Hijrah Anti Kesasar

Anak Rumahan
Hijrah Anti Kesasar 03/04/2021 53 view Agama serikatnews.com

Minggu lalu kita dihebohkan dengan aksi terorisme yang terjadi di Gereja Katedral Makasar. Masih hangat berita tersebut di media-media massa, aksi terror lainnya menyusul terjadi. Kali ini seorang perempuan yang membawa pistol menerobos masuk ke Mabes Polri. Dia melepaskan beberapa tembakan sebelum akhirnya ditembak mati oleh aparat berwenang.

Aksi terorisme dan extrimisme pasti ada di setiap agama. Tidak hanya Islam, beberapa aksi terorisme di dunia juga berkedok extrimisme terhadap suatu kelompok hingga menimbulkan efek kebencian yang teramat-sangat kepada orang-orang di luar kelompoknya. Hal inilah yang akhirnya melahirkan terorisme. Kesalahan bukanlah terletak pada ajaran agamanya, namun terletak pada bagaimana individu memahami agamanya, tingkat fanatisme dan juga doktrin-doktrin yang diajarkan.

Sayangnya aksi terorisme ini sering sekali dikait-kaitkan dengan ketaatan beragama seseorang. Katika seseorang mulai taat beragama, kekhawatiran akan tindakan-tindakan ekstrim mulai muncul. Tidak jarang kita mendengar suara-suara sumbang tertuju kepada mereka yang berusaha menjadi lebih baik dalam hal beragama.

Kata-kata seperti, “Jangan jadi Islam fanatik”, atau “Hijrah jangan jauh-jauh, nanti kesasar” sering sekali kita dengar. Permasalahannya, apakah benar ketika seseorang berhijrah atau menjadi taat pada agama pasti akan berujung pada aksi terorisme? Saya rasa tidak.

Di sini kita harus memisahkan antara dua hal yang sangat berbeda. Yang pertama adalah hijrah yang sesungguhnya dan yang satunya lagi adalah hijrah salah kaprah. Sebelum melakukan proses hijrah, tentulah seseorang harus mengetahui apa itu hijrah.

Dari yang saya pahami, hijrah bukanlah semua tujuan. Melainkan sebuah proses seseorang untuk menjadi lebih baik. Jadi tujuannya jelas yaitu menjadi lebih baik, lebih baik di mata Tuhan, masyarakat dan juga alam semesta. Jika menjadi tidak lebih baik, dapat dipastikan jika itu bukanlah proses hijrah yang benar.

Yang menjadikan seseorang tersesat dalam proses hijrah bukanlah jauh atau dekat proses hijrah tersebut. Namun, apakah seseorang mengetahui dengan pasti tujuan hijrahnya, mengetahui pedoman hijrahnya dan juga mengetahui makna dari proses hijrahnya.

Kita lihat bagaimana proses Rasulullah SAW saat hijrah. Beliau berhijrah atas dasar ketaatan kepada Allah. Dan untuk itu, maka yang menjadi landasan dan pedoman utama adalah Al-Quran. Bila dibaratkan sebuah perjalanan, Al-Qur’an adalah sebuah peta yang akan menunjukkan arah kemana kita harus pergi.

Namun sayangnya tidak semua orang mahir dalam membaca peta. Walaupun peta sudah tersedia, tetap saja ada orang-orang yang tersesat dalam perjalannya karena gagal memahami petunjuk dalam peta. Itulah mengapa kita membutuhkan tour guide atau pemandu yang akan memandu kita dalam perjalanan hijrah kita yaitu Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW sudah meninggalkan semua hal yang kita perlukan dalam perjalanan hijrah kita. Jadi, jika tidak ingin tersesat, tentulah kita harus mengikuti beliau. Tapi ternyata, ada banyak orang yang merasa lebih tahu dari pada Rasulullah dan membuat aturan baru dalam beragama.

Bila kita melihat lebih dalam, orang yang tersesat dalam proses hijrah hingga berujung pada aksi terorisme tentu gagal paham terhadap ajaran agama Islam. Sebagai seorang Muslim kita mengetahui dengan jelas dan tegas jika bunuh diri itu adalah hal yang sangat dilarang dalam Islam. Lantas bagaimana bisa surga didapatkan dengan melakukan sesuatu yang sangat dilarang?

Bahkan dalam peperangan sekalipun. Kita tahu bahwa Islam bukanlah agama yang melarang perang. Jika kondisi mendesak dan perang tidak bisa dihindari maka dibolehkan untuk berperang. Tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Salah satunya tidak boleh merusak gejera, sinagog atau kuil-kuil tempat peribadatan umat lain.

Dari sini saja sudah terlihat jelas, jika orang-orang yang melakukan aksi terorisme atas dasar agama tidak memahami agamanya dengan baik. Dan sudah pasti pemahaman-pemahaman tentang jihad di jalan Allah dengan aksi terorisme adalah sebuah kekeliruan yang nyata.

Sebagai umat Islam, kita tentu mengecam dan membenci aksi terorisme dengan kedok apapun. Namun, kita juga harus bisa melakukan sesuatu untuk mencegah hal tersebut agar tidak terulang lagi. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah aksi terorime ini? Apakah dengan melarang pengajian atau perkumpulan agama akan menyelesaikan masalah ini?

Sepertinya tidak. Justru pemahaman-pemahaman keliru tentang agama harus dihilangkan dengan memberi pemahaman yang benar. Alih-alih melarang pengajian dan perkumpulan agama, kita seharusnya lebih memasifkan kegiatan tersebut. Tujuannya, agar pemahaman agama Islam yang benar dapat menyentuh ke semua lapisan masyarakat. Jadi kelompok-kelompok ekstrim yang jumlahnya kecil dapat tersingkir dengan sendirinya.

Kelompok-kelompok pengajian yang bersifat umum dan terbuka tentu tidak akan menjadi masalah. Belum lagi teknologi yang mendukung penyebaran informasi dengan cepat akan memudahkan pemerintah untuk mengontrol bibit-bibit ekstrimisme di masyarakat. Yang menjadi masalah adalah bila perkumpulan-perkumpulan tersebut diadakan secara sembunyi-sembunyi dan tertutup. Inilah yang kelak akan menjadi bibit-bibit terorisme yang tumbuh subur.

Dari sini kita paham jika proses hijrah itu harus dilalui oleh semua orang. Bukan proses hijrahnya yang menjadikan seseorang tersesat. Namun, kegagalan memahami petunjuk dan sikap fanatisme yang menjadikan seseorang akhirnya tersesat dalam proses hijrah yang seharusnya membawa kebaikan. Bukan hanya kebaikan untuk diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat, agama dan alam semesata.

Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang menjadi rahmat (kasih sayang) bagi alam semesta. Bukan Islam yang menebar kebencian dan ketakutan. Untuk itu janganlah takut untuk berhijrah. Karena hijrah adalah sebuah perjalanan, maka berjalanlah sejauh mungkin. Namun pastikan dalam perjalanan tersebut kita membawa peta, memahami petunjuk, dan mengikuti pemandu yang sudah diberikan, supaya tidak tersesat.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya