Hutan Dilibas, Kelapa Sawit Meluas

Mahasiswa
Hutan Dilibas, Kelapa Sawit Meluas 07/11/2022 408 view Lainnya internal.jurnalistika.id

Kalimantan merupakan kepulauan terbesar di Indonnesia. Hutan yang dimiliki sangat luas sehingga dijuluki sebagai paru-paru dunia. Kalimantan Barat (Kalbar) memiliki 6,88 juta hektar hutan primer dari (47%) dari total luasan wilayah 14,9 juta hektar. Hal ini menjadikan Kalbar masuk dalam 5 provinsi dengan wilayah hutan terluas di Indonesia.

Beberapa tahun terakhir, hutan Kalbar mengalami kerusakan yang sangat parah sehingga menimbulakan bencana ekologis di berbagai tempat. Hasil analisis Global Forest Watch 2002-2020 memperlihatkan, hutan primer Kalbar sudah hilang 1,25 juta hektar. Analisis Yayasan Auriga mendapati, Kalbar memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 1,89 juta hektar, antara lain masuk kawasan hutan 189.121 hektar.

Kelapa sawit merupakan tanaman yang hampir memenuhi seluruh hutan di Kalbar. Kelapa sawit telah tersebar di berbagai kota besar di Kalimantan seperti di Kapuas Hulu, Sintang, Ketapang, dan Melawi. Hingga saat ini, penyebaran kelapa sawit terus meluas dan telah merusak ekosistem alam, khususnya hutan. Dilansir dari mongabay, Laili Khairnur, Direktur Lembaga Gemawan mengatakan bahwa realitas penguasaan sumber daya alam saat ini cenderung eksploitatif atau berskala besar, hak menguasai negara atau state dominant cenderung ambisius dengan orientasi ekonomi dan tidak bekelanjutan.

Melihat kondisi ini, alam tampak diam saja. Namun tanpa disadari, alam mulai muak dengan keegoisan dan ketamakan manusia. Pada tanggal 7 November 2021 dan 7 Oktober 2022 lalu, alam di Kalbar seolah berbicara. Banjir yang melanda 12 kecamatan di Sintang, 5 kecamatan di Kapuas Hulu (2021), dan 4 kecamatan di Ketapang (2022) menjadi bukti bahwa alam sudah enggan bersahabat dengan manusia. Manusia hanya memikirkan dunianya dan merusak alam demi mendapat keuntungan. Alam terus dirusak dan hutan menjadi sasarannya. Hutan yang dahulu menajadi primadona, sekarang telah terganti oleh hamparan kelapa sawit yang membuat panas membara. Tidak ada lagi hutan yang menyerap air dan tidak ada lagi akar yang menambat tanah. Semuanya telah menjadi lahan yang gersang dan tandus dengan alat berat beroperasi di atasnya. Lantas, kemanakah gelar paru-paru dunia ini akan dibawa? Apakah mungkin bumi Kalbar kembali pada masanya?

Melihat kondisi hutan Kalbar yang semakin memprihatinkan, membuat pemerintah sadar betapa pentingnya menjaga hutan supaya tetap lestari. Namun, yang menjadi permasalahan saat ini adalah masyarakat lokal dan pihak perusahaan “Kelapa sawit”. Masyarakat lokal kerap terbuai dengan rayuan maut pihak perusahaan dan menyerahkan dengan begitu saja hutan kepada perusahaan. Mereka terbius oleh uang yang ditawarkan pihak perusahaan. Mereka hanya memikirkan kenikmatan sesaat, tetapi tidak pernah melihat dampak yang akan muncul ke depan. Begitu pula dengan pihak perusahaan, mereka hanya memikirkan uang dan uang. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang merusak rumahnya sendiri. Mereka memang tidak merasakan secara lansung dampak dari ulah mereka, sebab mereka hidup dalam kelimpahan dan tidak tergantung pada alam. Akan tetapi, masyarakat yang hidup dari alam, harus berjuang keras memenuhi kebutuhan hidupnya. Hutan rusak, banjir di mana-mana, air bersih menjadi sulit didapatkan, hewan buruan dan makanan lainnya menjadi sulit ditemukan, dan masih banyak dampak lain ditimbulkan.

Maka, untuk mencegah pihak perusahaan”Kelapa sawit” membalak habis hutan Kalbar, perlu ada kerja sama antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat lokal. Kerja sama dapat berupa peninjauan ulang mengenai mekanisme yang tepat terkait pembukaan lahan sehingga tidak berpengaruh terhadap ekosistem alam dan manusia.

Selain itu, pemerintah yakni orang yang memilki hak dan wewenang harus membatasi ruang gerak perusahaan “Kelapa sawit”. Artinya apa? Harus ada batasaan terkait luas lahan yang dibuka, baik dalam bentuk undang-undang maupun aturan-aturan lainnya. Pihak yang melanggar aturan atau undang-undang ini harus mendapat sanksi yang tegas sehingga menimbulkan efek jera yang permanen. Pihak pemerintah yang menjadi penangung jawab utama, haruslah mereka yang memiliki hati bersih dengan semangat pelayanan yang totalitas kepada negara. Sebab jikalau tidak, sama halnya dengan memasukkan singa dan harimau ke kandang kijang. Kedunya akan memangsa target yang sama untuk kepentingannya sendiri.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya