Gagap Investasi Saham di Kalangan Muda: Gelora di atas Literasi

Gagap Investasi Saham di Kalangan Muda: Gelora di atas Literasi 01/07/2021 82 view Ekonomi Fid.pngtree.com

Saya masih ingat pertama kali saya berinvestasi di saham. Ketika itu saya masih sangat muda, belum lulus dari bangku perkuliahan. Sebagai informasi, pada masa itu, sekitar 15 tahun yang lalu, dibutuhkan modal yang sangat besar untuk mulai berinvestasi di saham. Dua perusahaan sekuritas yang saya hubungi mensyaratkan dana inisiasi masing-masing 25 juta dan 50 juta rupiah. ngka yang besar sekali pada zaman tersebut. Terlebih lagi bagi saya yang masih latah belajar berinvestasi karena melihat teman-teman saya, yang lebih berada secara ekonomi, telah berkecimpung terlebih dahulu.

Inisiasi dana saya akali dengan meminjam kepada orang tua yang langsung saya tarik keluar dan kembalikan ketika itu, sehingga saya hanya menggunakan sekitar 2 juta rupiah saja. Tak dinyana, krisis yang terjadi di negeri seberang nun jauh ikut merontokkan pasar saham Indonesia ketika itu. Saya langsung belajar dari pil pahit. Untungnya, saya berinvestasi di saham bukan menggunakan dana kebutuhan, apalagi dari meminjam! Saya berinvestasi di perusahaan yang saya yakin akan berkembang, sehingga saya diamkan saja saham tersebut. Tidak sampai waktu setahun, nilainya sudah kembali seperti semula ketika saya membelinya.

Apa yang berbeda dengan saat ini? Kenapa banyak anak muda yang dengan berani menggelontorkan uang begitu banyak, bahkan dana yang bukan miliknya, untuk berinvestasi di saham meskipun tidak sepenuhnya memahami? Pertama, dengan program inklusi dari pemerintah, akses ke pasar modal sangat mudah saat ini. Banyak sekuritas menawarkan akses untuk berinvestasi di saham dengan dana inisiasi hanya 50.000-100.000 rupiah. Ini sangat baik, karena memang sejatinya investasi seharusnya bagi siapa saja, bukan hanya bagi kalangan ekonomi tertentu.

Namun, di sisi lain, banyak yang mencoba-coba. Karena toh jika rugi hanya 100.000 rupiah! Berbeda dengan saya dulu ketika inisiasi dana sebanyak 25 juta rupiah (nilai di masa sekarang tentu lebih dari 25 juta rupiah karena adanya inflasi). Untuk berinvestasi ketika itu, saya banyak membaca, banyak bertanya, dan tentu saja berpikir keras dalam pemilihan saham yang saya beli.

Kedua, penurunan minat baca kalangan muda saat ini turut memberikan andil sulitnya literasi investasi ditanamkan di benak mereka. Dengan zaman di mana mayoritas tulisan yang dibaca hanyalah sepanjang sebuah status media sosial, tentu saja informasi yang diterima tidak akan lengkap.

Ketiga, budaya gratifikasi instan yang sangat mendominasi kalangan muda. Hal ini menjadikan kalangan muda bergelora ketika mendapatkan info untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat. Informasi mengenai trader harian yang meraup untung banyak dalam waktu singkat tentu sangat menggiurkan.

Menurut pembagian kategori profil risiko, kalangan muda memang umumnya berada di kategori agresif yang berminat pada investasi dengan risiko tinggi, dikarenakan mereka menginginkan imbal hasil yang tinggi dan dapat berinvestasi dalam jangka panjang. Apakah ini diperbolehkan? Tentu saja boleh! Memang masanya ketika muda boleh berinvestasi dengan risiko tinggi, karena belum banyak kebutuhan hidup yang mendesak seperti biaya cicilan rumah, biaya sekolah anak atau biaya rumah tangga.

Usia yang muda menjadi masa yang ideal untuk mengalami naik turunnya investasi tanpa terbeban berlebih. Dengan catatan bahwa mereka memang memiliki kecenderungan menyukai risiko. Kalau tidak menyukai risiko, tentu saja jangan berinvestasi di saham. Meskipun secara keuangan tidak memiliki beban berlebih, namun mereka yang tidak menyukai risiko akan mengalami tekanan pada pikiran jika berinvestasi di instrumen yang berisiko tinggi.

Lalu, salahnya di mana jika kalangan muda sekarang ini berinvestasi di saham? Dengan penjelasan sebelumnya bukankah artinya bagus jika berinvestasi saham ketika masih muda? Benar, namun segala sesuatu tentu ada syarat dan ketentuan. Pertama, mengenai profil risiko telah saya jelaskan sebelumnya. Jika memang memiliki kecenderungan tidak menyukai risiko, jangan berinvestasi di saham. Bagaimana caranya untuk tahu? Ketika mendaftarkan diri di sekuritas kita akan diberikan kuosioner yang akan menentukan profil risiko kita. Namun, tidak selalu sekuritas tersebut akan menjelaskan dengan saksama. Oleh karena itu, literasi diperlukan di sini. Banyak pengukuran profil risiko tersedia gratis secara daring. Jika anda tidak bisa tidur memikirkan naik turunnya investasi saham anda, kemungkinan anda tidak menyukai risiko tinggi. Jika demikian, apakah artinya saya tidak bisa berinvestasi di saham? Tentu bisa, namun dengan sedikit modifikasi. Misalnya, berinvestasi di reksa dana campuran, di mana sebagian besar investasi bukan diletakkan di saham, namun di instrumen pendapatan tetap seperti deposito, surat utang negara, atau obligasi perusahaan. Sebagiannya lagi akan ditempatkan di saham, yang kriteria sahamnya anda bisa baca dulu sebelumnya pada informasi prospectus reksa dana. Sekali lagi, literasi sangat penting apa pun instrumen investasi kita!

Kedua, karena saham adalah instrumen investasi berisiko tinggi, maka tidak disarankan untuk berinvestasi di saham dalam jangka pendek. Jika kita benar-benar ingin berinvestasi di suatu bisnis yang kita yakin akan sukses nantinya, tentu membutuhkan waktu. Demikian juga dengan saham. Jika kita berinvestasi saham di perusahaan yang kita yakin akan berkembang, maka berikan waktu untuk perusahaan berkembang, dan akan tercermin pada nilai sahamnya.

Kalaupun terdapat suatu krisis, jika memang perusahaan tersebut adalah perusahaan yang bagus, tentu harga sahamnya akan kembali normal dan akan meningkat di jangka panjang. Tapi bukan dalam 1 hari, bukan 1 minggu, bahkan bukan 1 bulan! Hal inilah yang menyebabkan alasan bahwa dana untuk berinvestasi di saham haruslah dana bebas, bukan dana kebutuhan apalagi pinjaman.

Berinvestasi dengan literasi yang baik akan menghasilkan generasi yang unggul secara finansial. Kekhawatiran akan beban finansial di masa tua akan jauh berkurang dan tingkat ekonomi masyarakat akan meningkat.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya