Home Visit Solusi Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19

Home Visit Solusi Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19 23/06/2021 322 view Pendidikan Dokumen pribadi

Jumlah korban baik meninggal maupun terinfeksi yang selalu bertambah dari hari ke hari menunjukkan bahwa laju penyebaran Corona Virus Desease-19 semakin menggila. Berbagai upaya yang telah dan sedang dilakukan belum berhasil menangkal laju penyebaran Covid-19. Walau vaksin virus korona telah ditemukan namun pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masih tetap dijalankan. Konsekuensinya semua aktivitas di ruang publik yang mengumpulkan banyak orang terus dilarang.

Tidak terkecuali dunia pendidikan. Aktivitas pembelajaran di sekolah hingga kini belum menemui titik terang. Aktivitas pendidikan di setiap daerah disesuaikan dengan zona wilayah masing-masing. Namun secara umum tatap muka secara regular belum diijinkan sepenuhnya. Hal ini sesuai Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19) bahwa kesehatan lahir dan bathin siswa, guru, kepala sekolah dan seluruh warga sekolah harus menjadi pertimbangan utama melakukan aktivitas pendidikan di sekolah.

Menghentikan aktivitas pendidikan di sekolah dan merumahkan guru dan siswa bukan berarti pembelajaran ditiadakan. Pembelajaran tetap berjalan, hanya ruang belajar yang dipindahkan dari kelas ke rumah. Karena itu sebagai pembelajaran konvensional diganti dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Guru dan siswa menjalankan pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing.

Pembelajaran jarak jauh sebagai ganti pembelajaran konvensional bisa dilakukan dalam bentuk pembelajaran dalam jaringan (on line) tanpa tatap muka secara langsung dengan memanfaatkan jaringan internet dan aplikasi pembelajaran; Pembelajaran luar jaringan (off line) yang dijalankan tanpa memanfaatkan jaringan internet, bisa dilakukan dengan tatap muka, mendistribusikan buku bacaan, menonton televisi atau mendengar radio; blended learning yaitu perpaduan antara on line dan off line. Pilihan atas model pembelajaran jarak jauh yang digunakan tergantung pada sekolah dengan mempertimbangkan kondisi dan kesiapan masing-masing.

Secara faktual pembelajaran jarak jauh secara virtual lebih banyak dijalankan sekolah-sekolah di kota-kota besar yang memiliki akses dan fasilitas teknologi yang memadai. Sementara sekolah di pelosok yang akses dan fasilitas teknologi sangat terbatas sangat kesulitan menjalankan pembelajaran online. Karena itu pembelajaran secara offline menjadi pilihan.

Bila ditelisik lebih jauh, pendidikan di daerah terpencil memiliki problematika tersendiri. Dalam banyak hal daerah terpencil masih jauh tertinggal dengan kota. Infrastruktur pendidikan misalnya, walau pemerintah sudah memiliki program wajib belajar sembilan tahun namun ruang kelas, laboratorium, atau perpustakaan belum memadai. Begitu pun fasilitas pendukung lain seperti komputer dan jaringan internet.

Persoalan lain adalah partisipasi orang tua, keluarga atau masyarakat dalam pendidikan. Partisipasi di sini adalah bagaimana orang tua ikut terlibat dan bertanggungjawab dalam proses pendidikan anak. Tanggung jawab orang tua adalah sebatas menyiapkan kebutuhan anak seperti pakaian seragam, alat tulis menulis, membayar uang sekolah.

Ketika kebutuhan anak sudah terpenuhi maka selesai sudah tanggung jawab orang tua. Selebihnya adalah tugas guru. Tanggung jawab akademik dan pembentukan karakter anak sepenuhnya dibebankan kepada guru.

Selain itu ada banyak siswa di desa yang datang dari keluarga yang tidak “utuh.” Maksudnya siswa tersebut di rumah hanya tinggal dengan ibu, atau ayah, atau nenek. Sementara orang tua mereka, baik ayah, ibu atau ayah dan ibu berada di perantauan.

Jika dalam kondisi normal potret pendidikan di daerah terpencil sebagaimana digambarkan di atas, bisa dibayangkan seperti apa situasinya di saat pandemik korona sekarang ini. Sudah pasti proses pendidikan di saat pandemik ini sekarang lebih berat lagi. Karena itu menyerahkan kepada orang tua untuk mendampingi anak belajar dari rumah dan guru hanya memonitor dalam jarak jauh (dari rumah guru) sama dengan membiarkan pendidikan berjalan dalam kegelapan. Artinya berjalan atau tidaknya pembelajaran di rumah (siswa), tidak ada yang tahu.

Home Visit: Solusi Pembelajaran Jarak Jauh SMPN 3 Wulanggitang

Pada awal tahun pelajaran 2020/ 2021, pemerintah kabupaten Flores Timur mengizinkan sekolah-sekolah untuk melakukan pembelajaran tatap muka dengan sistim sift. Namun pada bulan September 2020 Flores Timur kembali masuk zona merah Covid-19. Melalui Surat Nomor: PKO.420/520/PSD-SMP.1/2020, pemerintah kembali melarang aktivitas pembelajaran di sekolah dan diganti dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kondisi ini terus diberlakukan hingga 05 Mei 2021 ketika Pemda Flotim melalui surat Nomor: PKO.420/18/Sekret.1/2021 kembali membolehkan pembelajaran di sekolah dengan sistem shif.

SMPN 3 Wulanggitang, lembaga pendidikan yang berada di desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur selalu mengikuti kebijakan Pemda Flores Timur. Ketika pembelajaran tatap muka dilarang, semua siswa SMPN 3 Wulanggitang dirumahkan. Dan pembelajaran dilakukan dari rumah dengan kunjungan rumah.

Sebagai gambaran, siswa SMPN 3 Wulanggitang berasal dari 8 desa dan atau kampung. Secara administrative desa-desa tersebut tersebar di dua kecamatan yaitu Wulanggitang dan Ile Bura. Dan secara geografis letak atau jarak desa-desa tersebut berjauhan satu dengan yang lain.

Dari sisi komunikasi, wilayah di dua kecamatan ini masih tergolong terbelakang. Dalam hal jaringan internet, desa-desa di wilayah Wulanggitang dan Ile Bura sudah kalah. Jangankan jaringan internet, jaringan telepon seluler saja masih ada desa yang belum menikmatinya. Di beberapa desa, tower telkomsel sudah berdiri, namun masih menggunakan jaringan 3G di mana jaringannya kadang-kadang mengalami gangguan karena masih mengandalkan mesin generator.

Dari sisi ekonomi, masyarakat tergolong ekonomi lemah. Latar belakang masyarakat/ orang tua murid mayoritas petani dan nelayan. Karena itu sekitar 90 persen siswa SMPN 3 Wulanggitang tidak memiliki HP dan atau laptop. Dari gambaran ini, SMPN 3 Wulanggitang jelas tidak bisa menjalankan pembelajaran jarak jauh secara online. Karena itu pilihan logis adalah pembelajaran dilakukan secara offline. Kunjungan ke desa-desa tempat tinggal siswa mesti dilakukan. Guru harus melakukan home visit.

Home visit dilakukan satu kali dalam satu minggu yaitu pada hari Sabtu. Selama pembelajaran dari rumah, guru mata pelajaran menyiapkan bahan ajar dan soal latihan bagi siswa. Selain itu, siswa juga diberi tugas secara umum yaitu menanam tanaman umur panjang, membuat/ menulis daftar kosa-kata/ kata-kata sulit/ baru/ asing bagi mereka, dan menulis aktivitas hariannya di jurnal sesuai format yang disiapkan sekolah.

Demi kelancaran kegiatan home visit, kerja sama dengan pemerintah desa pun dibangun. Lembaga sekolah menyurati pemerintah desa untuk memberitahu kegiatan yang akan dilakukan dan meminta bantuan pemerintah untuk mengumumkan/ memberitahukan kepada orang tua siswa kegiatan dimaksud.

Dari pengalaman saya mengunjungi siswa di rumah, ada banyak hal positif yang diperoleh. Melalui home visit, guru bisa menemui siswa secara langsung, menanyakan kabar mereka, kondisi dan keadaan mereka. Juga melihat secara langsung keadaan lingkungan tempat tinggal siswa. Latar belakang keluarga dan lingkungan juga turut mempengaruhi proses pendidikan anak.

Dalam berbagai kesempatan home visit, saya bertemu dan berdiskusi dengan orang tua siswa. Sumber informasi tentang diri siswa yang paling dekat adalah keluarga dalam hal ini orang tua. Informasi penting tentang siswa saya dapatkan ketika berdialog dengan orangtua mereka. Kelengkapan informasi ini sangat berguna dalam mengembangan potensi-potensi yang dimiliki siswa.

Banyak hal-hal positif yang didapat ketika melakukan home visit dalam pembelajaran jarak jauh selama masa pandemic Covid-19. Kedekatan (emosional) dengan orangtua (siswa) sungguh dialami. Sesuatu yang sesungguhnya hilang selama pembelajaran di waktu “normal.” Suasana dialogis, sentuhan emosi benar-benar dirasakan dalam kegiatan home visit. Suatu hal yang tidak terjadi dalam pembelajaran secara virtual.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya