Ikoy-ikoyan di Antara Empati Sosial dan Strategi Marketing Kekinian

The Truth Will Set You Free
Ikoy-ikoyan di Antara Empati Sosial dan Strategi Marketing Kekinian 09/08/2021 701 view Opini Mingguan urbanasia.com

“Don’t give to get. Give to inspire others to give”. Kutipan yang singkat namun penuh makna tersebut keluar dari mulut seorang penulis dan motivator asal Inggris Simon Sinek. Dia ingin menekankan satu arti tentang hal memberi. Memberi di seluruh budaya dan agama adalah suatu tindakan yang baik dan mulia sekaligus pada titik tertingginya menginspirasi orang lain untuk melakukannya.

Lalu apakah ada memberi atau bersedekah yang salah sasaran? Nampaknya sepanjang perjalanan manusia di bumi ini, selalu akan ada sisi benar dan salah dari setiap tindakan manusia. Apalagi kalau orang itu adalah figur terkenal.

Dilihat dari sisi kemanusiaan apa yang dilakukan Youtuber dan penulis Arief Muhammad adalah baik. Menolong sesama manusia sejatinya tindakan terpuji. Amat mulia.

Tren yang tiba-tiba viral dengan nama ajaib “Ikoy-ikoyan” adalah suatu kegiatan mengirimkan DM (direct message) ke selebgram atau artis idolanya untuk mendapat barang atau sesuatu yang mereka inginkan. Dalam hal ini kemudian sang asisten yang konon katanya bernama “Ikoy” akan mengirimkan uang ke rekening orang yang beruntung tersebut.

Yang menjadi sorotan adalah konteks memberi yang benar setidaknya adalah adanya ketergerakan hati sang pemberi karena ia melihat suatu kebutuhan dari saudaranya atau temannya yang membutuhkan pertolongan atau sesuatu yang ada padanya.

Tentu kita tidak meragukan kemampuan dari Arief Muhammad, sang pelopor aksi viral tersebut dan juga ribuan influencer muda Indonesia yang pengikutnya amat fantastis. Yang menjadi penekanan adalah apakah sang asisten atau pemberi mengetahui latar belakang dari si penerima hadiah tersebut.

Sebagai contoh sederhana misalnya ada salah seorang pengikut salah satu Youtuber terkenal adalah seorang pecandu narkoba yang sudah keluar masuk panti rehabilitasi dan sementara sedang menjalani hukuman di penjara. Karena satu atau lain hal, ia mempunyai kesempatan menguasai handphone dan kemudian dengan lihai memainkan kata-kata penuh iba demi mendapatkan uang atau barang dari sang idola. Karena merasa tergerak dan kasihan jadilah ia mentransfer sejumlah uang kepada pengikutnya tersebut. Uang itu kemudian dipakai untuk membeli narkoba yang ia pakai untuk berpesta dengan teman-teman napi di dalam jeruji besi.

Kisah di atas tentu karangan semata, tetapi tentu tidak menutup kemungkinan bisa saja terjadi mengingat seseorang yang memiliki mental bobrok atau pengemis memandang hal memohon kepada idola sebagai suatu jalan keluar dari masalah yang mengimpitnya.

Giveaway yang harusnya menjadi manfaat dan berkah pada si penerima pada akhirnya justru menjadi kutuk dan laknat bagi dirinya. Apakah sang pemberi terlibat dalam hal ini? Tentu saja iya.

Hal lain adalah campur aduknya motivasi dan perasaan dalam memberi. Ada satu ungkapan terkenal di kalangan masyarakat kita yaitu apabila memberi dengan tangan kiri maka tangan kanan jangan sampai tahu. Tentu kita semua yakin berdasarkan pengakuan Arief sendiri bahwa ia telah lama melakukan aksi tersebut dan ia hanya berkata amat senang ketika membantu orang lain.

Tetapi belakangan yang terjadi adalah ekspose media yang amat besar menjadikan aksi ini menurut hemat saya seperti “ditunggangi” oleh orang-orang yang ingin mendapatkan perhatian tersebut baik untuk tujuan bisnis maupun hiburan. Akibatnya niat awal yang amat mulia nampaknya terlihat semakin pudar pada pandangan saya. Hal ini bias kita lihat dengan tautan-tautan yang ditampilkan pada setiap barang yang diberikan untuk proyek giveaway tersebut membuat produk dan jasa si penyumbang mendapat perhatian publik.

Sekali lagi niat baik harus juga diimbangi dengan sasaran yang baik sehingga kedua belah pihak baik itu si pemberi maupun si penerima dapat saling mendapat berkah. Adanya pernyataan penolakan dari beberapa artis mengenai aksi ini seperti Chelsea Olivia, Nikita Mirzani dan Nana Mirdad yang pada akun IG nya mengatakan pada intinya tidak ingin mengajarkan followers-nya mempunyai mental pengemis terutama karena ketidakjelasan status orang yang mendapatkan hadiah tersebut.

Strategi kekinian giveaway tentu amat penting pada era digital marketing yang sedang berlangsung sekarang di mana pasar fisik sedang mengalami tekanan luar biasa. Namun strategi ini juga perlu mendapat perhatian dari sisi etika. Beberapa hal praktis seperti menjelaskan tujuan dan maksud pemberian tersebut, menentukan persyaratan giveaway sehingga hanya orang yang layak sesuai syarat yang mendapatkan hadiah tersebut dan yang tidak kalah penting adalah kejelasan status baik itu akun atau pun identitas pengenal seperti KTP, KK atau SIM, sehingga paling tidak kita bisa mengetahui dan memiliki basis data siapa saja penerima bantuan itu.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya