Hari Ibu dan Pemenuhan Hak-Hak Perempuan

Pegiat HAM
Hari Ibu dan Pemenuhan Hak-Hak Perempuan 22/12/2020 784 view Lainnya Suara Kita

Memasuki pertengahan bulan Desember, imajinasi terbawa pada peristiwa 92 tahun yang lalu. Hari-hari ini pasti beberapa Ibu di Yogyakarta sedang sibuk mempersiapkan sebuah perhelatan besar. Kongres Perempuan Indonesia.

Sebuah pertemuan besar kaum perempuan pertama dari berbagai daerah di Indonesia yang masih berstatus sebagai negara Hindia Belanda. Bisa dibayangkan bagaimana Ibu R.A. Soekonto yang menjadi ketua bersama wakilnya, Nyi Hajar Dewantoro dan Nona Soejatien yang bertindak sebagai sekretaris menjalani Hari-hari penuh kesibukan.

Mungkin juga rapat-rapat hingga larut di salah satu rumah mereka. Komitmen dan kegigihan mereka tidak diragukan lagi. Dari mulai memunculkan gagasan hingga merealisasikan sebuah acara Kongres yang akan diikuti oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra merupakan kerja luar biasa.

Terlebih pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 600 orang tersebut memiliki tujuan memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan pernikahan.

Kerja keras yang membutuhkan tekad, keberanian dan energi luar biasa. Sebagian besar peserta adalah kaum Ibu, termasuk panitia yang mempunyai keluarga baik orang tua, suami dan anak.

Pada hari-hari ini, mungkin saja banyak meninggalkan rumah untuk rapat persiapan bukan hanya pada acara yang berlangsung selama 3 hari namun juga mungkin koordinasi dengan para peserta dari luar daerah, transportasi dan penginapan untuk peserta.

Dalam kondisi yang tentu saja berbeda dengan kemajuan tehnologi di bidang komunikasi dan transportasi seperti saat ini. Belum ada telepon seluler, laptop, agen-agen penerbangan dan lain sebagainya.

Kota Yogya juga belum dipenuhi jalan-jalan beraspal, taksi dan hotel. Tapi sekali lagi, komitmen dan tekad menjadi nafas semangat para ibu ini. Maka sudah sepatutnya kita mengucap terimakasih pada mereka, baik panitia maupun peserta yang sudah bersedia melepaskan rutinitas sehari-hari untuk memikirkan kaum perempuan di Hindia Belanda (Indonesia) sehingga kita yang hidup di hari ini bisa menikmati hak-hak perempuan 92 tahun yang lalu.

Kongres diadakan di sebuah pendopo Dalem Jayadipuran, milik seorang bangsawan, R.T. Joyodipoero (berganti nama menjadi Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta) di Jalan Brigjen Katamso.

Pembukaan Kongres dihadiri oleh sekitar 1000 orang yang terdiri dari para tokoh organisasi terkemuka di Hindia Belanda seperti Boedi Oetomo, PNI, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah dan Jong Islamieten Bond. Juga sejumlah tokoh penting antara lain Mr. Singgih dan Dr. Soepomo dari Boedi Oetomo, Mr. Soejoedi (PNI), Dr. Soekiman (PSI) dan A.D. Haani (Walfadjri).

Pemerintah Hindia Belanda, Van der Plas mengirimkan istri seorang pegawai bawahannya, Patih Datoek Toemenggoeng, untuk menghadiri kongres dan membuat laporan sesudahnya. Nama istrinya adalah Rangkajo Chairoel Sjamsoe Datoek Toemenggoeng, seorang Minang pemimpin gerakan perempuan. Dalam laporannya Rangkajo menyebutkan bahwa sekitar 600 perempuan hadir mewakili generasi tua dan muda, berpendidikan dan tidak berpendidikan.

Pada kongres tersebut para tokoh perempuan juga membacakan pidato dengan tema-tema seperti "Pergerakan Kaoem Isteri, Perkawinan & Pertjeraian", oleh Ny. R.A. Soedirman (Poeteri Boedi Sedjati). "Deradjat Perempoean", oleh Ny. Siti Moendjijah (Aisjijah Djokjakarta). "Perkawinan Anak-Anak", oleh Saudari Moegaroemah (Poeteri Indonesia). "Kewadjiban & Tjita-Tjita Poeteri Indonesia", oleh Saudari Sitti Soendari. "Bagaimanakah Djalan Kaoem Perempoean Waktoe Ini & Bagaimanakah Kelak", oleh Saudari Tien Sastrowirjo. "Kewadjiban Perempoean di Dalam Roemah Tangga", oleh Saudari R.A. Soekonto (Wanita Oetomo). "Hal Keadaan Isteri di Europah", oleh Ny. Ali Sastroamidjojo. "Keadaban Isteri", oleh Nyi Hajar Dewantoro.

Pada peringatan ke-25 Kongres ini, tepatnya pada tanggal 22 Desember 1953, Presiden RI Soekarno menetapkan hari tersebut sebagai Hari Ibu Nasional melalui Dekrit Presiden RI No. 316 Tahun 1953.

Sejak saat itu, setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia. Hingga hari ini pun kita masih memperingati perjuangan para Ibu dan perempuan muda melalui kongres perempuan terbesar pertama di negri ini.

Hari ini kemudian direpresentasikan atau rekonstruksi menjadi hari untuk menghargai Ibu, terutama keluarga kelas menengah ke atas. Tiap keluarga memiliki cara sendiri untuk menunjukkan penghargaannya pada ibu, nenek dan kaum perempuan. Kini melalui media sosial, setiap tanggal 22 Desember bertebaran ucapan selamat hari ibu. Produk-produk yang berkaitan dengan (stereotype) perempuan mulai dari kosmetik, aksesoris, tas dan alat rumahtangga melakukan penawaran diskon untuk ikut meramaikan hari ibu.

Pendekonstruksian makna hari ibu dan kongres perempuan pertama tidak sepenuhnya salah walaupun ada mispersepsi. Dalam masyarakat patriarkhis, mau tidak mau, suka tidak suka, peran ibu dan perempuan masih ditempatkan pada ruang domestik dan kapitalisme dengan jelinya menangkap serta mengerahkan kegemaran perempuan pada produk-produk yang menunjang gambaran atas penampilan dan kecantikan perempuan.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan keinginan untuk tampil menarik dan menunjukkan eksistensi diri melalui penampilan lalu berlomba-lomba membeli berbagai produk dengan diskon yang menggiurkan. Namun menjadi keliru pada pemaknaan Hari Ibu dan penghargaan atas jasa para ibu.

Kembali pada energi besar yang tercurah dari sekitar 600 perempuan selama 3 hari kongres, menjadi tidak sepadan ketika hanya berlaku sebagai seremonial ucapan selamat dan pemberian hadiah. Hak-hak perempuan tidak semata-mata berkisar pada penghargaan atas kerja-kerja domestik dan penampilan. Tidak juga serta merta terpenuhi dan menjadi kesadaran untuk berlakunya kesetaràan gender.

Pengabaian hak-hak perempuan, setelah 92 tahun masih terus terjadi. Kesetaraan seolah-olah telah terpenuhi dengan keikutsertaan perempuan dalam Pemilu, sejumlah perempuan yang menempati jabatan tinggi dalam pemerintahan dan sejumlah besar perempuan bekerja di sektor publik terutama menjadi buruh pabrik dan sektor informal. Menjadi seolah-olah ketika cara pandang masyarakat didukung secara sosial, budaya dan politik, seperti undang-undang masih menempatkan perempuan dalam posisi domestik atau peran pendamping. Dapat dilihat dari beban peran ganda perempuan serta posisi dalam jabatan publik. Salah satu contohnya adalah pengambilan keputusan dalam sebuah keluarga lingkungan terkecil seperti RT dan komunitas lainnya.

Peringatan Hari Ibu sangat berkaitan dengan pemenuhan hak-hak perempuan dan berlakunya kesepakatan kolektif atas kesetaraan gender. Karena hal-hal tersebut yang menjadi tujuan penyelenggaraan Kongres Perempuan pertama dan melahirkan peringatan Hari Ibu hingga hari ini. Terbayang kembali cucuran keringat Ibu R.A. Soekonto, Nyi Hajar Dewantoro dan Nona Soejatien bersama seluruh panitia serta para peserta yang dengan penuh semangat berjuang agar hak-hak perempuan terpenuhi.

Ibu, perempuan yang setelah menikah dan kemudian didaulat atau mendaulatkan diri sebagai Ibu, layak untuk dihargai. Baik oleh dirinya sendiri maupun keluarga dan lingkungan. Tapi terutama adalah perempuan Ibu itu sendiri. Kebanyakan perempuan Ibu justru melemahkan peran dan mengecilkan arti penghargaan atas dirinya sendiri. Perempuan Ibu, dengan kerja kerasnya, dengan energi dan keberaniannya (bagi sebagian perempuan adalah saat hamil serta melahirkan) patut merayakan penghargaan atas dirinya sendiri. Bukan sekedar melalui kemanjaan dari keluarga atau hadiah namun dirinya memiliki peran besar atas kelangsungan kehidupan. Perempuan Ibu juga berhak untuk menikmati menjadi dirinya sendiri sebagai perempuan, menghargai keinginan-keinginannya, menghargai tubuh dengan segala bentuknya, menghargai gagasan-gagasannya dan suaranya.

Menghargai Ibu bukan sebatas pada peringatan setiap tanggal 22 Desember namun penghargaan setiap harinya. Perasaan, tetes keringat dan pemeliharaan atas kehidupan. "But seizing legislative and economic power is not the same as getting help with the dishes. While equal partnership in heterosexual relationships is surely an advantage for both concerned. We are kidding ourselves if we refuse to recognize the gravity of what parity for women really means to men in political and economics terms. Are we ready to embrace equality?" (Naomi Wolf, 1994). "Evidence that women put limits upon themselves is everywhere" (Rosalind Coward, 2001). Jadi, kita akan merayakan Hari Ibu, mengenang perjuangan para perempuan di Kongres Perempuan pertama serta merayakan perempuan. Selamat Hari Ibu.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya