Entah Apa Yang Merasukimu

Akademisi Psikologi
Entah Apa Yang Merasukimu 28/10/2019 628 view Opini Mingguan wikipedia, 2014

Apa yang anda lakukan jika khawatir rumah anda kemalingan?

Membuat kunci keamanan yang berlapis bisa jadi salah satu solusi. Atau kalau anda termasuk golongan beruang, mempekerjakan penjaga keamanan menjadi pilihan terbaik. Bukan hanya satu dua, kalau perlu 6 orang sekaligus. Agar nyenyak tidur anda.

Mungkin begitu juga yang ada di benak Presiden Jokowi ketika memilih 6 jenderal dari kalangan TNI dan Polri sekaligus untuk mendampingi beliau di pemerintahan. Samar-samar kita mengendus aroma ketidakamanan (insecurity) yang dirasakan presiden ketika memilih kabinet Indonesia Maju.

Tak apalah kita maklumi kalau kalangan aparat mengisi pos yang memang linier dengan keahliannya, seperti Kementerian Pertahanan (meski sebenarnya kalangan sipil juga pernah membuktikan kesanggupan mereka di kabinet Indonesia Bersatu I & II). Tetapi menempatkan barisan jenderal di banyak kementerian membuat kita ingin bertanya ‘entah apa yang merasukimu?’

Dari sekian kontroversi yang dibuat, satu yang paling mencolok tidak lain adalah pemilihan Menteri Agama. Publik tentunya menduga pos ini akan diisi dari kalangan berserban, seperti yang sudah-sudah. Nahdlatul Ulama (NU) disebut-sebut layak mendapat mandat ini, apalagi mereka juga punya andil memenangkan Jokowi dalam pilpres kemarin.

Akan tetapi publik dibuat gigit jari karena jabatan Menteri Agama rupanya jatuh di pundak Fachrul Razi, seorang purnawirawan jenderal TNI. Dalam keterangannya Jokowi menyampaikan alasan memilih Fachrul adalah agar permasalahan radikalisme dan intoleransi bisa benar-benar diatasi secara konkret, disamping tugas penyempurnaan kualitas pelayanan haji.

Radikalisme dan intoleransi memang menjadi dagangan paling laris beberapa tahun belakangan ini. Publik digiring dengan opini bahwa orang-orang yang memperjuangkan keyakinannya adalah orang yang radikal, anti Pancasila. ‘Orang-orang radikal dan intoleran seperti inilah yang memecah belah NKRI’, begitu kira-kira para mualaf Pancasila berargumen.

Kita semua tau kemana tuduhan radikal dan intoleran tersebut dialamatkan. Agenda khusus Kemenag memberantas radikalisme akan menempatkan kementerian itu berhadapan langsung (head to head) dengan kelompok tertuduh. Keadaan bisa menjadi semakin tegang karena yang memimpin operasi pemberantasan radikalisme ini adalah seorang mantan jenderal. Melepaskan kesan represif yang kerap melekat dalam jati diri aparat menjadi tantangan tersendiri baginya untuk menjalankan tugas ini.

Polemik lain yang mencuat dari pemilihan kabinet Jokowi adalah terpilihnya kembali Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Menko Bidang Kemaritiman dengan tugas tambahan di bidang investasi. Kemesraan LBP dengan Cina sudah bukan rahasia lagi, sampai-sampai dia dijuluki sebagai dubes kehormatan negeri tersebut. Tanpa embel-embel ‘investasi’ saja LBP sudah sangat gencar mengundang investor-investor Cina ke Indonesia, sekarang semakin dipertegas dengan nomenklatur baru. Hal inilah yang membuat kejang-kejang kaum anti asing dan aseng.

Terlepas dari itu semua, Luhut dikenal sebagai pembela Jokowi nomor satu. Di berbagai kesempatan kita melihat LBP selalu pasang badan membela Jokowi yang sering diterpa hoaks. Pemilihan kembali LBP mengindikasikan bahwa Jokowi masih membutuhkan jaminan keamanan dalam menghadapi para pembencinya, meski sebenarnya dia cenderung tidak terlalu terbebani lagi dalam menjalankan pemerintahannya di periode kedua ini.

Terakhir sekaligus yang paling kontroversial adalah pemilihan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan. Meskipun bidang pertahanan adalah spesialisasi Prabowo, tapi semua cebong dan kampret di tanah air tau bagaimana panasnya rivalitas kedua orang tersebut di masa kontestasi. Tensi tinggi persaingan diantara keduanya menjalar hingga akar rumput yang kemudian membelah Indonesia menjadi dua kubu.

Kedua kubu sama-sama militan dalam memperjuangkan ratu piningitnya menjadi presiden. Jangankan harta dan tenaga, nyawa sekalipun rela dikorbankan. Maka ketika Jokowi dan Prabowo memutuskan berkoalisi menjalankan pemerintahan, cebong dan kampret bukan main nanarnya. Mereka tak menyangka bahwa rivalitas yang disaksikan selama ini cuma dagelan semata.

Berbagai spekulasi bermunculan mengungkap alasan rujuk ini. Salah satunya adalah dugaan bahwa Jokowi butuh keamanan politik dalam merealisasikan janjinya. Dengan kekuatan Gerindra di DPR, Jokowi bisa lebih leluasa menjalankan apa-apa yang direncanakannya. Paling tidak, kebisingan suara oposisi sudah jauh berkurang desibelnya.

Dari ketiga contoh di atas mudah rasanya kalau kita mengatakan bahwa Presiden Jokowi merasa tidak aman (insecure). Pertanyaan yang kemudian mencuat adalah mengapa insekuritas masih menjadi kekhawatiran presiden meski sudah berpengalaman 5 tahun?

Kalau melihat musababnya, insekuritas dapat muncul salah satunya karena kurangnya kepercayaan diri (lack of confidence). Perasaan tidak dihargai, ketakutan akan dievaluasi dan kecemasan akan ditinggalkan kerap menjadi perhatian serius orang dengan insekuritas. Tetapi sekali lagi, bukankah presiden sudah kenyang pengalaman seperti itu selama 5 tahun kebelakang?

Atau jangan-jangan akan ada gelombang yang lebih dahsyat yang akan menghantam presiden di periode keduanya? Satu polemik yang mungkin diprediksi membuat para cebong berubah haluan hingga meninggalkan dan bahkan melawan beliau? Adakah jenderal-jenderal ini dipasang untuk mengamankan proyek-proyek mercusuar? Ah, terlalu prematur untuk menjawabnya.

Tulisan ini dimulai dengan menawarkan tips menjaga keamanan rumah. Sebagai penutup saya ingin memberi nasihat bagi anda yang berniat mempekerjakan penjaga keamanan, apalagi dalam jumlah banyak. Ada baiknya anda menyeleksi dengan teliti penjaga-penjaga keamanan tersebut. Jangan sampai mereka malah berkomplot untuk berkhianat membobol rumah anda. Hollywood sekali memang. Biar saja, toh yang Hollywood biasanya lebih diminati.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya