Ikhtiar Menyelamatkan Jantung Kehidupan

Ikhtiar Menyelamatkan Jantung Kehidupan 18/04/2020 2243 view Lomba Esai Pixabay.com

Tak dapat dimungkiri bahwa aspek ekonomi dan nyawa manusia ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dilepas pisahkan. Sementara fakta saat ini covid-19 telah memisahkannya sangat jauh. Ibarat langit dan bumi.

Untuk itulah, tulisan ini adalah semacam ikhtiar untuk mengusir kegelisahan yang terus merongrong batin saya. Juga sebagai tanggung jawab moral sebagai makhluk sosial dalam menyikapi persoalan perekonomian bangsa yang kian lesu dan lemah.

Saat ini dunia sedang menghadapi krisis multidimensi. Semua aspek yang bersentuhan langsung dengan hidup manusia pun sedang dalam ancaman. Bahkan sedang dan sudah mengarah pada kematian.

Namun begitu, ulasan ini hanya berfokus pada aspek perekonomian Indonesia. Baik situasi yang kekinian maupun pasca covid-19 beserta cara atau langkah-langkah untuk mengatasi dan menghidupinya kembali.

Hemat saya, aspek ekonomi jikalau dimaknai dari perspektif jasmani, maka masuk dalam kategori utama yakni sebagai jantung kehidupan manusia. Untuk saat ini, tak bisa kita mungkiri bahwa jantung hidup itu sedang terluka. Butuh pertolongan. Jika tidak, maka bayang-bayang kematian terus mengahantui hidup dan kehidupan manusia.

Bagaimana cara kita menyikapinya? Tiga solusi humanis saya kedepankan.

Pertama, pemerintah harus dan segera mengambil langkah preventif. Bicara pencegahan, maka yang paling utama untuk diselamatkan adalah nyawa sesama kita yang sudah kehilangan pekerjaan. Di antaranya, para pedagang kaki lima, gojek, driver, para petani, kelompok buruh, hingga para pegawai swasta yang sudah terkena imbas pemutusan hubungan kerja (PHK).

Logikanya, mereka bisa hidup ketika mereka bekerja. Tidak bekerja, pastinya adalah kematian. Kalaupun masih ada semangat mempertahankan hidup, maka langkah yang dipilih adalah mencuri dan merampok. Bahkan bisa jadi mengarah pada sikap dan tindakan kriminalitas.

Tentu, kita semua tidak memiliki keinginan agar sikap-sikap destruktif di atas terjadi. Oleh karena itu, selama masa isolasi dan pembatasan sosial, pemerintah wajib memberikan bantuan. Sebagai rakyat kecil, saya pun bangga dengan kepekaan pemerintah yang cepat tanggap. Buktinya, pemerintah sudah menelurkan dua kebijakan yakni memberikan bantuan sosial (bansos) dan juga program kartu pekerja.

Dua kebijakan ini akan lebih bagus jikalau pada tataran praksisnya, disalurkan tepat sasaran. Karenannya, sangat dibutuhkan cara kerja kolektif yang membangun dan jujur dari pemerintah. Mulai dari pemerintah pusat hingga ke daerah-daerah. Bahkan sampai pada level rukun tetangga dan rukun warga.

Sebab, dalam situasi yang serba sulit seperti saat ini, sikap-sikap humanis yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan universal adalah keharusan. Selain, dapat menolong sesama kita yang sangat membutuhkan, tapi juga sebagai langkah pengendalian untuk mencegah dan meminimalisir masuknya berbagai kepentingan-kepentingan politis yang merusak.

Kedua, jadilah masyarakat yang taat, disiplin, komitmen dan konsisten. Tentang langkah-langkah preventif, pemerintah sudah menghimbau dan juga membuat banyak kebijakan. Mulai dari pembatasan sosial, cuci tangan, isolasi diri, bekerja dari rumah, pakai masker jika keluar rumah, dan menghindari kerumunan sosial.

Orientasi akhir dari semua kebijakan itu yakni nilai-nilai dan keselamatan nyawa manusia. Dan sangatlah bijaksana, jikalau kita menghayati kebijakan pemerintah itu sebagai sebuah kebutuhan hidup yang harus kita penuhi dan jalani dengan kesungguhan hati. Itu berarti komitmen, konsisten serta kedewasaan kita sebagai masyarakat amat dibutuhkan. Toh, semuanya adalah bicara tentang kita dan keselamatan kita sendiri.

Ketiga, memperkuat rasa solidaritas. Ya, jantung hidup manusia selain tergantung pada aspek ekonomi, tapi yang tak kalah pentingnya juga adalah pada rasa solidaritas. Seyogianya, rasa solidaritas adalah kebutuhan dasar manusia. Sebab tanpa seolidaritas manusia akan kehilangan label sebagai makhluk sosial.

Untuk itulah, dalam hari-hari hidup yang masih dibayang-bayangi oleh pandemi covid-19, rasa solidaritas harus diletakkan dalam lubuk hati manusia tanpa pengecualian.

Sederhana saja. Jika saya dan Anda berkelebihan beras, masker dan kebutuhan lainnya, tidak salah jika dibagikan kepada yang sangat membutuhkan.

Contoh lainnya, jika saya dan Anda sekalian seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), buatlah semacam gerakan sosial untuk membantu sesama kita yang kehilangan pekerjaan dan tak memiliki gaji.

Intinya, entah sebagai apapun kita. Masih terima gaji atau tidak. Masih bekerja atau menganggur karena di PHK-kan atau tidak. Semuanya kembali kepada rasa solidaritas kemanusiaan itu sendiri.

Sebab menjadi solider, tak perlu kita miliki uang atau barang lainnya. Tapi juga cukuplah miliki sikap untuk saling menghargai dan menguatkan satu sama lain. Kadang dengan sikap humanis kita, bisa menjadi imun dan daya yang dahsyat bagi sesama kita yang lagi berkesusahan dan juga bagi para pasien postif corona. Oleh sebab itu, sikap mementingkan diri dan membangun stigma corona segera dilenyapkan.

Praksis sikap dan kesadaran humanis ini menjadi penting untuk dijadikan kekuatan dasar sekaligus sebagal bekal dalam menghadapi situasi pasca corona. Dan menurut hemat saya persoalan besar yang akan kita hadapi pasca corona tidak lain dan tidak bukan adalah persoalan ekonomi.

Pada titik inilah, dengan penuh kepercayaan diri, saya amat meyakini bahwa napas dan perekonomian yang merupakan jantung hidup itu sendiri dapat kembali berjalan seiring sejalan pasca corona, jikalau tiga solusi yang saya tawarkan di atas dapat dihayati dan dipraktekan dengan penuh tanggung jawab oleh kita semua.

Dengan demikian, walaupun dengan tertatih-tatih situasi kini dan pasca covid-19 akan kita hadapi dan jalankan dalam sprit dan semangat yang pantang menyerah. Karenannya, tak perlu putus asa, sebab kita masih memiliki napas kehidupan. Juga semangat juang untuk merajut kembali rasa kemanusiaan yang telah retak dan juga menenun kembali benang-benang perekonomian yang telah putus.

Itulah ikhtiar menyelamatkan jantung hidup kita semua. Mari bangkit. Kita bisa. Jaya Indonesia.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya