Hari Buku, Perpustakaan dan Budaya Membaca

Guru SMPN 3 Wulanggitang, Flores Timur
Hari Buku, Perpustakaan dan Budaya Membaca 22/05/2020 514 view Pendidikan Pixabay.com

Tanggal 17 Mei diperingati sebagai hari buku nasional. Indonesia menetapkan hari tersendiri untuk merayakan hari buku nasional. Perayaan ini tidak lebih dari sebulan setelah peringatan hari buku internasional, 21 April. Ditambah dengan hari buku internasional, dalam setahun kita 2 kali merayakan hari buku. Luar biasa!

Penetapan hari buku nasional adalah sebentuk pengakuan akan pentingnya buku bagi peradaban manusia. Sebagaimana ungkapan klasik “Buku adalah jendela dunia”, buku menyimpan banyak pengetahuan. Dari buku kita memperoleh banyak informasi.

Perayaan hari buku juga sebagai upaya memasyarakatkan buku; mendekatkan buku kepada masyarakat. Adanya momen tersebut diharapkan dapat menjadi pemacu agar minat baca masyarakat Indonesia meningkat.

Setiap orang punya pengalaman berbeda dengan buku. Ada yang menjadikan buku sebagai sahabat. Yang lain sebaliknya tidak pernah jatuh cinta pada buku. Kalau kita membaca riwayat para tokoh besar bangsa Indonesia bahkan dunia, kita menemukan bahwa mereka adalah kutu buku. Pencinta buku kelas berat. Kehidupan mereka sangat dekat dengan buku; memiliki hubungan yang erat dengan buku sebagai pembaca yang setia. Kapan dan dimana pun selalu ditemani buku.

Salah satu tokoh bangsa penggila buku adalah Moh. Hatta. Sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia, perjuangan Bung Hatta dalam mengusir kaum penjajah dari bumi Indonesia dipengaruhi oleh buku-buku yang beliau baca. Aktivitas politiknya yang dianggap membahayakan pemerintah kolonial membuat beliau menjadi incaran.

Karena begitu dekat dengan buku, ketika ditangkap dan dibuang ke Boven Digoel, Bung Hatta berujar, “Aku rela dipenjara asal bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Bersamanya 16 peti buku dibawa ke penjara.

Secara historis, penetapan hari buku nasional bertepatan dengan momentum berdirinya perpustakaan nasional, 17 Mei 1980. Penetapan hari buku nasional yang diperingati sejak 2002 digagas Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Abdul Malik Fadjar bersama masyarakat perbukuan dengan tujuan memacu minat baca masyarakat.

Dasar penetapan ini bukan tanpa alasan. Buku dan perpustakaan adalah dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Perpustakaan dikenal sebagai pusat informasi dan sumber ilmu pengetahuan karena di sana buku-buku disimpan. Tanpa ada buku, perpustakaan hanyalah bangunan kosong tanpa isi. Sebaliknya dengan adanya perpustakaan buku-buku memiliki tempat yang laik untuk dijangkau pembaca. Melalui perpustakaan buku mendapat ruang menemui pembaca.

Kita patut berbangga Indonesia memiliki gedung perpustakaan nasional yang megah. Gedung yang dibangun dengan menggunakan anggaran multi years (2013-2016) ini menelan sekitar Rp 465,207 miliar.

Fasilitas yang tersedia dalam gedung perpustakaan nasional antara lain ruang layanan keanggotaan perpustakaan nasional, ruang teater, ruang zona promosi budaya baca, data center, layanan anak, lansia dan disabilitas, layanan koleksi buku langka hingga layanan multimedia. Gedung yang diresmikan presiden Jokowi pada 14/09/2017 ini terdiri atas 27 lantai dan menjadi gedung perpustakaan tertinggi di dunia.

Saya membayangkan wajah Presiden Jokowi ketika meresmikan gedung perpusnas. Sudah pasti beliau sangat bangga. Di masa kepemimpinannya, Indonesia mampu membangun “gudang ilmu” tertinggi di dunia. Ini akan menjadi warisan monumental bangsa.

Melihat gedung megah tersebut, nalar kritis kita perlu bertanya: apakah pembangunan gedung yang megah di jantung ibu kota negara mampu dijangkau seluruh lapisan masyarakat? Dan apakah tingginya gedung tersebut sungguh merepresentasikan budaya membaca masyarakat?

Beberapa survey tentang budaya membaca bangsa kita dengan terang menunjukkan bahwa tingginya gedung perpusnas berbanding terbalik dengan budaya membaca bangsa. Taufik Ismail, sebagaimana ditulis Adkhilni, dalam penelitian tentang pengajaran sastra dan mengarang di SMU di beberapa negara melaporkan bahwa setiap tahun di Amerika siswa ditugasi membaca novel sastra sebanyak 32 judul, Belanda 30 judul, Perancis 20 judul, Jerman 22 judul, Jepang 15 judul, Kanada 13 judul, Singapura 6 judul, Brunei 7 judul, Thailand 5 judul, sedangkan Indonesia 0 (nol) judul (dalam Irkham, 2008:12).

UNESCO pernah merilis hasil survey terhadap minat baca masyarakat Indonesia yaitu 0,001 persen. Artinya diantara 1000 orag hanya 1 orang yang memiliki budaya membaca. Pada tahun 2016, Central Connecticut State University dari Amerika Serikat merilis hasil tingkat literasi dimana Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang disurvey.

Terkait kondisi kemelek-hurufan ini, Ignas Kleden membaginya dalam tiga kategori. Pertama, melek huruf teknis yaitu mereka yang tergolong secara teknis dapat membaca, tetapi secara fungsional dan budaya sebetulnya buta huruf. Kedua, melek huruf fungsional, yaitu mereka yang tergolong membaca dan menulis sebagai fungsi yang harus dijalankan karena konsekuensi pekerjaan.

Ketiga, melek huruf budaya, adalah orang-orang yang di samping mempunyai kesanggupan baca tulis secara teknis dan fungsional, ia menjadikan kebiasaan membaca sebagai kebutuhan hidup setiap hari dengan membaca dan menuliskan hal-hal yang tidak hanya terbatas pada pekerjaan (Gong dan Agus, 2012:52).
Pada titik ini, budaya membaca yang rendah bersifat variabel independen. Rendahnya budaya membaca merupakan akibat dari faktor tertentu. Agus M. Irkam, mengidentifikasi tiga realitas berikut. Pertama, jumlah perputakaan yang sangat minim di Indonesia. Kedua, tidak adanya integrasi yang nyata, jelas dan tegas antara mata pelajaran yang diberikan dengan kewajiban siswa untuk membaca.

Ketiga, pengalaman pra-membaca dan membaca, atau berkenalan dengan buku yang kurang menyenangkan. Buku dikenalkan kepada anak-anak dengan cara yang tidak menarik atau bahkan menimbulkan trauma.

Terkait faktor penyebab pertama, realitas empiris sangat memprihatinkan. Ketersediaan perpustakaan di sekolah di tanah air sangat tidak memadai. Harian Kompas, Selasa (30/07/2019) melaporkan puluhan ribu sekolah di semua jenjang pendidikan belum memiliki perpustakaan.

Kekurangan perpustakaan sekolah terjadi hampir di semua daerah. Pada tahun pelajaran 2017/ 2018 dari jumlah 214.409 sekolah, yang memiliki perpustakaan sebanyak 144.239 sekolah sementara 70.116 sekolah belum memiliki perpustakaan.

Berdasarkan tingkat pendidikan, pendidikan dasar merupakan jenjang dengan jumlah sekolah tanpa perpustakaan terbanyak dimana terdapat 62.624 atau 33 persen dari total sekolah pada jenjang ini yang belum memiliki perpustakaan.

Berdasarkan status sekolah, sekolah negeri memiliki lebih banyak perpustakaan ketimbang sekolah swasta. Dari 659.109 sekolah negeri di Indonesia, 35 persen sekolah belum memiliki perpustakaan. Adapun sekolah swasta, dari 185.818 sekolah swasta di Indonesia, 38 persen sekolah belum memiliki perpustakaan.

Berdasarkan sebaran wilayah, provinsi Papua dan Papua Barat merupakan daerah dengan sekolah tanpa perpustakaan tertinggi di Indonesia dimana 61 persen dari total sekolah di Papua dan 53 persen total sekolah di Papua Barat belum memiliki perpustakaan.

Saat ini Indonesia sedang gencar mengampanyekan gerakan literasi. Namun di tengah upaya membangun budaya literasi bangsa, kita dihadapkan pada kondisi ironi: masih banyak sekolah/ daerah tanpa perpustakaan. Bila (gedung) perpustakaan saja tidak ada, bagaimana kita membicarakan "isi" perpustakaan?

Rendahnya budaya membaca yang menjadi keprihatinan bersama adalah tanggung jawab semua stakeholder. Karena itu meningkatkan budaya membaca harus menjadi agenda utama dan bersama.

Demi mewujudkan misi ini, ketersediaan bahan bacaan menjadi prasyarat mutlak. Untuk itu pembangunan perpustakaan didukung penyediaan bahan bacaan yang bermutu dan memadai harus diperbanyak/diperluas di seluruh wilayah nusantara. Bukan sebaliknya membangun perpusnas yang megah dan berdiri dengan angkuh di pusat kekuasaan pemerintahan yang jauh dari akses publik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya