Fatwa Yusuf al-Qordhawi tentang Jabat Tangan dengan Lawan Jenis

mahasantri mahad aly situbondo
Fatwa Yusuf al-Qordhawi tentang Jabat Tangan dengan Lawan Jenis 24/06/2023 140 view Agama publicdomainvectors.org

Fenomena jabat tangan sudah lumrah terjadi dalam bingkai interaksi sosial. Biasanya jabat tangan terjadi ketika baru berjumpa dengan keluarga, kerabat, kolega, teman dan orang-orang kita kenal. Kebiasaan berjabat tangan dalam momen-momen tertentu merupakan kearifan lokal yang patut dipertahankan karena ia mencerminkan sikap kekeluargaan serta keharmonisan dalam pergaulan.

Akan tetapi, persoalan muncul ketika jabat tangan itu terjadi antara lawan jenis. Masalahnya timbul lantaran pemahaman (doktrin) bahwa jabat tangan dengan lawan jenis hukumnya haram. Padahal tradisi jabat tangan, katakanlah seperti ketika lebaran atau kala berkunjung ke rumah kerabat, sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat dan sulit untuk dihindari. Bahkan, kita akan dicap keterlaluan jika menolak jabat tangan dari bibi atau kerabat kita misalnya ketika baru bertemu.

Ulama empat mazhab berpendapat bahwa bersalaman dengan lawan jenis hukumnya haram. Akan tetapi, Syaikh Yusuf al-Qardhawi, seorang ulama kontemporer berpendapat bahwa jabat tangan dengan lawan jenis yang terjadi dalam bingkai interaksi sosial seperti di atas tidak haram. Beliau berasumsi bahwa alasan terkuat dari diharamkannya jabat tangan dengan lawan jenis adalah sadd al-zari’ah (menutup pintu mafsadat).

Gampangnya, sadd al-zariah merupakan tindakan preventif atau pencegahan. Ia memang dapat dijadikan acuan dalam menetapkan suatu keputusan hukum, dan al-Qardhawi mengakui itu. Namun, menurutnya, ia tidak bisa digunakan jika mudarat yang hendak dicegah itu mengandung kemungkinan kecil dan hanya berupa praduga belaka.

Alasan diharamkannya jabat tangan dengan lawan jenis adalah dikhawatirkan adanya fitnah atau kekhawatiran terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Pertanyaanya adalah sejauh mana kita dapat memperkirakan fitnah itu timbul hanya dari seedar jabat tangan? Apalagi jika partner jabat tangan kita masih memiliki hubungan kerabat, tentu fitnah itu sengat minim sekali kemungkinannya.

Al-Qardhawi mengakui bahwa jabat tangan haram hukumnya jika timbul fitnah. Dalam kitab Fatawa Muashirah juz dua, beliau berkata
أن المصافحة إنما تجوز عند عدم الشهوة وأمن الفتنة، فإذا خيفت الفتنة على أحد الطرفين، أو وجدت الشهوة والتلذذ من أحدهما حرمت المصافحة بلا شك
“Bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan itu hanya diperbolehkan apabila tidak disertai dengan syahwat serta aman dari fitnah. Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satunya (apalagi keduanya) maka keharaman berjabat tangan tidak diragukan lagi.”

Akan tetapi, beliau menyarankan agar kita bersikap objektif dan transparan dalam masalah ini. Artinya kalau memang jabat tangan dengan lawan jenis aman dari fitnah, lantas apa yang menyebabkan ia dilarang?

Dari sini dapat difahami bahwa adanya fitnah menjadi alasan diharamkannya jabat tangan dengan lawan jenis. Akan tetapi, ketika faktanya fitnah atau syahwat itu muncul ketika jabat tangan maka salaman dengan anak kecil pun akan dihukumi haram. Beliau berkata,
بل لو فقد هذان الشرطان - عدم الشهوة وأمن الفتنة- بين الرجل ومحارمه مثل خالته، أو عمته، أو أخته من الرضاع، أو بنت امرأته أو زوجة أبيه، أو أم امرأته، أو غير ذلك، لكانت المصافحة حينئذ حراما
“Bahkan seandainya kedua syarat ini tidak terpenuhi - yaitu tiadanya syahwat dan aman dari fitnah - meskipun jabatan tangan itu terjadi antara seseorang dengan mahramnya seperti bibi, saudara sesusuan, anak tiri, ibu tiri, mertua, atau lainnya, maka berjabat tangan pada kondisi seperti itu adalah haram.”

Fatwa yang dikeluarkan oleh al-Qardhawi ini bertujuan untuk merangkul kebiasaan yang sudah jamak terjadi di masyarakat. Sebisa mungkin, beliau akan memberikan keringanan hukum kepada masyarakat, karena memberikan kemudahan merupakan karakter dasar dari ajaran islam itu sendiri. Nabi Saw. bersabda:
يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا
“Permudahlah jangan kamu persulit. Berilah kabar gembira jangan kamu buat orang lari.” (H.R. Bukhari dari Anas bin Malik).

Namun, fatwa ini jangan dijadikan sarana untuk menjustifikasi tindakan jabat tangan dengan lawan jenis dalam kondisi apapun. Selain dibatasi oleh adanya fitnah dan syahwat, al-Qardhawi menghimbau agar jabat tangan yang dilakukan hanya sebatas kebutuhan saja, tidak lebih. Seperti ketika baru tiba dari perjalanan jauh, mengunjungi kerabat dan kondisi lain yang sekiranya jabat tangan diperlukan serta aman dari fitnah.

Barangkali, pernyataan al-Qardhawi berikut bisa menjadi pedoman, beliau berkata,
وأفضل للمسلم المتدين، والمسلمة المتدينة ألا يبدأ أحدهما بالمصافحة، ولكن إذا صوفح صافح
“Dan yang lebih utama bagi seorang muslim atau muslimah - yang komitmen pada agamanya - ialah tidak memulai berjabat tangan dengan lain jenis. Akan tetapi, apabila diajak berjabat tangan barulah ia menjabat tangannya.”

Walhasil , menurut al-Qardhawi jabat tangan pada asalnya adalah boleh. Ia menjelma menjadi haram ketika menimbulkan fitnah atau syahwat. Akan tetapi, hendaklah kita menyikapi fatwa al-Qardhawi ini secara proporsional. Artinya, fatwa ini hendaklah dijadikan pedoman ketika dibutuhkan, tidak diterapkan dalam setiap kondisi. Dan memang inilah yang dikehendaki oleh al-Qardhawi sendiri. Wallahu a’lam

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya