Emil Cioran, Adam Smith, Kuasa dan Penderitaan

Seorang Materialis dan mengidolakan Friedrich Engels. Kucing adalah hewan peliharaan yang paling dis
Emil Cioran, Adam Smith, Kuasa dan Penderitaan 19/10/2022 89 view Ekonomi berdikarionline.com

Kehidupan manusia yang dikonstruksi dalam struktur sosial merupakan suatu hukum yang mutlak. Apabila seseorang tidak melakukan interaksi sosial di dalam kelompoknya, secara tidak langsung ia akan menciptakan kesulitan bagi dirinya sendiri. Manusia pada hakikatnya merupakan mahluk sosial.

Mengambil istilah yang dicetuskan oleh Aristoteles, zoon politicon. Manusia adalah manusia yang dikodratkan untuk saling berinteraksi dan bermasyarakat. Dengan demikian kita tidak dapat menghindari, bahwa setiap perubahan dari segi ekonomi hingga politik akan mempengaruhi cara pandang seseorang dalam berinteraksi, kecenderungan seseorang untuk melakukukan interaksi di dalam kelompok masyarakat, pada umumnya akan tersegmentasi melalui harta dan kuasa yang mereka miliki. Biasanya kelompok yang memiliki harta dan kuasa akan menyebabkan suatu dominasi atas kelompok yang hanya memiliki sedikit harta dan kuasa.

Tidak jarang motif kuasa-menguasai ini hanya sekedar upaya untuk menampilkan seberapa hebat seseorang dalam kelompok sosial, tindakan ini sedikit banyak akan berkaitan dengan perilaku flexing. Perilaku flexing tidak hanya perilaku yang berupaya menampilkan secara gamblang dan tidak etis seluruh harta yang seseorang miliki, flexing juga dapat terjadi pada seseorang yang memiliki kuasa berlebih dan dengan tindakan flexing tersebut ia akan mendapatkan sanjungan serta kuasa sosial yang semakin tinggi. Adam Smith mencoba menjelaskan kepada kita bahwa kuasa dan harta yang seseorang miliki akan semakin bermanfaat ketika mampu dialokasikan dengan baik ke dalam sektor perekonomian yang akan membawa keuntungan lebih lanjut kepada para pelaku ekonomi dan seseorang selaku investor.

Adam Smith Sang Maestro Kapitalisme

Ketika kita berbicara tentang sistem perekonomian kapitalisme, maka kita tidak dapat memisahkan Adam Smith dari sistem kapitalisme itu sendiri. Adam Smith merupakan seorang filsuf dan dapat digolongkan juga sebagai seorang ekonom yang mengembangkan sistem perekonomian kapitalisme.

Ia menulis buku yang berjudul Wealth of Nations yang menjadi dasar dari perkembangan kapitalisme, secara mendalam. Ia mencoba untuk menjelaskan keadaan perekonomian di Eropa serta fundamental dari perkembangan industri dan perdagangan di Eropa. Dalam pemikirannya, Adam Smith mencoba menjelaskan bahwa kapitalisme merupakan sistem yang tidak sekedar untuk mencapai keuntungan secara maksimal, kapitalisme juga berupaya untuk mengembangkan teknologi yang paling canggih untuk menjalankan operasional perusahaan dan perekonomian di suatu wilayah.

Setelah beberapa abad berlalu, pemikiran Adam Smith berhasil menguasai hampir seluruh dunia dengan mengembangkan berbagai macam narasi kemakmuran dan keuntungan yang dimaksimalkan agar suatu korporasi tetap berjalan dengan semestinya. Meski begitu, sistem perekonomian kapitalisme tidak berjalan dengan mulus. Terdapat beberapa titik dalam perjalannya yang menyebabkan krisis di dalam lingkungan masyarakat dan menyebabkan kesenjangan sosial semakin lebar. Apabila kita perhaikan lebiha jauh, metode dan penyebaran dari kapitalisme semakin halus sehingga bahaya dari perkembangan kapitalisme sulit untuk dideteksi.

Salah satu hal yang menyebabkan permasalahan sosial adalah budaya felxing dan diskon yang cenderung memberikan stimulus kepada masyarakat untuk melakukan konsumsi berlebih.

Legitimasi Penderitaan dalam Perspektif Cioran

Penderitaan dapat datang dari sifat manusia yang tidak pernah puas dengan keadaan yang selalu ingin mendapatkan kesenangan dan kepuasan yang bersifat tetap. Namun, kesenangan dan kepuasan tidak akan pernah tetap, kehidupan akan terus mengalami perubahan secara terus menerus. Beberapa fenomena dalam kapitalisme yang menyebabkan kesenjangan sosial, di antaranya, flexing dan diskon.

Beberapa kelompok yang memiliki kuasa dan harta, biasanya akan melakukan suatu tindakan yang terkadang dapat menimbulkan konflik dalam lingkungan sosial. Tindakan tersebut dilakukan untuk membuat segmentasi dalam kelas yang lebih rinci agar mereka mampu mendapatkan keuntungan dari berbagai macam segmentasi yang ada.

Apabila kita memperhatikan lebih lanjut, segmentasi yang semakin banyak tersebut dimanfaatkan oleh seorang kapitalis untuk mendapatkan keuntungan yang banyak dari kehidupan seseorang yang sudah tertindas. Akibatnya akan banyak jenis penderitaan yang dihadapi oleh manusia, misalnya, Fear of Missing Out, ketakutan eksistensial, ketakutan intelektual, ketakutan politis, dan sebagainya.

Penderitaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, penderitaan akan selalu mengiringi perjalan manusia selama ia masih hidup. Penderitaan yang tidak dilegitimasi oleh seseorang atau masyarakat akan menyebabkan ia terjebak dalam lingkaran penderitaan dan melanggengkan kapitalisme hingga mereka tidak mampu keluar dari zona ketertindasan tersebut.

Ketika suatu ketertindasan terjadi, seseorang yang memiliki kuasa dan harta akan memberikan stimulus ketidakpuasan kepada seseorang atau kelompok tertentu agar mereka tidak menyadari keterhisapannya. Ketika seseorang atau kelompok memiliki pandangan tabu untuk membicarakan suatu penderitaan, kelompok tersebut akan terus berada dalam zona penindasan kapitalisme dan penindasan yang berkuasa atas yang tidak punya kuasa.

Pertolongan dari Bawah

Dampak dari kapitalisme tidak akan pernah selesai begitu saja, perkembangan kapitalisme akan terus terjadi dan erat kaitannya dengan kehidupan manusia.

Adam Smith sebagai sosok yang mengembangkan kapitalisme mendasarkan kepemilikan pribadi yang absolut sehingga menyebabkan adanya kesenjangan yang begitu lebar antara yang memiliki harta dan tidak memiliki harta.

Kapitalisme akan membayangi setiap orang dengan teror psikologis manusia agar terus menjadi tergantung dengan perkembangan kapitalisme sehingga para kapitalis akan terus mendapatkan keuntungan dari psikologis manusia yang sudah tidak mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Akibat yang akan dirasakan secara langsung oleh masyarakat adalah tingkat konsumsi yang tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan dari gengsinya.

Seseorang yang terbentuk di bawah bayangan kapitalisme dirancang untuk tidak melakukan perlawanan, namun kita tidak menutup kemungkinan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi manusia yang kritis dan menolong dirinya sendiri untuk keluar dari kekacauan yang diciptakan oleh kapitalisme.

Kapitalisme memiliki bahaya laten yang membentuk kesadaran manusia bahwa seluruh aspek kehidupan mereka telah ditentukan dari atas (pihak yang berkuasa) dan kapitalisme meruntuhkan kepercayaan diri seseorang bahwa penderitaan tidak layak untuk dilegitimasi, sehingga setiap orang membuat posisi penderitaan menjadi semakin terasing, hal ini yang kemudian menyebabkan daya untuk berpikir kritis menjadi hilang.

Ketika kita mau melegitimasi penderitaan dan menjadikannya sebagai salah satu sarana untuk membatasi diri dari perkembangan kapitalisme yang semakin merusak psikologis manusia. Secara langsung kita telah mengubah pandangan bahwa semua pertolongan selalu datang dari atas menjadi semua pertolongan bisa datang dari bawah.

Tidak seluruh orang yang berkuasa memiliki kemampuan yang kuat untuk menyelamatkan seseorang yang berada di bawah mereka dan sosok yang berkuasa cenderung menjadikan kelompok yang di bawahnya sebagai kelompok yang mereka tindas dan hisap. Ketika seseorang sudah terbentuk dengan kemampuan untuk berpikir kritis dan menerima penderitaan sebagai motivasi untuk keluar dari penghisapan kapitalisme, maka mereka akan menjadi manusia yang mampu memberikan pertolongan bagi orang lain yang berada di dalam jurang kapitalisme.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya