Harmoni Iman di Tengah Kekerasan

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang
Harmoni Iman di Tengah Kekerasan 06/03/2024 95 view Agama mualliminenamtahun.net

Paradigma pemikiran agama yang menitikberatkan pada keselarasan di Indonesia saat ini masih terbilang kurang. Walaupun prinsip-prinsip dasar agama-agama yang ada bertujuan untuk menciptakan kedamaian, kasih persaudaraan, dan kerukunan dalam kehidupan bersama, namun kenyataannya tidak selalu sesuai dengan harapan tersebut.

Kurangnya pemahaman yang mendalam mengenai Tuhan terkadang menghasilkan ajaran yang kurang tepat. Ajaran semacam ini bisa mengakibatkan pemahaman yang keliru dan menyimpang, bahkan bisa mencetuskan kekerasan dan ketakutan.

Seharusnya, manusia memprioritaskan dialog dan toleransi untuk menyatukan perbedaan dalam keyakinan agama masing-masing. Hanya manusia yang bisa menyesatkan orang lain dengan ajaran dan indoktrinasi yang tidak benar. Peristiwa seperti pengeboman dan kekerasan atas nama agama muncul sebagai hasil dari pemahaman agama yang salah, padahal seharusnya agama apapun mengajarkan kasih sayang dan persaudaraan.

Secara etimologis, agama berasal dari kata "a" dan "gama," yang bermakna ketenangan. Secara umum, agama merujuk pada usaha manusia dalam membentuk kedamaian dan harmoni dalam masyarakat dengan tindakan-tindakan pencegahan dan penanganan terhadap kekerasan. Agama timbul sebagai respons terhadap konflik dalam kehidupan bersama.

Dengan pengertian tersebut, agama pada dasarnya adalah pemahaman tentang budaya yang mengajarkan etika dan perilaku yang baik dan buruk, yang kemudian tertanam dalam kehidupan manusia. Agama berperan sebagai alat untuk menangani masalah dan konflik dalam masyarakat. Agama juga mencerminkan keyakinan spiritual yang paling dalam yang dimiliki oleh manusia. Hidup dalam agama mempengaruhi perilaku dan tindakan seseorang. Namun, manusia perlu mencari makna tertinggi dalam kehidupan beragama.

Seiring perkembangan zaman, agama telah mengalami transformasi menjadi sesuatu yang agung, bukan hanya sebagai fenomena budaya yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan. Agama memiliki nilai yang tinggi dan menghubungkan manusia dengan Yang Maha Kuasa. Konsep agama juga sering menjadi topik pembicaraan di ruang publik. Hidup beragama di Indonesia sangat kuat dan penuh semangat. Setiap individu memiliki keyakinan dan kepercayaan masing-masing, namun pemahaman yang beragam dapat menyebabkan pilihan ajaran yang tidak tepat.

Insiden bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar pada Minggu pagi, tanggal 28 Maret, menyebabkan dua pelaku tewas dan 20 orang lainnya terluka. Kebanyakan korban mengalami luka serius di bagian wajah, leher, perut, tangan, dan kaki akibat pecahan bom. Presiden Joko Widodo menyebut serangan tersebut sebagai kejahatan kemanusiaan yang tidak dapat diterima dalam ajaran agama apapun. Peristiwa ini terjadi pada hari Minggu Palma yang diperingati untuk menyambut Yesus sebagai raja, sehingga tindakan gelap ini sungguh mengerikan.

Agama-agama di seluruh dunia seharusnya mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Tindakan terorisme yang mengatasnamakan agama adalah suatu bentuk kejahatan yang harus ditentang. Teroris yang terlibat dalam serangan semacam ini cenderung merupakan orang-orang muda yang direkrut dan dipengaruhi oleh paham radikal dan ajaran sesat.

Kekerasan atas nama agama sering kali dipicu oleh fanatisme agama, fundamentalisme, dan integritas yang menyebabkan eksklusivitas, konflik, pertikaian, dan kekerasan. Individu yang menggunakan agama sebagai alasan untuk bertindak kekerasan seringkali memiliki pandangan agama yang sempit, keras, dan provokatif. Agama seharusnya dihayati dalam nilai-nilai yang tinggi, karena memiliki dampak sosio-psikologis yang kuat pada emosi dan spiritual manusia. Kekerasan yang menggunakan agama sebagai dalih sering terjadi, seperti dalam serangan terhadap gereja. Dialog dan pemahaman yang mendalam mengenai agama dapat membantu mengatasi konflik dan kekerasan yang muncul akibat pemahaman yang salah.

Dialog Persaudaraan antara individu yang memiliki keyakinan agama yang berbeda sering kali sulit dilakukan karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang agama orang lain. Ini sering mengarah pada pemilihan ajaran yang salah, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kekerasan, penistaan, dan intimidasi terhadap agama lain. Oleh karena itu, agama harus lebih fokus pada dimensi spiritual daripada kekerasan.

Keyakinan seseorang seharusnya mendorongnya untuk berperilaku baik dan memahami orang lain. Kekerasan dan penistaan terhadap kelompok lain yang memiliki keyakinan yang berbeda harus dihindari, karena hanya akan memperkeruh konflik dan ketidaksetaraan. Untuk menjaga kedamaian dan kesatuan, manusia harus memahami nilai-nilai seperti kasih persaudaraan, dialog, persahabatan, rekonsiliasi, dan cinta damai. Dengan menghayati nilai-nilai ini, persaudaraan antara individu dengan keyakinan yang berbeda dapat terwujud dan saling mendukung dalam membangun masa depan
yang lebih baik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya