Episode Kritis Internalisasi Kompetensi Sosial Kultural Bagi ASN

Episode Kritis Internalisasi Kompetensi Sosial Kultural Bagi ASN 28/12/2022 68 view Lainnya lan.go.id

Penerapan ilmu pengetahuan yang mewujud dalam berbagai teknologi informasi beberapa dekade ini telah memicu perubahan sosial budaya masyarakat. Adanya perubahan nilai, sikap, dan perilaku dalam masyarakat saat ini menjadi pembeda dengan cara hidup zaman Ibu/ Bapak kita atau bahkan berbeda sama sekali dengan masa Kakek/ Nenek kita dahulu. Selain faktor internal adanya penemuan di bidang teknologi seperti makin intensnya penggunaan smart phone dalam hidup kita, juga terdapat faktor eksternal yang nampaknya secara frontal telah mengubah cara hidup kita, yakni adanya pandemi Covid-19. Orang tidak lagi berinteraksi langsung berhadap-hadapan secara fisik, namun tetap bisa terhubung meskipun secara virtual dari balik layar smartphone maupun laptop.

Dari sisi pemerintah, maka menghadapi perubahan bisa dilakukan pada dua level, yakni makro dan mikro. Beradaptasi dengan perubahan pada level makro, maka pemerintah perlu mengantisipasi melalui berbagai penyesuaian kebijakan dan juga struktur organisasi yang memang diperlukan agar gerak birokasi semakin responsif dan gesit. Pada level mikro, maka fokus pemerintah adalah para ASN yang menggerakkan birokrasi. Perbaikan tata laksana, kinerja, dan optimalisasi manfaat dari hasil kerja birokrasi harus semakin bisa dirasakan oleh masyarakat. Oleh karenanya penguatan kompetensi para ASN menjadi mutlak dilakukan. Kompetensi ASN secara berkelanjutan dikembangkan agar terwujud profesionalitas ASN. Sehingga melalui pengembangan kompetensi, para ASN dapat memberikan peran dalam menjawab tantangan perubahan zaman yang dinamis dan makin kompleks.

Pergantian tahun 2022 sebentar lagi akan dilalui. Kondisi global di tahun 2023 diramalkan masih mencekam akibat ancaman resesi dengan salah satu pemicu yakni perang Rusia – Ukraina yang masih berlangsung hingga saat ini. Pada sisi lain, tahun 2023 Indonesia memasuki masa persiapan perhelatan 5 tahunan yaitu pemilu yang akan berlangsung serentak pada 14 Februari 2024. Sehingga bisa dipastikan tahun 2023 situasi tanah air akan ramai oleh hiruk pikuk aktivitas politik. Situasi demikian tentu bepengaruh pada situasi politik dan keamanan dalam negeri. Stabilitas situasi menjelang pemilu harus terus dijaga, agar tidak mengganggu aktivitas ekonomi nasional.

Menghadapi masa-masa persiapan pemilu serentak tahun depan, jauh hari sebelumnya para ASN harus dipersiapkan untuk mengawal pesta demokrasi akbar tersebut dengan menjaga netralitas sebagai ASN. Adanya potensi gangguan akibat ketidaknetralan ASN dalam proses pemilu ditengarai bisa terjadi pada berbagai sesi tahapan pemilu. Oleh karena para ASN memiliki peran strategis, maka seharusnya para ASN tidak boleh terpengaruh atau mudah diintervensi kegiatan politik praktis.

Salah satu kompetensi yang harus diperkuat dari para ASN saat ini adalah kompetensi sosial kultural. Implementasi kompetensi sosial kultural masuk ketahapan kritis dan sangat mendesak dilakukan menjelang tahun-tahun politik ini. Mengingat komposisi masyarakat Indonesia yang begitu majemuk, maka sangat penting untuk ASN dapat mengelola kebhinekaan yang ada tersebut. Oleh karenanya sudah menjadi kewajiban ASN untuk memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku untuk bisa mengelola keragaman dalam kepemilikikan kompetensi sosial kultural sesuai tugas jabatannya. Tuntutan agar para ASN memiliki kompetensi sosial kultural dimaksudkan agar ASN dapat menjadi perekat bangsa yang bisa menjembatani ruang komunikasi dan interaksi dengan masyarakat majemuk.

Kehadiran para ASN sebagai bagian penting wajah birokrasi di ranah publik menjadi semakin penting mengingat interaksi percakapan dunia maya yang semakin intens. Sehingga pemerintah perlu mengorganisir suatu kebijakan yang bisa menyesuaikan dan mampu memproduksi data dan informasi terkait sosial kultural, khususnya melalui berbagai saluran media sosial. Efektifitas arus penyebaran informasi melalui teknologi informasi saat ini seharusnya sudah bisa dipastikan seberapa luas cakupannya, ukuran keberhasilan, dan arah tujuan yang diharapkan dalam menjaga keberlangsungan sosial kultural, mengingat dampak yang bisa cepat bisa dirasakan oleh masyarakat. Para ASN bisa muncul sebagai penyelesai permasalahan atau konflik sosial kultural dalam masyarakat baik di dunia nyata dan maya, menggunakan kompetensi sosial kultural sebagai bekalnya dan bukan sebaliknya menambah runcing ketegangan di ruang publik.

Setidaknya ada tiga level kompetensi sosial kultural yang harus dimiliki oleh ASN sebagai kelengkapan mereka melayani bangsa, yaitu level dasar dengan kapasitas untuk mengenali, menerima, dan memahami kebhinekaan yang ada. Selanjutnya pada level menengah, ASN sudah harus bisa mengembangkan dan mempromosikan dirinya dengan menunjukkan sikap saling menghargai dan toleransi serta selalu menekankan rasa persatuan berbangsa dan bernegara. Pada akhirnya di level tertinggi, diharapkan hadirnya sosok ASN yang mampu mendayagunakan perbedaan yang dimiliki bangsa ini secara konstruktif dan kreatif dalam upaya meningkatkan daya saing, dan sebagai representasi pemerintah dalam membangun hubungan sosial kultural yang berkelanjutan dengan semua elemen bangsa.

Akhirnya, perlu strategi jitu dalam rangka mendorong percepatan internalisasi kompetensi sosial kultural para ASN di tengah situasi yang selalu berubah dan dalam ketidakpastian, terlebih menjaga keutuhan keanekaragaman sosial budaya Indonesia. Dokumentasi berbagai fakta konflik masa lalu yang terjadi akibat berbagai perbedaan sosial budaya bisa menjadi basis data yang bisa dipelajari kembali dan menjadi sumber bahan pembelajaran kreatif. Melalui pembelajaran mandiri mapun pelatihan terstruktur, para ASN bisa segera mengambil peran. Transformasi pembelajaran berbasis training menjai learning akan semakin mempercepat internalisasi kepemilikan kompetensi sosial kultural. Keberhasilan kompetensi sosial kultural terlihat bukan hanya pada kepemilikan pengetahuan dan perubahan sikap perilaku pasca mempelajarinya, tapi lebih kepada menerapkan secara konkrit dalam kehidupan sehari-hari ASN agar dapat diteladani oleh masyarakat, baik di dunia nyata lebih-lebih di dunia maya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya