Fortifikasi Pangan Sebagai Solusi Stunting

Statistisi di Badan Pusat Statistik
Fortifikasi Pangan Sebagai Solusi Stunting 11/02/2021 1921 view Lainnya winnetnews.com

Saat ini pemerintah Indonesia tengah berjibaku menyelesaikan permasalahan kekurangan gizi anak atau yang biasa disebut stunting. Meskipun prevalensi stunting di Indonesia tiap tahun mengalami penurunan, namun angkanya masih cukup tinggi, mencapai 27,67 persen (Survei Status Gizi Balita Indonesia, 2019), di atas ambang batas WHO yaitu sebesar 20%. Hal ini menempatkan Indonesia di posisi ke-5 di dunia sebagai negara dengan kasus stunting tertinggi.

Jika kita berfikir bahwa stunting erat kaitannya dengan kemiskinan dan kekurangan makan, ternyata tidak demikian. Sebab dalam hal makanan, Indonesia termasuk negara yang cukup mubazir. Menurut Food Sustainable Index (2018), Indonesia berada di posisi ke-2 sebagai negara pembuang makanan terbesar. Jika dikalkulasikan selama setahun Indonesia mampu membuang 1,3 juta ton makanan atau setara 300 kg sampah makanan per-orang, yang jika digunakan untuk memberi makan orang miskin maka bisa menghidupi hingga 11% penduduk lainnya.

Provinsi dengan kasus stunting tertinggi secara berurutan adalah Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah (BPS-Kemenkes tahun 2019). Dari sejumlah daerah tersebut, ternyata hanya dua dari provinsi tersebut yang masuk dalam 10 provinsi dengan jumlah penduduk miskin tertinggi di Indonesia yakni Nusa Tenggara Timur dan Aceh. Hal ini, menunjukkan bahwa kekurangan gizi bukan melulu disebabkan karena kemiskinan.

Pada dasarnya terdapat dua jenis zat gizi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan terhindar dari stunting, yaitu makronutrien (gizi makro) dan mikronutrien (gizi mikro). Makronutrien adalah nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah besar oleh tubuh, di antaranya karbohidrat, protein, lemak, serat, dan air. Sementara mikronutrien adalah nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil namun berperan vital bagi tubuh, seperti vitamin, kalium, klorida, natrium, kalsium, fosfor, magnesium, zinc, zat besi, mangan, tembaga, iodin, selenium, dan molibdenum.

Pemenuhan makronutrien relatif lebih mudah bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Sebab 38,54% pemenuhan kalori penduduk Indonesia berasal dari padi-padian, 24,69% berasal dari makanan dan minuman jadi, dan 12,57% berasal dari minyak dan kelapa. Artinya 75,80% konsumsi penduduk Indonesia adalah makronutrien yang berupa karbohidrat dan lemak (BPS, 2020).

Sementara konsumsi kalori untuk bahan makanan kaya mikronutrien cukup kecil seperti ikan/udang/cumi/kerang hanya 2,36%, daging 3,08%, telur dan susu 2,87%, sayur 1,82%, dan buah 2,15%. Hal inilah yang membuat stunting di Indonesia dan negara-negara dengan kasus stunting tinggi lainnya sangat erat kaitannya dengan kekurangan mikronutrien, yang dapat terjadi tidak hanya pada orang miskin namun juga pada keluarga yang memiliki kemampuan finansial.

Dalam publikasi WHA Global Nutrion Targets 2025: Stunting Policy Brief milik WHO, disebutkan bahwa kegemukan bahkan dapat terjadi pada anak yang menderita stunting. Menunjukkan bahwa meskipun seorang anak berasal dari keluarga mampu, terlihat normal bahkan gemuk, tapi jika ia kekurangan mikronutrien, maka ia bisa beresiko stunting.

Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB University Profesor Dodik Briawan bahkan mengatakan bahwa Indonesia masih memiliki beban hidden hunger yang besar. Hidden hunger atau kelaparan tersembunyi merupakan kondisi yang timbul akibat kekurangan mikronutrien seperti iodium, zat besi, vitamin A dan zinc. Kondisi ini bahkan lebih berbahaya daripada kelaparan, sebab seseorang mungkin tidak merasa lapar karena sudah terpenuhi makronutriennya dari karbohidrat dan lemak, tapi ternyata ia menderita kekurangan mikronutrien kronis.

Pemenuhan mikronutrien dapat dilakukan melalui beberapa cara, yakni konsumsi makanan tinggi mikronutrien, mengkonsumsi suplemen, dan mengkonsumsi makanan terfortifikasi.

Terkait konsumsi makanan tinggi mikronutrien, seperti daging, ikan, sayur, hati, dan buah-buahan, mungkin tidak terlalu masalah bagi masyarakat kelas menengah ke atas, namun ini agak sulit bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Lalu, apakah Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diberikan pemerintah kepada masyarakat miskin itu cukup efektif mengatasi permasalahan ini?

Tampaknya hal ini tidak terlalu efektif, sebab sejak BLT pertama kali dilakukan pada tahun 2005 hingga sekarang, angka prevalensi stunting masih tinggi. Kemungkinan penyebabnya karena minimnya wawasan orang tua yang tidak memanfaatkan BLT sebagai sarana pemenuhan mikronutrien anaknya. Selama masih bisa makan nasi dan perut kenyang maka tidak jadi masalah jika tidak makan buah, sayur, atau protein hewan.

Jangankan orang tua dari kelas menengah ke bawah, tingginya kasus stunting di provinsi yang jumlah penduduk miskinnya rendah seperti Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, dan Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa orang tua yang mampu pun kurang peduli dengan pentingnya pemberian makanan mikronutrien bagi anak-anaknya.

Kurangnya kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan dan suplemen kaya mikronutrien inipun mendorong pemerintah untuk “menyuapkan” mikronutrien tersebut kepada masyarakat melalui program fortifikasi pangan.

Kebijakan fortifikasi terhadap sejumlah pangan sebenarnya sudah dilakukan pemerintah, seperti kewajiban fortifikasi yodium ke dalam garam dan kewajiban fortifikasi tepung terigu dengan zat besi (Fe), seng (Zn), vitamin B1 (thiamine), B2 (riboflavin) dan asam folat sejak tahun 2015. Fortifikasi vitamin A ke dalam minyak goreng juga mulai dilakukan secara mandiri oleh beberapa perusahaan sejak tahun 2019 dan berlaku wajib pada tahun 2020. Pada tahun 2019 pemerintah melalui Bulog juga melakukan fortifikasi terhadap makanan pokok nomor satu di Indonesia yaitu beras. Adapun zat mikro gizi yang akan ditambahkan ke dalam beras adalah vitamin A, vitamin B1, vitamin 83, vitamin B6, asam folat, vitamin B12, zat besi dan seng (Zn).

Kebijakan fortifikasi terhadap pangan yang murah dan rutin dikonsumsi masyarakat ini merupakan langkah yang sangat baik dari pemerintah. Namun sayangnya program ini masih kurang sosialisasi, edukasi, dan belum matang dalam pendistribusian.

Sampai sekarang masyarakat masih banyak yang belum tahu tentang bahan pangan apa saja yang terfortifikasi dan apa manfaatnya bagi tubuh, merekapun masih banyak membeli bahan pangan yang tidak terfortifikasi karena lebih murah, contohnya minyak goreng. Menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, 50% minyak goreng dikonsumsi masih dalam bentuk curah bukan kemasan. Minyak goreng curah selain sudah pasti tidak terfortifikasi juga tidak terjamin kebersihannya baik dari sisi produksi dan distribusi.

Beras terfortifikasi pun masih belum jelas bagaimana penyalurannya dan bagaimana cara mendapatkannya. Berdasarkan website resmi Bulog, beras terfortifikasi baru diproduksi untuk daerah yang berminat terlebih dahulu, dan itu baru 15 kabupaten/kota yang memesan beras fortifikasi ke Bulog. Dengan kondisi seperti ini, hendaknya pemerintah mewajibkan fortifikasi beras kepada perusahaan beras bermerk, sebagaimana pemerintah mewajibkan fortifikasi kepada perusahaan minyak goreng, tepung, dan garam, sehingga tidak hanya Bulog saja yang berupaya memproduksi beras fortifikasi bagi penduduk Indonesia.

Selain itu, hendaknya pemerintah juga mensosialisasikan pentingnya makanan terfortifikasi ini melalui instruksi iklan kepada masing-masing perusahaan pangan terkait yang sering muncul di TV, ataupun melalui posyandu dan puskesmas. Dengan sosialisasi ini, masyarakat akan menyadari betapa pentingnya mengkonsumsi bahan makanan seperti beras, tepung, garam, dan minyak yang terfortifikasi yang sudah terjamin kebersihan dan pemenuhan zat mikronutrien dalam sebuah bahan pangan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya