Gagal Mudik

PNS BKKBN
Gagal Mudik 10/04/2021 73 view Lainnya sindonews.com

Bagi perantau mudik adalah cita-cita tahunan yang harus terwujud. Mudik bukan sekedar pulang kampung kembali ke asal di mana pertama kali seorang perantau dilahirkan dan bahkan dibesarkan. Mudik memiliki beraneka ragam makna. Selain nostalgia dengan teman-teman masa kecil, rindu keluarga, berziarah, mudik juga bisa diartikan ‘jeda sesaat’ dalam kehidupan setelah merantau setahun lamanya. Maka tak jarang perantau seperti saya merencanakan mudik jauh-jauh hari sebelum hari “H” tiba yang biasanya bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Meskipun mudik dan berada di kampung halaman hanya beberapa saat atau sering kali tak lebih dari 1 (satu) mingguan dalam setahun, namun peristiwa ini sangat bermakna dan penuh kesan karena dengan mudik berarti kita bisa bertemu secara langsung dengan sahabat, tetangga dan keluarga yang sangat kita cintai. Sesuatu yang tak bisa tergantikan dengan kemajuan teknologi melalui aplikasi-aplikasi yang ada seperti whatshap, instagram, facebook dan lain sebagainya, walaupun dengan aplikasi tersebut kita juga bisa bertemu dengan teman, tetangga dan keluarga meskpiun hanya dengan melalui virtual.

Namun keinginan untuk mudik tahun ini, sepertinya tak akan terwujud, mengingat larangan untuk mudik sudah dikeluarkan pemerintah jauh-jauh hari sebelum hari “H” lebaran atau idul fitri tiba bahkan sebelum puasa di bulan ramadhan dilaksanakan.

Larangan untuk mudik ini terjadi setelah pemerintah memperbarui kebijakan yang awalnya membolehkan mudik namun kemudian diperbarui dengan kebijakan yang lebih mengutamakan keselamatan masyarakat dari bahaya penyebaran virus corona dengan melarang mudik, baik untuk aparat pemerintah, swasta maupun juga masyarakat biasa. Bahkan khusus bagi ASN yang ketahuan melaksanakan mudik ada denda dan sanksi telah disiapkan.

Atas kebijakan pemerintah tersebut, sepertinya kita harus bersabar untuk melakukan mudik tahun ini. Apa yang diputuskan oleh pemerintah untuk melarang mudik, semata-mata dikarenakan oleh situasi pandemi covid- 19 yang belum sepenuhnya bisa dikendalikan. Hingga pada saat ini selalu ada ribuan orang per hari dengan kasus baru positif covid-19 dan juga selalu ada yang meninggal dunia meskipun harus kita akui bahwa tingkat kesembuhan juga semakin tinggi.

Pemerintah hari-hari ini memang terus berusaha keras untuk memerangi pandemi Covid-19, salah satunya dengan upaya pembentukan kekebalan komunitas (herd immunity) dengan cara melakukan vaksinasi seperti yang saat ini sedang berjalan. Harapannya program vaksinasi berjalan cepat dengan menggapai sebanyak mungkin penduduk Indonesia yang wajib vaskinasi sehingga rencana untuk membentuk kekebalan komunitas (herd immunity) dapat segera terwujud.

Pemerintah tentunya bukan hanya sekedar melarang untuk mudik namun juga memberikan upaya perlindungan jaring pengaman sosial. Artinya larangan mudik pemeirntah akan dibarengi dengan kebijakan pemberian bantuan sosial kepada masyarakat dan akan segera diluncurkan bersamaan momen datangnya mudik yang telah dilarang tersebut (tempo.co diakses 7/4 2021).

Sebagai seorang anak rantau yang memiliki kampung halaman keinginan mudik menjenguk keluarga, untuk berziarah atau bernostalgia dengan sahabat-sahabat waktu kecil bagi penulis amat dirindukan. Terlebih tahun lalu keinginan mudik itu juga terhalang corona di awal-awal kemunculannya. Namun apa daya hingga hari ini virus itu masih menjadi ancaman serius bagi kita semua. Kita bisa menularkan atau tertular virus tersebut tanpa kita sadari.

Kita semua punya saudara di kampung, bahkan kita mungkin masih punya orang tua, nenek, kakek dan tetangga-tetangga yang semuanya adalah lansia. Mereka semua adalah orang-orang yang rentan terhadap penyebaran virus corona yang meluluhlantakan sendi-sendi kehidupan hari ini. Saya tidak meragukan keberanian dan kemampuan saudara-saudara sekalian untuk mudik. Namun jika hari ini dilarang pemerintah untuk kebaikan kita semua, alangkah baikan larangan itu kita tepati. Semua demi untuk mengakhiri pandemi covid-19 yang hingga kini masih juga belum menunjukkan tanda-tanda berakhir bahkan virus corona telah mampu bermutasi ke dalam varian-varian baru yang informasinya bisa lebih mudah menyebar dan lebih membahayakan.

Jadi sepertinya meskipun sangat kecewa karena tidak bisa melakukan mudik dan ketemu langsung dengan sahabat dan teman waktu kecil, tetangga, dan keluarga tahun ini karena mentaati larangan pemerintah, namun kita masih bisa saling bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafkan dengan melalui berbagai macam aplikasi yang telah ada berkat kemajuan teknologi seperti facebook, whatshap, instagram dan lain sebagainya, walaupun sekali lagi itu tidak akan memuaskan dahaga kita akan kerinduan kampung halaman jika dibandingkan dengan mudik secara langsung. Semoga pandemi Covid-19 segera berlalu sehingga tahun depan kita bisa mudik. Aamiin.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya