Generasi Z, Digital Democracy, dan Skeptisisme

Mahasiswa
Generasi Z, Digital Democracy, dan Skeptisisme 25/11/2022 194 view Politik cybersalon.org

Dunia terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Salah satu perubahan yang menonjol di antara pasang-surut kehidupan bangsa ialah hadirnya demokrasi digital.

Demokrasi digital adalah proses demokrasi yang berlangsung dalam dunia virtual dengan internet sebagai basis utamanya. Proses adaptasi kemudian dianggap penting bagi setiap individu untuk menciptakan keselarasan antara pendekatan dan realitas demokrasi yang ada.Hal ini kemudian tampak nyata pada gaya demokrasi kaum Generasi Z yang ditopang oleh kemajuan teknologi internet melalui berbagai macam produk, semisal media sosial. Demokrasi digital yang secara virtual dapat hadir lewat media sosial memungkinkan Generasi Z untuk berkontribusi secara aktif.

𝗣𝗮𝗿𝗮𝗱𝗼𝗸𝘀

Institute For Emerging Issues pada tahun 2021 menyebutkan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang paling unik dan canggih secara teknologi (Syamtar, 2020). Penggunaan teknologi secara intensif oleh Generasi Z bukan merupakan suatu hal yang baru. Generasi Z merupakan generasi pertama yang terbiasa dengan teknologi dan internet. Generasi Z atau sering disebut Generasi Digital (digital native) merupakan generasi yang tumbuh, berkembang, dan mengandalkan produk-produk teknologi. Menurut hasil survei We ARE Social yang dilakukan oleh negara Singapura (Supratman, 2018), digital native adalah pengguna media sosial paling aktif di Indonesia. Digital native menghabiskan 79 persen waktu mereka untuk mengakses internet setiap harinya.

Kedekatan Generasi Z dengan media sosial tentunya telah berpengaruh besar terhadap pola demokrasi bangsa. Marshall McLuhan melalui tulisannya yang bertajuk The Guttenberg Galaxy: The Making of Typograohic Man (Syamtar, 2020) menjelaskan bahwa konsekuensi dari penggunaan teknologi oleh masyarakat pada akhirnya mempengaruhi keberadaan manusia itu sendiri. Partisipasi politik Generasi Z telah mengalami perubahan yang begitu besar. Media sosial digunakan oleh Generasi Z demi integrasi dan kampanye yang lebih cepat serta mudah.

Menurut penulis, Generasi Z ingin membawa perubahan progresif secara modern dan sederhana dalam dunia perpolitikan Indonesia (Tirto.id, 2017). Unsur demokrasi yang tertuang dalam partisipasi politik Generasi Z saat ini kemudian lebih bersifat modern. Generasi Z tidak lagi harus turun ke jalanan untuk bersuara terhadap berbagai ketimpangan sosial-politik. Generasi Z cukup mengandalkan media sosial yang secara virtual dapat menyalurkan kontribusi yang positif terhadap kehidupan sosial-politik Indonesia.

Hal yang dihasilkan oleh Generasi Z ini adalah gaya demokrasi baru pada saat ini. Rupanya media sosial menjadi basis atau kekuatan utama Generasi Z. Gaya demokrasi Generasi Z yang khas dan responsif memiliki pengaruh yang kuat dalam menggerakkan arah politik. Akan tetapi, di tengah optimisme tersebut, politisasi media sosial dengan Generasi Z sebagai sasaran utamanya menjadi problem yang amat serius ketika
“dimanfaatkan” untuk keuntungan pribadi.

Media sosial yang dimaksudkan untuk menjadi platform konstruktif bagi Generasi Z, justru digunakan oleh para politisi untuk memobilisasi suara demi kepentingan tertentu. Gerakan-gerakan yang inheren-transformatif justru dipelintir untuk menghadirkan fakta yang berlawanan (hoaks). Tentu saja, hal ini sering membuat progresivitas Generasi Z menghilang dari mata publik. Akibatnya, tidak hanya optimisme publik terhadap Generasi Z yang tergerus, tetapi juga dapat membawa kemunduran pada dimensi kehidupan politik Indonesia.

𝗗𝗶𝗴𝗶𝘁𝗮𝗹 𝗗𝗲𝗺𝗼𝗰𝗿𝗮𝗰𝘆 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗸𝗲𝗽𝘁𝗶𝘀𝗶𝘀𝗺𝗲

Politisasi media sosial adalah masalah kecil yang menggerogoti optimisme Generasi Z. Pada level ini, media sosial dapat dianggap sebagai “Pisau Bermata Dua.” Di satu sisi, media sosial adalah sarana untuk meningkatkan kehidupan sosial-politik masyarakat. Sementara itu, di sisi lain media sosial juga bisa membunuh gairah dan optimisme. Hemat penulis, titik kulminasi sebagai langkah solutif atas persoalan ini adalah memaksimalkan sikap skeptisisme. Skeptisisme adalah aliran filsafat Yunani Kuno yang percaya bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak. Kecurigaan akan kebenaran menjadi sangat penting dalam teori ini. Skeptisisme membuat Generasi Z mempertanyakan “kebenaran” dalam dunia demokrasi digital. Pada tataran ini, sikap skeptisisme sangat penting karena dapat membantu Generasi Z membangun kembali kekuatan berpikir kritis dari berbagai macam informasi di media sosial.

Pada dasarnya, skeptisisme memungkinkan kita untuk tidak menerima berbagai macam informasi tanpa diverifikasi dan diuji kebenarannya terlebih dahulu. Generasi Z dalam kerangkeng teori skeptisisme mesti mampu mengelola dan mengawasi dinamika demokrasi bangsa agar tetap sesuai dengan koridornya. Sikap kritis terhadap ‘pembentukan’ realitas politik dan kolaborasi aspek teoritis mesti berdasarkan refleksi secara mendalam bagi Generasi Z. Hal ini tentu dapat dilakukan oleh Generasi Z melalui kearifan dalam penggunaan media sosial. Sikap skeptis adalah langkah yang tepat bagi Generasi Z agar lebih teliti, cermat, dan berhati-hati dalam menaruh kepercayaan yang tersebar di media sosial. Apabila hal yang diyakini oleh Generasi Z tersebut telah terbukti kebenarannya, maka Generasi Z dapat sesegera mungkin memroposalkan berbagai macam idenya demi kemajuan bangsa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya