku dan bangsa seperti Indonesia juga memiliki banyak kelemahan. Misalnya seperti politik identitas, konflik-konflik SARA, dan masalah-masalah agama minoritas dan mayoritas.

Permasalahan-permasalahan itu muncul karena kurangnya pemahaman masyarakat Indonesia tentang bentuk dan dasar negaranya. Mereka lupa bahwa negara Indonesia adalah negara yang berdiri karena rasa senasib dan sepenanggungan karena penjajahan (political unity) dan bukan negara yang berdiri karena kesamaan kultural (cultural unity). Karena itu, sebagai negara political unity, Indonesia membutuhkan sebuah kontrak hidup bersama yang menaungi seluruh aspek hidup bernegara atau yang biasa disebut sebagai kontrak sosial. Dalam hal ini, kontrak sosial negara Indonesia adalah Pancasila. Ketidaktahuan masyarakat akan bentuk dasar terbentuknya negara serta pemerintah yang selalu menghindari penggunaan istilah kontrak sosial pada Pancasila, semakin memperburuk keadaan demokrasi Indonesia karena masalah mayoritas-minoritas, terlebih lagi politik identitas.

Politik identitas di Indonesia belakangan ini menjadi permasalahan yang sangat berbahaya. Apalagi sampai memakan korban jiwa saat Pilgub 2017 di Kota Jakarta. Demo 212 adalah salah satu praktik politik identitas yang sangat nyata. Keadaan ini membuat banyak orang menjadi bertanya-tanya akan jadi seperti apa Pilpres 2024 nantinya? Tentu pesta demokrasi tersebut akan menjadi anarkis apabila pemerintah tidak memberikan pengarahan yang benar kepada masyarakat tentang bahaya politik identitas. Selain politik identitas, keutuhan negara Indonesia juga diancam oleh radikalisme dan ketaatan buta terhadap tafsiran yang salah terhadap ajaran tertentu.

Ketaatan buta terhadap ajaran atau ideologi tertentu membuat kebanyakan orang menjadi tidak rasional dalam berpikir. Mereka cenderung menganggap bahwa apa yang dianut mereka sebagai kebenaran mutlak. Sehingga mereka menolak kebenaran di luar kebenaran yang mereka yakini. Kondisi seperti ini membuat masyarakat Indonesia kerap kali jatuh ke dalam anarkisme dan separatisme. Keengganan mereka untuk berdialog serta menjunjung tinggi idealisme yang belum tentu kebenarannya semakin memperburuk keadaan.

Pemikiran tentang idealisme seperti ini membuat filsafat kaum Hegelian menjadi jawaban yang dapat membawa perubahan terutama dialektika. Dialektika Hegelian yang menitikberatkan pada proses berpikir dalam kesatuannya dengan teori dan praxis yang sama pengertiannya dengan Aristoteles. Sangat cocok untuk melawan pola berpikir masyarakat Indonesia yang cenderung bersifat idealism.

Idealisme buta masyarakat Indonesia sudah membuat mereka jatuh ke dalam jurang kebodohan. Semua didasarkan kepercayaan pada agama, kesulitan dalam berpikir rasional, serta sikap anarkisme membuat kebodohan mereka menjadi semakin parah. Memang sulit untuk merubah dari pola pikir idealisme menjadi pola pikir dialektika yang rasional dan sistematis. Negara-negara di eropa juga memerlukan berabad-abad lamanya untuk lepas dari pola pikir idealisme buta seperti itu.

Akan tetapi, jika kita sudah mampu melepaskan pola pikir kita dari idealisme buta menuju pola pikir dialektika, tentu kita dapat menjadi masyarakat yang sejahtera. Namun agaknya proses peralihan tersebut memerlukan waktu yang cukup lama. Apalagi banyak di antara pemerintah, kaum rohaniwan, serta elite politik yang memang senang melihat kita terjebak di dalam kebodohan dan kemerosotan moral. Namun jika kita berhasil keluar dari kungkungan setan tersebut, kita dapat memadukan teori yang selama ini kita anut dengan praxis dan menciptakan generasi yang berpola pikir rasional dan kritis.

Generasi zaman sekarang memang telah kehilangan daya kritisnya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya budaya literasi di kalangan kaum muda masyarakat Indonesia. Serta generasi sebelum mereka sering kali mengkungkung mereka dengan ajaran yang sudah ada tanpa mempertanyakan kebenarannya. Kondisi seperti ini membuat daya kritis kaum muda menjadi mati dan cenderung bersikap radikal terhadap pemikiran mereka sendiri. Dan disinilah letak dan peran dialektika di negara Indonesia. Dialektika mengajarkan mereka menjadi pribadi yang kritis dengan selalu mempertanyakan segala sesuatu dan meragukannya. Dialektika membuat generasi zaman ini memperoleh kembali daya kritisnya dengan keluar dari idealisme buta.

Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat dan penerus bangsa ini sudah seharusnya mengubah pola pikir kita yang radikal menjadi lebih terbuka. Dengan pikiran terbuka kita dapat menjadi manusia yang berpikir rasional yang lebih mementingkan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadi. Seperti apa yang pernah disampaikan Rene Descartes tentang rasionalisme pikiran manusia “aku berpikir maka aku ada”

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya