Hari Buku Nasional: Permasalahan Buku Bajakan yang Tak Kunjung Usai

Mahasiswa
Hari Buku Nasional: Permasalahan Buku Bajakan yang Tak Kunjung Usai 13/05/2022 18 view Lainnya pexels.com

Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Satu masalah yang tidak kunjung usai di dunia perbukuan Indonesia yaitu maraknya buku bajakan.

Berdasarkan riset dari Ikapi diketahui bahwa 54,2 persen penerbit menemukan buku bajakan dari karya mereka dijual melalui lokapasar daring pada masa pandemi covid-19. Selain itu, sebanyak 25 persen penerbit juga menemukan pelanggaran hak cipta melalui pembagian PDF buku mereka secara gratis dan 20,8 persen penerbit menemukan bahwa terjadi pelanggaran hak cipta atas buku melalui penjualan di marketplace dan PDF gratis.

Buku bajakan bisa berbentuk fisik dan berbentuk digital dalam bentuk PDF. Banyaknya buku bajakan yang beredar di masyarakat dikarenakan tingginya permintaan.

Di Yogyakarta tempat saya menempuh pendidikan tinggi, banyak toko-toko yang menjual buku bajakan. Salah satu tempat yang menjual buku bajakan dan cukup terkenal di kalangan mahasiswa yaitu Terban. Sebelum pandemi covid-19 melanda, saya sempat mengunjunginya. Di sana banyak sekali pilihan buku dari berbagai bidang yang bisa dibeli. Tidak hanya menyediakan buku untuk kuliah saja, di sana juga terdapat novel-novel populer serta jenis-jenis buku lain.

Harga buku bajakan yang jauh di bawah harga buku asli membuat banyak orang membeli buku bajakan di Terban. Proses yang mudah karena penjual hanya perlu mencetak ulang buku dengan mesin cetak yang ada tanpa harus melalui proses seperti penyuntingan tulisan, menyusun tata letak, pembuatan ilustrasi membuat harga buku bajakan tergolong murah. Ditambah penjual buku bajakan juga tidak perlu membayar royalti kepada penulis.

Saya rasa penjual buku bajakan juga tahu dan sadar betul bahwa menjual buku bajakan merupakan tindakan yang dilarang. Namun penjualan buku bajakan masih berjalan karena banyaknya permintaan terutama di kalangan mahasiswa. Di setiap mata kuliah, dosen menyarankan mahasiswanya untuk membeli minimal satu buku referensi yang nantinya akan digunakan selama perkuliahan berlangsung. Apa bila dalam satu semester mahasiswa mengambil delapan mata kuliah, itu artinya mahasiswa tersebut harus membeli minimal delapan buku yang harga satu buku aslinya bisa lebih dari seratus ribu rupiah. Nominal tersebut tidak sedikit untuk mahasiswa karena mereka harus menggunakan uang untuk keperluan lain seperti makan, uang kos, internet dan lain-lain sehingga untuk menekan pengeluaran mahasiswa membeli buku bajakan meskipun mereka tahu bahwa itu tindakan yang tidak dibenarkan.

Tidak hanya karena permintaan yang banyak saja, permasalahan buku bajakan tidak kunjung usai juga dikarenakan penegakan hukum yang masih lemah dan belum ada tindakan tegas terhadap pembajak buku. Pemerintah Yogyakarta tidak mungkin tidak mengetahui adanya pembajakan buku karena letak toko buku bajakan Terban yang ada di pinggir jalan. Sebenarnya Indonesia mempunyai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 yang mengatur tentang Hak Cipta. Hanya saja dalam pelaksanaannya belum ada tindakan tegas kepada pembajak buku. Sanksi bagi pembajak diatur dalam Pasal 113 ayat 4 yang berbunyi “Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah)”.

Selain dua hal di atas, permasalahan buku bajakan tidak kunjung usai juga karena ketika ada orang yang melakukan kampanye atau ajakan berhenti membeli buku bajakan akan ada pihak-pihak yang kontra. Pihak kontra akan menggunakan narasi-narasi seperti mematikan usaha, mematikan sumber pendapatan, dan menambah pengangguran untuk melawan kampanye ajakan berhenti membeli buku bajakan. Narasi ini tidaklah salah, memang benar ketika orang-orang berhenti membeli buku bajakan maka penjual buku bajakan akan kehilangan sumber pendapatan. Namun mereka lupa bahwa adanya penjual buku bajakan juga mematikan banyak sumber pendapatan orang lain, ada penulis, pemilik toko buku, editor tulisan, desainer buku, tukang cetak buku, dan lain sebagainya.

Permasalahan pembajakan buku bajakan di Indonesia bukanlah permasalahan yang sederhana, ini permasalahan yang kompleks karena melibatkan berbagai macam pihak seperti masyarakat yang membutuhkan buku dengan harga murah, pembajak buku yang menggantungkan hidup dari penjualan buku bajakan dan pemerintah yang kurang tegas dengan Undang-Undang yang telah dibuat. Permasalahan ini juga melibatkan berbagai macam aspek seperti aspek pendidikan, ekonomi dan sosial sehingga tidak mudah untuk diselesaikan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya