Ihwal Manusia di Tengah Krisis Covid-19

Mahasiswa
Ihwal Manusia di Tengah Krisis Covid-19 03/05/2020 1448 view Lainnya asumsi.co

Homo gnothi seauton (manusia, kenalilah dirimu!) merupakan untaian kalimat yang cukup familiar dalam perkembangan filsafat Humanisme. Kalimat tersebut terpampang apik di dinding Kuil Apollo di Delfi. Kalimat yang bergaung imperatif, yang ingin menohok jalur reflektif manusia untuk mau menengok esensi dan eksistensinya dalam kelangsungan hidup di dunia ini.

Ihwal esensi dan eksistensi manusia tersebut dapat kita hadirkan kembali di tengah krisis Covid-19 yang telah jamak bahasannya saat ini. Bahwasannya adanya Covid-19 telah banyak mempengaruhi realitas kehidupan manusia yang seolah-olah dibisingkan dengan kehadirannya. Efeknya begitu brutal, keji, serta bahkan mampu menyandera ragam aktivitas hidup manusia. Siapa pun dapat dibuat bisu oleh kehadirannya. Mulai dari pejabat, agamawan, atheis, orang jahat, dan orang baik sekali pun menjadi tak berdaya. Singkatnya, kita dapat mengklaim bahwa Covid-19 yang telah menjadi pandemi itu melahirkan keabsurdan: krisis, ketidakpastian, ketakutan, serta bahkan kematian bagi hidup manusia.

Namun, bukan tidak mungkin, manusia dengan ragam kemampuan dan kreativitasnya pasti akan mengatasi ragam absurditas akibat keberadaan virus tersebut. Sebab, kita memahami manusia merupakan persona tertinggi dari semua yang tercipta, yang mampu menghidupkan apa yang baik bagi kehidupan, tetapi juga mampu menghancurkan macam hal yang sifatnya merusak kenyamanan hidup dunia.

Manusia di tengah krisis Covid-19 boleh dilihat dalam cakupan refleksivitas homo gnothi seauton. Manusia perlu kembali mengenal dan bertanya: siapakah dirinya/ siapakah manusia itu?; di tengah pandemi Covid-19. Manusia perlu tinggal dalam tindak “menengok ke dalam diri” dan pada akhirnya mampu menyuluh nilai-nilai fundamental yang barangkali dapat menggaet revolusi optimisme yang berguna (usual) bagi kelangsungan hidupnya.

Kasdin Sihotang (2009:16-19) dalam bukunya berjudul Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme, menampilkan salah satu ulasannya yang berjudul Manusia sebagai Sebuah Persoalan. Ia menulis bahwasannya pertanyaan “siapakah manusia itu?” menjadi sebuah pertanyaan yang paling mendasar dan paling utama, klasik, dalam sejarah hidup manusia.
Aspek mendasarnya pertanyaan tersebut dapat dilihat dari segi pemaknaan hidup serta tampilnya nilai-nilai keberadaan manusia yang dapat ditelisik dari pertanyaan siapakah manusia itu? Sementara menyejarahnya pertanyaan “siapakah manusia itu?” dapat ditelaah dari tampilnya pertanyaan tersebut mulai dari masa pra-Sokratik (469-399 SM). Kemudian berlanjut pada masa Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Turut dibahas pula oleh para pemikir Kristiani pada abad pertengahan yang berkembang dalam konsep antropologi homo religious. Serta kemudian terus berkembang dalam pembahasan para filsuf modern yang berorientasi pada perspektif antroposentris.

Kasdin Sihotang kemudian menulis lebih jauh bahwa pertanyaan “Siapakah manusia itu?” merupakan pertanyaan yang senantiasa relevan dalam lajur perkembangan hidup manusia – entah sampai kapan? Bahwasannya terhadap pertanyaan tersebut dirinya menulis, bukan merupakan sesuatu yang abstrak, melainkan konkret, karena menyangkut manusia yang nyata. Bukan pula bersifat generis belaka, melainkan bersifat personal, karena bersentuhan dengan nilai-nilai pribadi manusia. Serta jawaban atas pertanyaan tersebut tidak pernah final dan karena itu akan muncul terus-menerus. Hal ini turut mengafirmasi posisi manusia yang menjadi pribadi yang selalu dipersoalkan; yang selalu dipertanyakan dari masa ke masa.

“Siapakah manusia itu?” akan menjadi sebuah pertanyaan kemanusiaan yang kiranya relevan pula di tengah terpuruknya kehidupan dunia saat ini. Ini memang penting, karena turut menilik titik reflektif manusia yang mesti terus-menerus mendapat perhatian dalam sebuah kajian derita kehidupan. Tindak reflektif boleh dipahami sebagai sebuah tindak review - tindakan melihat kembali ke kedalaman diri di tengah carut-marut situasi yang mengitari personalitas kehidupan. Dalam artian bahwa, apa yang telah diutarakan, apa yang telah menjadi sebuah tindakan, haruslah mesti dilihat kembali sebagai sebuah pembelajaran untuk melangkah dalam tapak kehidupan yang beraura kebaruan.

Covid-19 dengan segala macam bad effect, efek buruk yang telah ditimbulkannya dapat dilihat sebagai sebuah problem kemanusiaan yang sangatlah kompleks perkembangannya. Kompleksitasnya boleh jadi, tak terlepas dari hakikat hidup manusia sendiri yang dinamis, misteri, dan paradoksal (Sihotang, 2009:19). Kedinamisannya mengena dalam perkembangan hidup dengan asas kebebasannya. Sifat misterinya mengemuka dalam kehidupan manusia sendiri yang tidak pernah dipahami secara defenitif. Sementara, paradoksalnya hidup manusia mau mengafirmasi eksistensi kehidupan manusia sendiri bahwa, apabila semakin didalami, maka pengetahuan tentangnya akan semakin dangkal.

Pandemi Covid-19 haruslah mampu menggaet sifat dinamis, misteri, dan paradoksalnya kehidupan kita tersebut. Adanya usaha ini akan memungkinkan kita untuk mampu mengenal dan mendekap hakikat kemanusiaan kita yang senantiasa selalu dipersoalkan, guna memunculkan titik pijakan reflektif bagi alur kehidupan kita. Akhirnya, kita mesti kukuh di tengah wabah Covid-19 yang mengganas dalam ragam aspek kehidupani ini, sembari tetap menyeduh dan terus mengenal hakikat kemanusiaan kita.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya