Filsafat Jiwa Perspektif Ibnu Sina

Filsafat Jiwa Perspektif Ibnu Sina 07/05/2022 35 view Agama Pexels

Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina atau yang biasa dikenal dengan nama Ibnu Sina, atau Avicenna di dunia barat, merupakan seorang filsuf, ilmuwan sekaligus juga dokter kelahiran Persia tahun 980 M. Ia hidup pada masa kejayaan peradaban Islam, dari orang tua seorang pejabat tinggi pemerintahan dinasti Saman.

Sejak kecil Ibnu Sina sudah akrab dengan buku dan ilmu pengetahuan. Ia gemar membaca dan melakukan diskusi ilmiah, Ia berhasil menghafal Al-Qur'an di usianya yang masih sepuluh tahun dan mampu menyembuhkan Sultan Samaniah, Nuh bin Mansyur dari penyakit yang dideritanya di usia yang keenam belas. Akibat jasanya menyembuhkan Sultan, Ibnu Sina kemudian diangkat menjadi dokter istana. Posisi Ibnu Sina sebagai dokter istana memberinya lebih banyak kesempatan untuk mempelajari buku-buku langka di perpustakaan Sultan. Di usia yang masih belia, Ibnu Sina telah banyak meringkas buku-buku filsafat bahkan buku pertamanya dipersembahkan untuk Sultan yaitu dengan judul Hadiyah ar-Ra’is ila al-Amir.

Setelah ayahnya meninggal, Ibnu Sina meninggalkan Bukhara(Persia) dan mulai berpindah-pindah dari negeri yang satu ke negeri yang lain. Hingga ia meninggal di usia 57 tahun, di mana di akhir hayatnya ia menjadi pengajar filsafat dan dokter di Isfahan.

Kecintaanya kepada ilmu pengetahuan, mengantarkannya menjadi seorang ilmuwan besar dan berpengaruh bagi perkembangan peradaban Islam maupun dunia. Dia dipanggil oleh orang Arab dengan sebutan asy-Syaikh ar-Rais dan diakui banyak orang bahwa pikirannya memperesentasikan puncak filsafat Arab. Ia lebih menekankan kepada rasionalitas dari pada keyakinan buta. Ia mendapat kecaman dan serangan dari kalangan muslim ortodoks dan bahkan dituduh sebagai ateis. Oleh karenanya pemikiran Ibnu Sina cenderung lebih dikenal di dunia barat ketimbang di timur. Pengaruhnya di barat akibat banyak dari karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin.

Ibnu Sina banyak menulis buku dalam berbagai persoalan, mulai dari filsafat, geometri, kedokteran, aritmatika, bahasa, teologi, sampai musik. Karyanya yang paling terkenal antara lain adalah kitab as-Syifa’, An-Najah, Al-Hikmah, dan Qanun fi ath-Thibb.

Sebagai filsuf yang masuk ke dalam tradisi peripatetik, Ibnu Sina merupakan salah satu filsuf yang pemikirannya mempengaruhi para filsuf selanjutnya untuk bisa melahirkan tradisi baru dalam filsafat Islam bernama tradisi Iluminasi yang didirikan oleh Suhrawardi al-Maqtul.

Salah satu ajaran filsafatnya adalah pembahasan yang berkaitan dengan jiwa. Ibnu Sina memberikan perhatian khusus mengenai pemikirannya tentang jiwa. Pemikirannya tersebut memilki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan filosof-filosof lain. Menurut Ibnu Sina, jiwa dan tubuh adalah dua hal yang berbeda. Tubuh hanya berperan sebagai kendaraan saja, sementara esensinya itu adalah jiwa. Ia sependapat dengan Aristoteles bahwa jiwa memiliki hubungan yang sangat erat dengan tubuh, karena keduanya saling mempengaruhi. Tubuh adalah tempat bagi jiwa dan jiwa adalah syarat bagi terciptanya tubuh. Namun hubungan yang bersifat esensial ditolak oleh Ibnu Sina karena kehancuran tubuh juga membawa kepada kehancuran jiwa. Ia lebih sepakat dengan Plato yang mengatakan bahwa hubungan keduanya bersifat accident, artinya kehancuran tubuh tidak membawa pada kehancuran jiwa.

Ibnu Sina membagi jiwa ke dalam tiga bagian yaitu jiwa nabati, jiwa hewani, dan jiwa insani. Jiwa nabati merupakan komponen utama dari kebutuhan fisik alami yang meliputi tiga daya yaitu makan, tumbuh, dan berkembang. Persis seperti tumbuhan, manusia membutuhkan makan, ingin bertumbuh, berkembang dan memiliki keturunan merupakan bagian dari jiwa nabati. Di atas jiwa nabati dinamakan jiwa hewani yang memiliki dua daya yaitu gerak dan menangkap. Jika sudah sampai ke jiwa hewani maka kemampuan yang dimiliki juga termasuk bernaluri, mengetahui, insting, hasrat, maupun ambisi. Bagian ketiga ialah jiwa insani yaitu puncak dari kesempurnaan aspek fisik alami manusia untuk bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang berdasarkan pertimbangan akal.

Keberadaan jiwa di dalam tubuh ialah dalam rangka untuk menyempurnakan dirinya. Jadi jiwa memiliki tujuan untuk membersihkan dirinya supaya pada akhirnya bisa bersatu dengan sumbernya. Sumbernya ialah Tuhan. Jiwa yang berada dalam tubuh diibaratkan seperti burung dalam sangkar yang selalu rindu untuk terbang bebas di udara. Jiwa selalu rindu untuk kembali ke asalnya yaitu ke alam rohani.

Menurut Ibnu Sina yang akan dibangkitkan, yang akan dihisab, disiksa atau diberi balasan itu bukan tubuh melainkan jiwa karena kebahagiaan dan kesengsaraan itu dirasakan oleh jiwa. Manusia yang sudah mati jasadnya dipukul sekeras apapun tidak akan merasakan sakit karena jiwanya sudah tidak ada, sudah terpisah. Artinya yang merasakan sengsara dan bahagia menurut Ibnu Sina ialah jiwa sehingga yang akan dibangkitkan adalah jiwa, bukan tubuh. Di bagian ini nanti akan mendapat kritik dari al-Ghazali karena al-Ghazali berpendapat bahwa yang bangkit tidak hanya jiwanya tapi juga badannya atau tubuhnya.

Sama seperti al-Farabi, Ibnu Sina juga menganut sistem filsafat emanasi soal penciptaan. Tuhan menciptakan dengan model emanasi dari akal pertama sampai akal kesepuluh, kemudian dari akal sepuluh terciptalah manusia yang memiliki daya jiwa insani, jiwa hewan, dan jiwa tumbuhan. Nah, supaya jiwa bisa sampai kembali ke Tuhan maka manusia harus melakukan purifikasi ke atas melampaui jiwa tumbuhan, jiwa hewan, sampai puncaknya jiwa manusia dan dari jiwa manusia harus dibersihkan hingga kemudian bertemu dengan akal fa’al atau akal sepuluh dan dari akal sepuluh itulah jiwa bisa bertemu kembali dengan Tuhan.

Berdasarkan bahwa jiwa memiliki tujuan tersebut, maka Ibnu Sina memberikan metode pembersihan jiwa. Di sini Ibnu Sina mulai agak masuk ke dunia sufistik dengan menggabungkan antara pemikiran filsafatnya dengan dunia tasawuf. Ibnu Sina membagi level pembersihan jiwa ke dalam tiga bagian yaitu level zahid, level ‘abid, dan level ‘arif. Zahid berarti adalah zuhud, memalingkan diri dari perkara duniawi tidak terikat dengan dunia. 'Abid berarti menyibukkan diri dengan peribadatan, mendekatkan diri kepada Tuhan dan puncaknya adalah 'arif yaitu bisa bertemu dengan hakikat sebenarnya.

Agar dapat sampai ke level ’arif, atau ma’rifat, metodenya ada dua yaitu beribadah dan bertafakkur. Berkonsentrasi penuh kepada Tuhan dan berpaling dari apapun selain daripada-Nya, mengekang keinginan-keingina jiwa kemudian mengurangi kesenangan-kesenangan agar sampai pada kesempurnaan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya