Gen Z dan Quarter Life Crisis

Gen Z dan Quarter Life Crisis 07/06/2024 41 view Lainnya pinterest

Pada elemen kehidupan setiap masyarakat yang tumbuh dari masing-masing zaman tidak pernah lepas dari masalah dan konflik. Setiap permasalahan dan konflik yang timbul dan dihadapi pada masing-masing zaman pun unik dan beragam. Hal ini kemudian membuat tiap-tiap individu pada masyarakat dari zaman tersebut tergerak untuk menyelesaikan tantangan-tantangan zaman.

Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang merujuk kepada siapa pun yang lahir pada tahun 1990-an hingga 2010, namun data tersebut juga bervariasi, tergantung pada tiap sumbernya. Pada tahun-tahun tersebut, teknologi sedang tumbuh dan berkembang pesat. Di antara teknologi yang muncul pada saat gen Z lahir adalah internet dan media sosial. Oleh karena gen Z lahir dan tumbuh bersama dengan tumbuh kembangnya teknologi, maka gen Z berupaya menyelesaikan permasalahannya dengan memanfaatkan teknologi yang ada yang merupakan bagian hidup dari zaman mereka. Melalui teknologi, gen Z mengeksplorasi ide-ide kreatif dan inovatif untuk menyelesaikan konflik-konflik yang muncul.

Salah satu teknologi yang tumbuh dan berkembang pada era gen Z adalah hadirnya media sosial. Pada awalnya, media sosial dibuat untuk membangun koneksi sosial yang terhubung melalui internet untuk sekadar berbagi informasi dan konten. Media sosial Instagram yang menurut penciptanya yakni Kevin Systrom, dibuat untuk memberikan pengalaman berbagi foto yang cepat, mudah dan indah. Atau seperti media sosial yang baru dan sedang sangat populer saat ini yakni TikTok, yang tujuan dibuatnya adalah untuk berbagi video pendek dengan cepat dan mudah. Platform TikTok ini memfasilitasi pengguna untuk segala bentuk kreativitas, ekspresi diri yang dikemas dengan singkat melalui video.

Dengan adanya media sosial, seseorang kemudian berlomba-lomba untuk membagikan foto dan video mereka di internet. Dari hanya sekadar membagikan beberapa momen, media sosial bergeser menjadi wadah untuk “branding” atau pembentukan citra seseorang. Singkatnya, bagaimana seseorang ingin dikenal, itu tercermin dari media sosial yang mereka punya. Seperti seorang desainer baju memanfaatkan media sosialnya dengan mengunggah beberapa gambar desain baju atau mendokumentasikan kemampuannya dalam merancang sebuah gaun. Atau, seperti akademisi yang tengah menempuh pendidikan yang memenuhi media sosialnya dengan unggahan-unggahan seperti buku-buku yang sedang dipelajari atau hal lain seputar pendidikannya.

Pergeseran fungsi dari yang awalnya hanya sekadar membagikan beberapa momen untuk bersenang-senang ke wadah pembentukan citra seseorang rupanya memunculkan masalah dan konflik tersendiri, khususnya untuk gen Z. Konflik ini tergolong internal (muncul dalam dirinya sendiri) namun banyak pihak merasakan hal serupa. Konflik tersebut adalah gen Z yang mulai menjadikan unggahan-unggahan orang entah itu teman atau orang hebat lain yang seusianya mampu melakukan capaian-capaian hebat.

Salah satu youtuber asal Indonesia bernama Gita Savitri memiliki channel Youtube yang sering mengunggah opini-opininya tentang sesuatu yang tengah menjadi perbincangan publik seperti gender atau hal-hal yang sedang hangat dibahas oleh anak muda lainnya. Dalam salah satu kontennya yang berjudul “quarter life crisis” bersama suaminya yakni Paul Partohap menjelaskan bahwa mereka juga merasa bahwa ketika melihat unggahan-unggahan orang lain atau teman-teman mereka di media sosial, mereka merasa seperti telah “tertinggal” dalam suatu “perlombaan”. Si A yang sudah mendapatkan beasiswa yang hebat di kampus ternama, si B yang telah bekerja di perusahaan besar. Dan mereka merasa bahwa mereka belum sampai pada titik tersebut.

Efek “branding” dari media sosial ini membuat golongan dari generasi Z (gen Z) merasa tergesa-gesa untuk meraih pencapaian serupa seperti yang mereka lihat pada unggahan anak-anak pada usia mereka di media sosial. Apa yang telah diunggah orang lain di media sosial khususnya pencapaian mereka, dijadikan sebuah standar oleh generasi Z ini. Ini berdampak pada perasaan tertinggal dari teman-teman seusianya yang boleh dikatakan “sukses” menurut mereka. Akibatnya, muncul perasaan khawatir pada golongan gen Z bahwa jika belum mencapai hal serupa, mereka takut jika tidak sukses nantinya. Ketakutan dan kekhawatiran ini berlanjut dan menjamur di hampir seluruh kalangan generasi Z. Padahal bagaimana sesungguhnya makna sukses itu sendiri?

Pada video di akun Youtube Gita Savitri bersama suaminya, keduanya menjelaskan bahwa bayangan dari kesuksesan adalah ketika keuangan yang stabil, itu dibuktikan pada Paul Partohap yang menjelaskan tentang ekspektasi orang tuanya jika Paul menjadi dokter maka akan memiliki kehidupan dan finansial yang baik. Lalu, disusul dengan Gita yang juga secara tidak langsung ia mengungkapkan bahwasanya sukses adalah memiliki finansial yang baik dan stabil. Gita menambahkan bahwa Ia melakukan beberapa pekerjaan untuk meraih kestabilan finansial, namun Ia mempertanyakan tentang “Apakah saya benar-benar ingin melakukan ini?”.

Secara filosofis, sukses adalah pencapaian dari tujuan yang diinginkan atau diharapkan oleh seseorang. Keinginan setiap orang tentu saja berbeda-beda. Oleh karenanya, sukses sifatnya sangat subjektif. Sukses adalah ketika seseorang mencapai titik yang paling tinggi yang Ia inginkan. Oleh karenanya, meraih kesuksesan seharusnya tidak berhenti pada satu titik lalu selesai. Ibarat seperti sedang menaiki anak tangga, ketika kita pada awalnya mulai berdiri dari lantai dasar lalu berhasil menginjakkan kaki ke anak tangga pertama itu merupakan titik sukses kita menaiki anak tangga. Apakah berhenti sampai situ? Tidak. Kita masih punya anak tangga kedua dan ketiga dan masih banyak anak tangga yang lain. Pun, seseorang memulai berdiri untuk menaiki anak tangga di anak tangga yang berbeda sesuai porsi masing-masing. Oleh karenanya, membandingkan diri dengan pencapaian orang lain itu sangat tidak perlu. Sebab anak tangga setiap orang berbeda. Yang terpenting adalah keinginan kita untuk terus menaiki anak tangga kita sendiri dan menikmati setiap prosesnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya