Geliat Industri Petrokimia Indonesia

A mom, Business Enthusiasm
Geliat Industri Petrokimia Indonesia 04/04/2021 47 view Ekonomi Kedaisains.blogspot.com

Sejak pandemi banyak industri yang jatuh bangun untuk mempertahankan kehidupan usahanya. Banyak stimulus yang dilakukan demi menyelamatkan usaha ini, namun tidak semua usaha mampu berdiri tegak serta bertahan saat goncangan pandemi menerjang usaha tersebut. Berbeda yang terjadi dengan industri petrokimia. Industri petrokimia di Indonesia justru mampu menunjukkan tren yang berbeda. Ia mampu eksis dan cemerlang di masa serba sulit ini.

Petrokimia adalah suatu industri yang bergerak pada pengolahan bahan kimia dengan mengunakan bahan baku hasil proses pengolahan minyak bumi dan gas bumi.Dari pengertian tersebut jelas kita telah mengerti mengapa kedua industri tersebut memiliki hubungan yaang erat. Pola perkembangan industri petrokimia bergantung pada produk-produk hasil pengolahan minyak dan gas bumi yang tersedia.

Pada dasarnya, industri petrokimia terbagi dalam tiga bagian besar, yaitu produk petrokimia hulu, produk antara dan produk hilir. Bagian hulu bertindak sebagai proses pengolahan produk dasar (premier) dan akan menghasilkan produk setengah jadi (produk antara) maupun langsung dapat diolah menjadi produk jadi pada bagaian industri hilir. Contoh produk hulu yang diolah menjadi produk setengah jadi anatara lain: propilena, benzena, toluena, etilena, methanol dan sebagainya. 

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa proses petrokimia dilakukan dengan tiga tahap pengolahan sehingga dihasilkan produk yang siap pakai. Hal tersebut meliputi tahap pengolahan fraksi minyak bumi dan gas bumi menjadi bahan baku, mengolah bahan baku menjadi produk setengah jadi dan pada tahap akhir yaitu mengolah bahan setengah jadi menjadi produk yang siap digunakan oleh masyarakat.

Petrokimia di Indonesia

Industri petrokimia nasional tetap tumbuh positif di tengah pandemi Covid-19. Bahkan tingkat utilisasi industri mencapai 95%. Hal ini terjadi karena industri petrokimia nasional selama pandemi, termasuk produk petrokimia dari PT Tuban Petrochemical Industries (TubanPetro Group) mampu mensubstitusi produk impor. Seperti diketahui sebanyak 55% bahan baku produk petrokimia masih impor.

Pemerintah memberi perhatian bagi Industri di tengah wabah pandemi Covid-19. Industri petrokimia salah satu dari enam sektor industri yang mendapatkan alokasi dan harga khusus. Neraca perdagangan di semester I-2020 mencetak surplus. Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Januari - Juni 2020 ada arus ekspor USD75,5 miliar dan impor USD70.9 miliar, hingga tercatat surplus USD5,50 miliar.

Dampak pandemi terhadap industri petrokimia, hanya terjadi pada tiga bulan pertama, setelah itu industri ini mampu recovery. Bahkan, kontrak-kontrak ekspor yang terkendala akibat pandemi, di mana banyak negara melakukan lock down, dialihkan untuk memenuhi lonjakan permintaan di dalam negeri, terutama bahan baku untuk menunjang berbagai produk alat kesehatan, hingga produk kemasan. Belum lagi, pada akhir tahun lalu terjadi kelangkaan kontainer, alhasil industri petrokimia di dalam negeri menjadi primadona.

Potensi petrokimia memang sangat menjanjikan menjadi penyelamat devisa negara. Namun permasalahan kerap muncul dalam proses perjalanannya. Menurut asosiasi produsen Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas), disebutkan bahwa kondisi pabrikan terus tertekan sejak awal semester II/2019 hingga awal 2020. Sebenarnya permintaa cukup bagus, tapi industri ini mengalami ketidakpastiannya dikarenakan banyak aturan tidak pasti yang membuat permintaan lokal yang tinggi selama ini diisi oleh produk impor.

Sayangnya, selama hampir dua dekade belakangan, investasi dalam industri petrokimia belum signifikan untuk menjawab kebutuhan industri. Hal ini membuat nilai impor bahan baku petrokimia menjadi cukup tinggi. Data dari Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastiklndonesia (Inaplas) menunjukkan impor produk petrokimia yang cukup tinggi. Sebagai gambaran, produk petrokimia hulu seperti polipropilena (PP), polivinil klorida (PVC), polietilena (PE), dan polistirena (PS) hampir mencapai enam juta ton. Namun, industri dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 30% dari permintaan domestik. Selebihnya, kebutuhan produk petrokimia hulu mengandalkan impor.

Saat ini kebutuhan polietilena membuat peluang pasar dalam negeri masih sangat luas. Alasannya, hasil produksi petrokimia seperti polietilena saat ini mayoritas masih mengandalkan impor. Untuk itu, diperlukan dorongan investasi baru dengan tetap menjaga daya saing investasi yang telah ada sebelumnya. Ke depannya, dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga nasional yang cukup tinggi dan stabil sekitar 5% dan juga pertumbuhan manufaktur yang sekitar 3-4%, di masa mendatang trennya akan lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa pasar industri hulu petrokimia sangat besar.

Hal ini menyiratkan bahwa kebutuhan akan produk petrokimia dalam negeri diperlukan segera. Jika terus mengandalkan impor, imbasnya harga produk olahan atau produk turunan dari petrokimia akan semakin tinggi. Indonesia tidak dapat selamanya mengandalkan impor yang akan terus menjadi beban anggaran negara.

Perlunya Terobosan Besar

Menyadari hal tersebut, perlu adanya terobosan besar jika melihat peluang yang begitu besar dalam mengembangkan industri petrokimia  Indonesia. Demi menahan lonjakan impor yang tentunya merugikan negara tentunya pemerintahlah yang harus menyadari tindakan apa yang paling tepat dilakukan.

Pemerintah harus terus mendorong tumbuhnya sektor industri guna memperkuat struktur manufaktur dan meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri. Upaya strategis ini bertujuan untuk mensubstitusi produk impor sekaligus mengisi pasar ekspor. Untuk itu dapat dilakukan dengan meningkatkan neraca perdagangan dengan memacu investasi dan ekspor. Memberikan tax holiday untuk investasi dalam negeri memang jalan jitu untuk menstimulus industri petrokimia. Artinya, fasilitas tax holiday memang akan membawa investasi yang diharapkan dapat mendatangkan devisa dari ekspor petrokimia tersebut.

Saat ini, pemerintah menggalakkan memilih produk dalam negeri. 'Tidak memprioritaskan’ produk impor sehingga memberikan gaung bagi industri dalam negeri agar bisa bergerak lebih cepat dengan tujuan impor produk bahan baku petrokimia bisa dikurangi. Asosiasi juga sudah menyiapkan non tarif barrier untuk antisipasi, kemudian memagari dengan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Misal untuk pengadaan barang jasa yang dibiayai APBN, kandungan TKDN harus tinggi.

Masalah TKDN juga menjadi perhatian Tuban Petro. Saat ini TKDN Polytama misalnya, sudah 80 persen lebih sehingga jadi prioritas di Kementerian Lembaga. Sehingga bisa memasok bahan baku untuk memproduksi karung di industri semen, pupuk, dan lain-lain.

Beberapa perusahaan besar penghasil petrokimia seperti Tuban Petro misalnya menunjukkan tren positif terhadap permintaan petrokimia. Kemampuan perusahaan untuk mengembangkan bisnis di tengah Covid-19 menjadi bukti bahwa kebijakan restrukturisasi terhadap Tuban Petro yang dilakukan pemerintah bersama Pertamina merupakan langkah tepat.

Kini, Tuban Petro konsisten melakukan perluasan kapasitas produksi di anak usaha. Kebutuhan terhadap produk petrokimia di tengah Covid-19 tidak berkurang. Di berbagai anak usaha, penjualan produk petrokimia kami juga tetap tumbuh. Selama pandemi, kapasitas produksi di anak usaha tidak ada pengurangan sama sekali, bahkan tumbuh menurut perusahaan Tuban Petro. Karena itu, agar produk petrokimia dalam negeri bisa menjadi tuan rumah, berbagai kilang minyak yang ada harus terintegrasi. Tidak hanya mengolah BBM standard Euro-4, tetapi juga menghasilkan produk petrokimia.

Perusahaan harus bekerja optimal menghasilkan petrokimia, sehingga bisa menekan impor petrokimia dalam jumlah besar. Apalagi desain awal memang untuk produk-produk aromatik yang mampu mendukung industri lain.

Industri nasional saat ini dipacu untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Salah satu upaya yang dapat mendorong peningkatan daya saing industri nasional adalah melalui inovasi teknologi secara berkelanjutan. Perkembangan inovasi teknologi di industri, khususnya di industri petrokimia, akan mampu mendorong sektor manufaktur lainnya untuk memenuhi implementasi industri 4.0.

Guna merealisasikan visi tersebut, tidak cukup mengandalkan pertumbuhan organik semata, namun diperlukan terobosan di bidang industri melalui pemanfaatan teknologi terkini. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan visi "Making Indonesia 4.0" untuk mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang inklusif atau menyeluruh.

Salah satu strateginya adalah melalui perombakan alur produksi industri konvensional melalui inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Dengan aktif mendorong industri manufaktur agar menghasilkan produk berdaya saing tinggi melalui pemanfaatan teknologi. Hal ini untuk memenuhi permintaan domestik maupun global dan berkontribusi langsung dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara secara berkelanjutan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya