Ihwal Childfree dan Kebebasan

mahasiswa politik
Ihwal Childfree dan Kebebasan 24/08/2021 107 view Budaya pixabay

Akhir-akhir ini jagat maya santer ramai akibat cuitan seorang influencer yang menyoal childfree di salah satu media sosialnya. Respon yang dituaipun beragam, uniknya bahkan lebih menjurus pada sebuah perdebatan. Banyak yang bersepakat, namun banyak pula yang menolak dengan keras.

Bagi mereka yang menolak, hal ini disebabkan karena pilihan perempuan untuk tidak memiliki keturunan dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada. Lebih jelasnya, tidak sesuai dengan kebudayaan patriarki yang sedang berkecamuk. Memang diperlukan kedewasaan berpikir dalam menanggapi hal ini. Terlebih ihwal menilai segala sesuatu yang baru dan yang tidak biasa dilakukan oleh masyarakat kita.

Terkait persoalan ini, pertama-tama kita harus bersepakat bila perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan sebagai manusia sebagaimana yang dituturkan Plato. Mereka sama-sama bebas dan memiliki otoritas. Bebas di sini harus diperjelas.

Bila meminjam dari teoritisi liberalisme, maka kebebasan memiliki dua macam jenis. Pertama, kebebasan positif, adalah wujud kebebasan yang menempatkan individu sebagai mahluk yang bebas dalam melakukan aktualisasi diri serta berkontribusi dalam kehidupan sosial di sekitarnya (individual etis).

Kedua, kebebasan negatif, yakni wujud kebebasan mutlak yang dimiliki individu. Setiap individu bebas berbuat apa saja, intinya terserah. Semua boleh, bahkan bila harus menghadirkan dampak buruk bagi individu lain sekalipun seperti merampok, membunuh, memperkosa, melecehkan, dan lain sebagainya.

Bagi mereka, yang terpenting adalah kepuasan bagi dirinya sendiri (individual egoistis). Maka kebebasan dalam konsep pertamalah yang saya maksudkan di sini. Setiap individu, baik perempuan ataupun laki-laki memiliki otoritas terhadap tubuhnya sendiri. Mereka bebas melakukan apapun sebagai bentuk aktualisasi untuk dirinya tanpa harus merugikan orang lain, termasuk persoalan keturunan.

Kita harus memahami bila manusia terlahir dengan otoritas untuk mengoperasikan alat sesksualnya masing-masing. Laki-laki, memiliki otoritas dalam menentukan pilihan untuk menggunakan penisnya atau tidak. Pun demikian dengan perempuan, ia memiliki otoritas untuk menggunakan atau tidak vagina dan atau rahimnya. Namun, perkara untuk dan dengan siapa alat-alat seksual itu digunakan, haruslah didasari dengan sebuah kesepakatan. Semua ini perihal hak dan kebebasan untuk memilih.

Begitu pula dengan childfree yang notabene adalah sebuah pilihan bagi individu. Tidak ada yang salah bila perempuan memilih untuk tidak menggunakan rahimnya. Asal tidak memandang pilihanyalah yang terbaik dan bersikap superior dalam memandang pilihan yang berbeda.

Perempuan bebas memilih dalam hal ini, bahkan tanpa pertimbangan siapapun selama memang ia masih sendiri. Namun akan berbeda persoalanya jika mereka sudah berada dalam hubungan rumah tangga.

Sebuah hubungan dalam rumah tangga harus dilihat sebagai bentuk beroperasinya relasi kekuasaan yang bersifat dialektic of control. Sebetulnya tidak hanya dalam rumah tangga, dalam hubungan lain pun juga demikian. Dalam artian, laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki otoritas untuk menerima dan menolak setiap perumusan konsensus apapun terkait rumah tangganya. Tidak ada yang lebih dominan di antara keduanya. Semua keputusan harus didasari persetujuan atas pihak yang berumah tangga.

Pilihan untuk tidak memiliki keturunan dalam rumah tangga tidak hanya disepakati oleh perempuan saja, tapi juga harus dari pihak laki-laki. Hal ini adalah perwujudan relasi kekuasaan yang saling mengontrol. Bila mujur, keduanya bersepakat, maka itu tidak jadi soal.

Namun, bila keduanya tidak bersepakat, besar kemungkinan hubungan akan berakhir, dan memang seharusnya begitu. Bila diteruskan hanya akan diterpa badai permasalahan yang kian pelik. Lebih jauh, bahkan justru menggadaikan kebahagian yang sebenarnya merupakan tujuan hubungan itu sendiri.

Maka, yang harus dilakukan adalah membahas hal yang demikian itu sebelum memasuki jenjang rumah tangga. Bila keduanya bersepakat, maka menikahlah. Bila tidak, cari saja yang mau menerima dan bersepakat dengan pilihan itu. Tentu hal ini tidak sebatas ihwal ingin memiliki keturunan atau tidak, namun juga segala hal-hal lain yang fundamental.

Hal ini tidak berarti bila ada perbedaan pilihan, maka hubungan harus diputus begitu saja, tidak. Penting untuk menjajaki konsensus yang dibangun; apa yang boleh dan apa yang tidak. Baik perempuan ataupun laki-laki harus bersikap kompromistis untuk hal-hal apapun selama tidak mengaburkan jati dirinya, tidak merubah dirinya menjadi orang lain, dan tidak membuat dirinya kehilangan kontrol atas dirinya. Mencintai seseorang tanpa kehilangan diri sendiri adalah syarat. Itu poinnya, dan itulah sumber kebahagiaanya.

Dibenturkan dengan Agama

Selain tidak sesuai dengan kebiasaan, pilihan untuk tidak memiliki keturunan juga dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama, Islam khususnya. Hal ini terlihat dari berbagai respon yang muncul di jagat media. Saya pribadi megap-megap melihat fenomena ini. Kebanyakan orang terlalu serius dan menggebu-gebu menanggapi persoalan childfree. Yang saya tangkap sejauh ini, pilihan tidak memiliki anak dibenturkan dengan sunah.

Dalam islam, bagi mereka yang memiliki anak dijanjikan pahala yang besar. Terlebih anak yang soleh. Sehingga memiliki keturunan adalah ladang pahala yang selayaknya dimanfaatkan. Dan perempuan dianggap sebagai kunci dalam hal ini.

Tapi mungkin mereka lupa, bahwasanya anak juga bisa menuntun orang tuanya ke neraka. Terlepas dari itu, yang perlu digarisbawahi adalah bila Islam tidak menjadikan memiliki keturunan sebagai hal yang wajib. Kemampuan untuk memiliki keturunan hanyalah salah satu wujud kebesaran nikmat yang diberikan oleh Sang Pecipta, sebagaimana yang diterangkan dalam tafsir Imam Al-Qurthubi.

Mereka yang memutuskan untuk tidak memiliki keturunan, tidaklah menyalahi kodratnya sebagai manusia. Dalam hemat saya, kodrat manusia adalah memanusiakan manusia dan membawa kesejahteraan bagi bumi. Rahmatan lil alamin.

Saya anggap mereka yang memilih tidak memiliki keturunan, sebetulnya adalah orang yang memahami kompetensi dirinya sendiri. Mereka menyadari jika memiliki anak adalah hal yang luar biasa sulit, terutama bagi perempuan yang harus bertaruh nyawa. Belum lagi bila gagal dalam mendidik sesuai dengan harapan, tentu adalah semacam beban tersendiri. Dan itu adalah hal yang wajar. Intinya, mereka sedang tidak tergiur iming-iming pahala ihwal anak yang soleh juga imbas neraka karena anak yang tidak soleh.

Membenturkan childfree dengan agama adalah pemikiran dan tindakan yang dangkal. Keimanan seseorang tidak seharusnya hanya diukur dari pilihannya untuk memiliki keturunan atau tidak. Kita ini hanya sama-sama manusia. Tidak berhak menghakimi pilihan hidup orang lain, terlebih membenturkannya dengan urusan agama. Kalaulah saya nukil sedikit ungkapan Cak Nun, beginilah kira-kira: Sesama murid dilarang saling mengisi rapot.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya