Gaya Hidup Konsumerisme selama Pandemi Covid-19

Mahasiswa
Gaya Hidup Konsumerisme selama Pandemi Covid-19 13/05/2020 778 view Lainnya Medium

Narasi historis perkembangan peradaban umat manusia melibatkan begitu banyak aspek. Kendati demikian, tak dapat dimungkiri bahwa sumbangsih keberadaan imperium dan kapitalisme merupakan motor penggerak yang menjalankan peradaban umat manusia.

Keterlibatan imperium hadir sebagai diktator yang memiliki kuasa atas semua orang yang hidup di bawah naungan imperium tersebut. Di lain pihak, semangat kapitalisme yang mulai tumbuh subur, dilihat imperium sebagai peluang besar menuju jalan kekuasaan.

Perkawinan antara imperium dan kapitalisme tak terhindarkan bahkan menjadi pasangan serasi. Perpaduan antara kedua pasangan ini, melahirkan berbagai hal menjanjikan yang turut menggerakan roda peradaban manusia. Maka tidak salah kalau dikatakan bahwa perkembangan peradaban umat manusia sangat dipengaruhi oleh eksistensi imperium dan kapitalisme.

Dalam kredo kapitalis baru, firman paling pertama dan paling suci adalah: “laba produksi harus ditingkatkan kembali untuk meningkatkan produksi” (Harari, 2019). Selanjutnya Harari juga mengatakan bahwa, itulah mengapa kapitalisme disebut “kapitalisme”. Kapitalisme membedakan “kapital” alias modal dari “kekayaan” biasa. Berdasarkan definisi dan penjelasan ini, maka jelas bahwa sistem atau paham kapitalisme dipegang dan digerakkan oleh para pemilik modal.

Tak dapat dimungkiri bahwa dalam sejarah peradaban perkembangan manusia, roda kapitalisme terus bergelindingan. Dalam proses bergeraknya ini, sistem dan paham kapitalisme turut mempengaruhi perkembangan peradaban hidup manusia. Berbagai produk pun dihasilkan, atas nama kapitalisme. Salah satu produk kapitalisme yang kemudian sangat menggandrungi kebanyakan orang sampai saat ini ialah konsumerisme.

Arti Penting Konsumerisme

Konsumerisme diartikan sebagai paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan , dan sebagainya; gaya hidup yang tidak hemat (KBBI V).

Dalam buku Sapiens Riwayat Singkat Umat Manusia, Yuval Noah Harari mengemukakan pandangan kritisnya yang menohok dan tepat sasar tentang gaya hidup konsumerisme yang sementara mengandrungi gaya hidup homo sapiens dewasa ini. Ia mengatakan bahwa konsumerisme memandang konsumsi lebih banyak produk dan jasa sebagai hal positif.

Konsumerisme mendorong orang-orang untuk mentraktir diri sendiri, memanjakan diri sendiri, dan bahkan membunuh diri secara perlahan melalui konsumsi berlebihan. Ia pun melanjutkan bahwa penghematan adalah penyakit yang harus disembuhkan (Harari, 2019).

Berdasarkan definisi dan penjelasan tentang konsumerisme ini, dapat dilihat bahwa gaya hidup konsumerisme yang di mana menggangap bahwa kepemilikan barang-barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan, merupakan produk dan pengaruh pemikiran kapitalis. Definisi ini juga secara jelas membeberkan arti sebenarnya dari konsumerisme.

Bergerak dari pandangan filsafat tentang materialisme, paham ini meyakini bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat material atau fisik (Zainal Abidin, 2009). Selanjutnya Zainal menambahkan bahwa ciri utama dari kenyataan fisik atau material adalah bahwa ia menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan (res ekstensa), dan bersifat objektif.

Bila definisi ini dikaitkan secara ekstrem dengan pengalaman konkret manusia, maka segala kebutuhan dan keperluan yang menjamin hidup manusia secara khusus yang sifatnya materiel, jelas menempati ruang dan waktu serta dapat diukur.

Hal ini turut menjelaskan bahwa pemenuhan barang-barang materiel dalam hal ini kebutuhan manusia merupakan cara berada dari manusia sendiri. Jika dibuat garis lurus dan berbagai percabangannya maka paham ini akan menjumpai gaya hidup konsumerisme, yang merupakan kecendrungan atau obsesi manusia terhadap barang-barang materiel secara berlebihan. Dengan kata lain manusia mangalami candu terhadap produk-prouk produksi.

Kosumerisme, Gaya Hidup yang Tumbuh Subur

Dalam praktik hidup masyarakat dewasa ini, gaya hidup konsumerisme sudah menjadi hal lumbrah yang selalu dijumpai. Hal ini nyata dalam keseharian hidup setiap anggota masyarakat, mulai dari kalangan anak-anak, remaja sampai orang dewasa.

Berdasarkan tinjauan sejarah di atas, dapat dilihat bahwa gaya hidup konsumerisme adalah produk kapitalisme. Di bawah kendali pasar kapitalis, berbagai produk dihasilkan guna menarik perhatian para pengguna produk dalam hal ini masyarakat luas. Produk-produk yang diluncurkan pun selalu dibuat berdasarkan pertimbangan dan permintaan pasar juga keinginan dan selera konsumen.

Lebih dari itu, produk yang dihasilkan sangat ditentukan oleh tren mode yang sementara berlangsung. Maka tak dapat dimungkiri bahwa cara kerja kapitalis yang demikian, telah mampu mencuri dan menarik perhatian banyak orang.

Walaupun sebagai gaya hidup, konsumerisme memiliki peluang untuk membudaya. Dalam artian bahwa konsumerisme memiliki potensi untuk menjelma menjadi kebiasaan dan sukar diubah. Lihat saja, dalam kehidupan setiap hari pola hidup konsumtif sangat nampak dan mencolok. Orang mulai mengonsumsi barang bukan berdasarkan asas kebutuhan dari nilai suatu barang, tetapi berdasarkan asas keinginan atau ego pribadi.

Hal semacam ini bukan hanya terjadi pada orang perseorangan tetapi telah mencakup batasan wilayah atau daerah tertentu. Pola hidup konsumtif juga menunjukan bahwa konsumen yang konsumtif mengalami kecederaan berpikir, di mana orang (konsumen) mencari kebahagian atau kesenangan pada produk-produk yang ditawarkan di bawah naungan pasar kapitalis.

Hal ini menimbulkan perspektif kepuasan yang lain, yaitu orang merasa puas ketika dilihat sebagai seorang yang tidak kuno atau trendi. Selain itu, kepuasan yang dicari bukanlah bersumber dari pertimbangan subjektif, tetapi lebih pada pencarian pengakuan dan penilaian orang sekitar.

Pandemi Covid-19 Penjara bagi Gaya Hidup Konsumerisme

Satu hal yang pasti dalam gaya hidup konsumerisme adalah perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif seseorang mengandaikan bahwa orang tersebut mengalami kecanduan dalam berbelanja. Dalam ilmu pisikologi peyakit kecanduan berbelanja dikenal dengan istilah compusive buying disorder.

Penyakit kecanduan berbelanja ini merupakan perilaku belanja yang tidak terkontrol, berulang-ulang, dan memiliki dorongan kuat untuk berbelanja yang dianggap sebagai cara untuk menghilangkan perasaan negatif seperti stres dan kecemasan (Kurnia: 2012). Dengan kata lain definisi ini hendak memberi penjelasan bahwa berhemat adalah tindakan menyiksa diri.

Seperti yang terjadi sekarang, pandemi covid-19 sementara menjadi persoalan global yang telah mengubah kebiasan dan gaya hidup umat manusia. Dapat dikatakan bahwa kehadiran covid-19 merupakan penjara yang membelenggu perilaku konsumtif manusia.

Dengan berlakunya protokol dari pemerintah yang mewajibkan setiap orang harus tetap berada di rumah dan melakukan semua kegiatan dari rumah, maka ruang gerak setiap orang dibatasi. Pembatasan terhadap ruang gerak ini, juga berimbas bagi perilaku konsumtif manusia di mana grafik konsumsi terhadap barang produksi mengalami penyusutan. Dalam situasi seperti ini, sadar atau tidak orang sementara berada dalam situasi dilema untuk berhemat.

Kendati demikian kredo kapitalis tetap berlaku. Ruang gerak manusia yang dibatasi, tidak menutup peluang dan kemunginan untuk menyajikan penawaran melalui media daring. Lihat saja, begitu banyak iklan dan tawaran yang dapat dijumpai di dalamnya.

Berbagai produk menjanjikan hadir dengan dalil sebagai pengisi waktu luang, senggang juga sebagai pil ampuh mengatasi rasa jenuh. Situasi seperti ini, menuntut kita agar selalu bersikap selektif komparatif sehingga tidak tenggelam dalam arus tawaran yang masif terjadi ini.

Tanggapan tehadap Gaya Hidup Konsumerisme

Berdasarkan tinjauan sejarah, ditemukan bahawa gaya hidup konsumerisme merupakan produk kapitalis yang harus diakui besar pengaruhnya bagi hidup manusia dan terus tumbuh subur dalam arus waktu. Kendati demikian sebagai gaya hidup dan kecendrungan yang diadakan, gaya hidup konsumerisme yang menekankan konsumsi pada barang produksi tanpa memperhitungkan aspek prioritas yang jelas terhadap nilai suatu barang, dapat dibatasi dan diatasi.

Merupakan kebenaran bahwa mengonsumsi barang produksi adalah cara berada manusia. Kendati demikian, kesadaran untuk memprioritaskan kebutuhan dan keinginan harus tetap dikedepankan. Apalagi dalam situasi pandemi covid-19 yang semakin tak terkontrol dan mendatangkan kerugian di berbagai sektor penunjang kehidupan ini, maka sebenarnya bunyi kredo kapitalis berhemat merupakan kegiatan menyiksa diri, merupakan siksaan yang sebenarnya.

Oleh sebab itu menanggapi gaya hidup konsumerisme di tengah pandemi covid-19 merupakan tantangan tersendiri bagi semua orang. Untuk itu, kembali lagi penulis menekankan sikap cerap dalam memprioritaskan kebutuhan dan keiginan guna meminimalisir pengeluaran yang tidak tepat sasar agar dengan demikian kemungkinan untuk melahirkan problem lain dalam situasi pandemi tidak terjadi.

The Columnist memiliki obsesi menghargai artikel para intermediate writer yang belum mendapat tempat di media mainstream. Karena kami punya keyakinan, artikel yang ditolak terbit media mainstream tersebut bukan berarti tidak kritis dan menarik. Silahkan kirim artikel tersebut di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami akan bantu menerbitkan untuk menemui pembacanya.
Artikel Lainnya