Guru, Murid, Lembaga Pendidikan dan Sepotong Kata yang Menembus Dunia

Guru, Murid, Lembaga Pendidikan  dan Sepotong Kata yang Menembus Dunia 19/03/2020 1156 view Pendidikan Pixabay.com

Benarkah sepotong kata mampu menembus dunia? Ya, melalui sepenggal kalimat pertanyaan ini, penulis akan sedikit berkisah. Beginilah kisahnya. Di sekolah tempat saya mengabdi ada seorang Ibu sekaligus sahabat yang amat pandai dalam menulis puisi. Namanya, Lusia Y. Meme. Sering disapa dengan panggilan manisnya yakni Ibu Lusia.

Perlu diketahui Ibu Lusia adalah seorang guru Bahasa Indonesia yang memiliki segudang prestasi dalam bidangnya. Di antara prestasinya selama tahun 2018 silam adalah, pertama, salah satu muridnya yang bernama Stevania mendapat nilai UN 100. Kedua, mengikuti perlombaan dalam Gerakan Akbar 1000 Guru Asean Menulis Puisi yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Rumah Seni Asnur.

Salah satu puisinya yang berjudul “Berikan Aku Karyamu” lolos kurasi dan diterbitkan dalam buku Antologi Puisi Guru se-Asean. Dan sempat dibaca dan dipentaskan di Taman Mini Indonesia.

Ketiga, mengikuti Raini Day (ajang menulis puisi tingkat Asean) di Banjarmasin. Keempat, mengikuti parade baca puisi Rekor Muri seribu guru menulis puisi tingkat Asean di Taman Mini Indonesia. Kelima, mengikuti sekaligus mewakili Indonesia dalam pentas puisi 4 negara (Brunei, Malaysia, Singapura dan Indonesia) di Malaysia.

Sebagai seorang guru yang tangguh, Ibu Lusia tak pernah puas dengan apa yang telah digapai. Ia tidak egois. Malah sebaliknya selalu belajar dalam semangat kerendahan hati dan berbagi. Atas dasar itulah, Ia amat tekun dalam membimbing serta menularkan virus semangat menulis puisi, baik bagi peserta didik, sahabat guru dan bahkan masyarakat umum.

Hasilnya, pada bulan Maret 2020, Ibu Lusia berhasil mengantar 3 peserta didiknya meraih juara 1, 2, dan 3 dalam Ajang Gerakan Siswa Menulis Buku Tingkat Nasional. Ketiga siswa beserta judul puisinya masing-masing adalah; Clarita Layman (Ibu), Maksimiane Hilem (Ratapan Gadis Kecil), Maria Stefania Niki (Mencari Masa Depan).

Selanjutnya, siswi Clarita Layman dan Maksimiane Hilem beserta Ibu Lusia, diundang untuk mengikuti Festival Literasi Nasional 2020 di Solo Jawa Tengah. Dan tepat pada 12 Maret 2020, kedua siswi ini dan juga guru pendampingnya mendapatkan sertifikat juara 1 dan 2 menulis puisi tingkat Nasional.

Bersamaan dengan itu pula, lembaga Pendidikan SMA Katolik Regina Pacis Bajawa-Flores-NTT, tempat kedua anak ini mengenyam ilmu, mendapatkan piagam penghargaan sebagai Sekolah Aktif Literasi Tingkat Nasional.

Itulah secuil kisah nyata yang lahir dari kekuatan sepotong kata yang bernama puisi. Walaupun demikian, saya sangat meyakini bahwa sepotong kata itu akan sungguh-sungguh memiliki daya dan kekuatan jikalau digapai melalui sebuah proses dan perjuangan yang tulus, tangguh, dan berkelanjutan.

Oleh karenannya, tak perlu heran jika perjuangan Ibu Lusia bersama anak-anaknya membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Dan pada akhirnya ungkapan: “proses takkan pernah mengkianati hasil”, dan “di balik murid yang hebat karena ada guru yang hebat pula” menjadi benar adanya.

Kisah humanis di atas juga sekaligus mau melegitimasi bahwa dalam hidup ini tak pernah ada kesuksesan tanpa melewati proses, perjuangan, komitmen, dan pengorbanan.

Begitupula dalam sebuah lembaga pendidikan. Sudah seharusnya semangat literasi tidak lagi sekadar dimaknai sebagai jalan untuk menjejali otak anak dengan beragam ilmu saja, namun haruslah menjadi saluran pewartaan akan nilai-nilai universal.

Jika demikian, maka murid dan guru haruslah menjadi rekan belajar untuk saling melengkapi satu sama lain. Sebagai sahabat belajar, guru harus mampu menjadikan dirinya sebagai role model bagi para murid. Sebaliknya muridpun harus mampu menjadi role model bagi diri, sesamanya, dan bahkan bagi guru itu sendiri.

Hal ini menjadi urgen, agar lembaga pendidikan yang adalah rahim bertumbuhnya nilai-nilai itu mampu mengejawantahkannya dalam tataran praksis oleh guru dan peserta didik itu sendiri.

Dan jikalau nilai-nilai itu semakin kuat dalam mengakari lembaga pendidikan itu sendiri, maka saya amat yakin berbagai penyimpangan dalam lembaga pendidikan akan semakin terkikis. Sebaliknya, guru dan murid yang memiliki kepribadian yang berkarakter akan semakin banyak mendiami rahim lembaga pendidikan itu sendiri.

Dampaknya, setiap potensi guru dan muridpun akan berkembang secara sistematis. Dan takkan ada lagi lembaga pendidikan yang hanya mendidik anak untuk mendapatkan ijazah, lalu mengesampingkan pengembangan bakat. Atau hanya memamerkan kehebatan guru semata, sedangkan muridnya semakin terpuruk.

Jika ada, kebiasaan buruk ini segera dihilangkan. Sebab roh sebuah lembaga pendidikan terletak pada murid dan guru itu sendiri. Jadi, setiap bakat, potensi dan berbagai kekuatan positif lain dari kedua elemen mendasar ini tetaplah saling melengkapi dan saling menghidupi satu sama lain dalam hidup yang seiring sejalan hingga keabadian.

Pada titik ini saya dan Anda sekalian harus mengakui bahwa eksistensi lembaga pendidikan terletak pada guru dan murid. Tak pernah ada guru tanpa murid. Karenannya, seorang guru dikatakan hebat jikalau mampu membawa sekian banyak murid terbang bersamanya untuk menggapai beragam prestasi tanpa henti. Untuk itulah, kisah nyata di atas, dapat menjadi salah satu bukti kuat bahwa kekuatan guru dan murid jika disatukan dalam sebuah lembaga pendidikan yang humanis, maka akan menembus dunia.

Itulah kekuatan sepotong kata. Bahwa kata akan memiliki daya jika para pelakunya disutradarai oleh guru dan murid yang memiliki semangat kreativitas, inovatif, rendah hati dan juga dibarengi oleh berbagai kekuatan yang tak pernah pantang menyerah. Selanjutnya, kekuatan ini akan semakin menggila jikalau dilahirkan, dirawat, dan dihidupi dalam sebuah rahim lembaga pendidikan yang selalu mengedepankan asas demokrasi dan kemerdekaan dalam berpikir maupun bertindak.

Sebab hanya melalui penerapan pendidikan yang merdeka, pewartaan akan nilai-nilai universal yang nantinya dapat membentuk kepribadian guru dan murid terus digemakan secara berkelanjutan. Dan pada akhirnya, harapan akan semakin banyaknya lembaga pendidikan yang tidak saja melahirkan guru dan murid yang handal dalam banyak hal, tetapi menjadi sumber inspirasi hidup yang beretika, bermoral, dan beraklak mulia pun dapat terwujud.

Itu berarti kekuatan kata menembus dunia melalui puisi sebenarnya hanyalah satu realitas humanis dari sekian banyak realitas humanis lainnya. Oleh karena itu, segeralah menghidupi serta menjadikan lembaga pendidikan sebagai tempat dan rahim untuk menumbuhkembangkan segala potensi, kemampuan, minat dan bakat, baik guru maupun murid. Dan pada akhirnya lembaga pendidikan akan dan selalu memberikan pengharapan akan kemerdekaan hidup yang sesungguhnya.

Pada saatnya, ketika kemerdekaan itu selalu bersemayam dalam rahim lembaga pendidikan, maka murid dan guru akan dan terus melahirkan beragam kekuatan-kekuatan positif lainnya. Bahkan mampu mengarahkan guru dan murid untuk menemukan hakikat diri yang sesungguhnya. Dengan demikian penggapaian terhadap kepribadian yang potensial dan berkarakter pun terjadi secara berkelanjutan.

Diakhir tulisan ini, saya pun bersyukur sekaligus bangga dengan lembaga pendidikan SMA Katolik Regina Pacis yang setiap saat selalu berbenah diri untuk terus menjadi rahim yang aman tidak saja bagi guru dan murid, tetapi juga bagi sesama kita yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Oleh sebab itulah, hingga kini lembaga pendidikan ini selalu berpegang teguh pada semboyan; "Populis dalam pelayanan, Elitis dalam mutu". Melalui semboyan inilah, lembaga ini selalu memberi jaminan yang nyaman bagi keberlangsungan proses pendidikan yang merdeka.

Sebab keterwujudan semua harapan dan cita-cita luhur dari setiap insan akademisi bisa digapai hanya melalui lembaga pendidikan yang selalu berorientasi pada spirit kemerdekaan dan nilai kemanusiaan itu sendiri.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya