Hidayah; untuk Berpikir dan Bersikap

Mahasantri Mahad Aly Salafiyah Syafi'iyyah Situbondo
Hidayah; untuk Berpikir dan Bersikap 29/05/2021 111 view Agama tirto.id

Kata mereka “Agama adalah keyakinan. Jadi agama bukan kebenaran berdasarkan nalar pikir, tapi merupakan kebenaran melalui pembenaran hati”. Perkataan tersebut benar, tapi bisa disalahpahami kemudian salah diaplikasikan.

Semisal, “Agama bukan kebenaran melalui nalar pikir” disalahpahami oleh oknum tindak kekerasan atas-nama agama. Ketika mereka dibantah oleh argumen rasional, mereka menjawab “Agama adalah keyakinan. Dan keyakinan tidak bisa dinalar oleh rasio akal. Kebenaran agama adalah hidayah Tuhan bagi orang yang dipilihNya. Jadi meskipun kalian punya argumen untuk menyanggah kami, saat itulah kami tetap meyakini bahwa tindakan kami benar”.

Banyak orang yang mampu menjangkau kebenaran ajaran Islam namun tidak mengimani Islam karena mereka tidak diberi hidayah oleh Tuhan. Banyak juga, orang yang mengimani Islam namun tidak pernah berpikir tentang nilai-nilai ajaran Islam sehingga mereka berstatus Islam dan sering melakukan tindakan atas nama Islam tanpa memikirkan apakah tindakan mereka berdampak positif atau negatif.

Islam mengajarkan bagaimana mendayagunakan logika sekaligus mensinergikan akal dan hati. Di dalam Alquran banyak ungkapan “orang tidak diberi hidayah” sebagai gambaran untuk orang yang tidak menggunakan nalar akalnya dengan benar. Semisal ayat “Mereka menjual hidayah untuk membeli kesesatan, maka perdagangan semacam ini tidak akan memperoleh keuntungan apapun. Mereka itu sungguh tidak diberi hidayah oleh tuhan” (QS. al-Baqarah: 16).

Dalam beragama jika tidak menggunakan nalar akal cenderung akan memiliki nafsu keagamaan yang tidak benar. Maka disinilah penting mendialogkan nafsu dan akal guna mampu berpikir dan bersikap dengan benar.

Nafsu menurut para pakar merupakan jalan masuk setan menggoda manusia. Pada nafsu terdapat emosi, hasrat, karakter kebinatangan dan sebagainya. Nafsu membisiki manusia untuk mengamini pilihan bersikap anarkis, mengintimidasi, arogan, ambisi jabatan, dan sebagainya.

Namun, jika nafsu telah jinak maka akan berubah haluan menjadi muatan-muatan nilai positif yang disuguhkan kepada manusia olehnya (nufsu); semisal hasrat untuk menjaga keistiqamahan sebenarnya adalah egoisme seseorang namun merupakan egoisme yang positif sebab nafsu telah jinak.

Akal memberi pilihan kepada manusia berdasarkan kesimpulan berpikirnya. Akal terkadang berpikir positif, terkadang berpikir negatif. Adalah pilihan negatif yang disuguhkan akal kepada manusia di saat akal berpikir negatif, begitupun akal menyuguhkan pilihan positif kepada manusia di saat akal berpikir positif.

Nafsu bisa dipengaruhi oleh akal sebagaimana akal bisa dipengaruhi oleh nafsu. Dan secara umum, masing-masing nafsu dan akal bisa dipengaruhi oleh lingkungan dan kebiasaan.

Seseorang berpikir bahwa bertindak anarkis akan merusak kestabilan sosial namun ia tetap bertindak anarkis karena akalnya itu kalah oleh nafsunya yang menyuguhkan pilihan arogan untuk mendapat kekuatan politik di tengah sosial.

Seseorang berpikir bahwa tidak boleh memikirkan orang lain, pikirkan diri sendiri saja, sehingga tidak perlu bersedekah meskipun kaya karena memikirkan diri sendiri berarti segala yang dipunya hanya untuk diri sendiri bukan pula untuk orang lain. Namun karena masyarakat sekitar sering mengadakan acara menjamu tetangga, nafsu orang ini pun jinak sehingga karena nafsunya ia ingin besedekah; bernafsu untuk bersedekah.

Seseorang memiliki hasrat (nafsu) untuk melakukan salat berjamaah karena merasa tak nyaman kepada tetangga yang semuanya (para tetangga) melakukan salat berjamaah. Namun ia berpikir bahwa tidak baik jikalau seseorang didekte oleh sekitar, jadi jangan terdekte oleh kebiasaan tetangga salat berjamaah sebab seseorang harus menjadi dirinya sendiri. Sehingga dengan berpikir seperti ini, seseorang tersebut mengurungkan hasratnya untuk salat berjamaah.

Seseorang memiliki hasrat untuk melakukan amar makruf nahi munkar dengan cara kekerasan karena soal agama harus ditegakkan bagaimanapun cara dan resikonya. Namun seseorang tersebut berpikir bahwa agama yang baik adalah agama yang tidak merestui kekerasan. Sehingga kesimpulan berpikirnya mengalahkan nafsunya yang hendak melakukan tindak kekerasan atas nama agama.

Mencermati pembahasan akal dan nafsu di atas, setidaknya bisa dibayangkan bagaimana kompleksitas pembahasan terkait pengaruh keduanya (akal dan nafsu) terhadap manusia. Akal dan nafsu merupakan dua perangkat dalam diri manusia yang berpotensi saling menindih dan berdialog untuk memberikan pilihan-pilihan bagi manusia.

Bagaimanapun kebenaran agama bagi pemeluknya merupakan hidayah dari Tuhan, tetap tidak bisa dilepaskan (kebenaran agama) dari daya fungsi akal dan pertautannya (akal) dengan nafsu. Hidayah dalam bahasa kita merupakan "hudan" dalam bahasa Arab. Hudan berarti petunjuk; hidayah: petunjuk. Maka petunjuk kebenaran agama dari Tuhan dibaca oleh siapa atau apa?

Sebagai bandingan, Alquran disebut sebagai "al-burhān al-mubīn"; bukti/argumen yang jelas (tentang kebenaran agama). Maka Alquran sebagai bukti kebenaran agama jelas bagi siapa atau apa?

Jawaban pertanyaan di atas, bahwa petunjuk Tuhan itu tidak lain dibaca oleh akal dan nafsu manusia. Alquran sebagai bukti kebenaran agama menjadi jelas untuk akal yang didayagunakan secara benar dan untuk nafsu manusia yang telah dijinakkan.

Akhirnya, membaca dengan nalar rasio yang benar menggunakan akal serta membaca dengan nafsu yang telah dilatih dan dibebaskan dari karakter-karakter setan adalah tentang makna hidayah yang sebenarnya. Jadi (umpama) jangan mengaku dapat hidayah kalau masih malas berpikir.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya