Glorifikasi Self Love, Self-Healing dan Mekanisme Pembelaan Ego Anak Muda

Penulis dan Peneliti Generasi Muda, Sosial Keagamaan dan Literasi. Founder metafor.id.
Glorifikasi Self Love, Self-Healing dan Mekanisme Pembelaan Ego Anak Muda 19/04/2022 96 view Budaya vecteezy.com

Barangkali sudah 3 tahun ini wacana mental health menjadi semarak di jagat maya. WHO bahkan mengusung tema spesifik dan tagline “Let’s Talk” sejak 2017 untuk berfokus menekan angka depresi. Begitu pandemi menghantam, makin ramailah isu kesehatan mental terutama di jempol netizen penghuni medsos.

Frasa seperti self love, self healing, dan sefamilinya pun menyeruak. Saat saya mengecek Google Trends, ternyata kedua topik itu meningkat seiring waktu terutama menanjak drastis di bulan-bulan Agustus 2021 kemarin. Ini mengindikasikan pembahasan mengenai keduanya menarik di mata pengguna internet.

Ironisnya, dampak sampingan yang menyertai meningkatnya perhatian terhadap isu tersebut justru kerap menimbulkan glorifikasi sepihak dan perilaku self-diagnosis. Tren ini sudah mulai muncul, salah satunya, ketika banyak film berskala penonton besar mengangkat isu-isu gangguan mental—seperti Joker dan Midsommar. Alhasil, tidak sedikit anak muda yang mengatributkan “penyandang gangguan mental” kepada dirinya sendiri.

The Conversation menyebut salah satu alasannya adalah persepsi “keren”. Seolah bipolar itu unik dan tidak banyak yang menyamainya. Seakan-akan anxiety disorder itu bisa distempelkan di jidat sendiri hanya karena kuatir besok tak bisa beli cilok. Atau lebih konyol lagi, mendaku depresi mayor hanya karena tertekan mental oleh chat yang tak kunjung dibalas oleh si doi.

Ihwal begini tentu memperparah narasi yang misleading sehingga makin melenceng dari tujuan awal kampanye kesehatan mental di masyarakat. Apalagi kita jumpai sendiri banyak kaum muda yang doyan menjustifikasi jiwa ‘magerisme’-nya, tendensi egoismenya dengan kedok self-love. Atau mendalili watak borosnya dengan dalih healing. Mungkin kita sendiri pun termasuk—atau setidaknya pernah.

Memang benar, bahwa kita bisa dan boleh saja membaca atau sekurang-kurangnya menelusuri daftar gangguan mental di DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi 5 oleh American Psychiatric Association) atau buku PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa). Hanya saja, jika tanpa proses diagnosis yang melibatkan ahli profesional, otomatis akan rawan terjadi bias kognitif. Belum jika menyoal barnum effect yang sangat akrab dalam masyarakat Indonesia.

Terkait barnum effect sendiri, barangkali tidak mengherankan jika banyak anak muda Indonesia, terutama netizen, tampak sering mendiagnosis diri sendiri. Di samping alasan finansial yang memang cukup berat dibelanjakan untuk konsultasi ke psikolog atau psikiater, ada juga faktor internal generasi muda kita yang menggaungkan self love dan self healing.

Ada tipikal seseorang yang pada dasarnya berbakat untuk soliter, merasa malas bergaul dan enggan terbebani secara sosial. Berbeda darinya, ada pula kategori individu yang sangat suka berkelana, main-main, kena tekanan tugas kuliah atau kerja sedikit sudah pusing kuadrat, dan karenanya berusaha lari darinya dengan alasan healing.

Keduanya sama-sama punya ‘mekanisme pelarian’ atau eskapisme dengan polanya masing-masing. Kedua respons tersebut sama-sama sahih sebagai tindakan individu yang hidup, bergerak, merasa, dan berpikir. Asalkan, tetap, harus konsekuen juga, dong. Jangan bilang self-love dan self-healing, lantas begitu ada yang tidak cocok dengan narasimu tentang kedua hal itu, lantas kau cap toxic. Seolah-olah apa saja yang tidak cocok dengan ‘selera’ pengetahuan dan perasaan kita, langsung kita cap toxic. Ya nggak gitu juga, Bambang!

Menyoroti tren seperti ini memang asyik. Banyak manusia melegitimasi keegoisannya dengan memakai topeng self love. Ada yang lari dari tanggung jawab, atau menolak diberi tanggung jawab, mengaku lagi self healing. Begitu ada yang nyeletuk, “healing kok terus-terusan”, auto-ngambek. Tersinggung. Padahal simpel saja, jika butuh waktu istirahat dari semua kesibukan dan kepusinganmu, tinggal bilang saja ingin libur, pamit istirahat, atau konsul ke psikolog jika memang terasa berat.

Mekanisme Pembelaan Ego

Dari serangkaian panorama perilaku anak muda masa kini, tampak kontras bahwa antara fase refreshing dengan mekanisme pembelaan ego (self-defense mechanism) saling bersilang-sengkarut. Ada yang menerjemahkan mekanisme pembelaan diri, ada pula yang memilih memakai term “ego”. Dan saya memilih yang kedua—merujuk pada yang memantik awal, yaitu Sigmund Freud.

Pada dasarnya mekanisme pembelaan ego adalah wajar dan alamiah dalam diri setiap organisme. Jenis-jenisnya pun banyak. Phebe Cramer menjabarkannya sebagai manuver mental yang setiap kita pasti melakukannya untuk menjaga keseimbangan psikologis dan melindungi harga diri (self-esteem).

Dan masing-masing individu, dalam riset Abraham Tesser, memiliki fleksibilitas untuk memodifikasi mekanisme pembelaan egonya sendiri-sendiri—sehingga hasilnya berbeda-beda. Dalam bahasanya, ia menyebut hal ini dengan istilah “plasticity”.

Sementara ragam jenisnya cukup banyak, dan Anna Freud (putri Sigmund Freud yang juga menekuni psikoanalisis) membaginya menjadi sepuluh jenis. Namun yang relevan dan umum kita temukan pada generasi muda, setidaknya ada empat.

Pertama, denial alias penolakan. Model pertahanan ini paling umum ditemukan pada manusia. Contoh sederhananya kita menolak disebut kurus atau gemuk, sekalipun itu fakta, demi menghindari dampak emosional psikologis yang akan merusak suasana batin kita. Ini bisa muncul dalam berbagai wujud. Dalam konteks self love dan self healing, tidak sedikit yang menyangkal bahwa aslinya mereka malas, egois, meromantisasinya, dan hanya ingin main saja tanpa bekerja.

Kedua, displacement. Jika diartikan secara harfiah: “salah penempatan”. Bagi kalangan cowok, sangat sering kita jumpai saat bermain PS, ada saja pihak yang kalah tiba-tiba membanting joystick dan berasalan error—sekalipun faktanya tidak begitu. Di ranah olahraga, seorang pemain bulu tangkis yang gagal menepis smash mendadak memegang-megang raketnya seolah ada yang salah, padahal memang dianya saja yang gagal menepis.

Ketiga, rationalization. Berusaha membikin sesuatu menjadi masuk akal baginya. Mekanisme jenis ini dilakukan untuk menyamankan perasaan (otak) individu. Misal ada seseorang habis diputus pacarnya, dan ini membuat harga dirinya terluka. Tiba suatu kali si mantannya ini dapat pacar baru yang ternyata brengsek, tiba-tiba orang ini merasionalisasikan peristiwa itu di kepalanya: “oh, pantesan dia mutusin aku dulu itu karena memang dia brengsek, dan sekarang cocoknya dengan sesama brengsek, kan?”

Keempat, repression yang kerap disebut penekanan. Adakalanya seseorang menekan dirinya sendiri atas perasaan-perasaan yang dia alami dan terima. Ketimbang membuat hubungannya dengan orang lain rusak, ia memilih untuk menekan dan memendamnya dalam sunyi. Kelak jika terlalu lama, perasaan ini bisa meledak.

Agaknya self healing di sebagian pemuda sebagian melakukan ini. Mereka menekan perasaan lelah dan geram kepada atasan, misalnya, dan memilih untuk tidak mendialogkannya secara terus terang. Akhirnya tidak sedikit yang sembari menekan perasaan itu, mereka ‘kabur’ darinya menuju gunung, pantai, dan berharap sepulang dari healing masalah mereka selesai.

Terlepas dari semua itu, cinta diri sendiri dalam kadarnya yang wajar tentu diperlukan oleh manusia. Kata kuncinya di dosis. Berlebihan akan merusak. Kekurangan juga akan didera minder. Selamat menjalani hidup yang kadang memang menyebalkan!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya