Ekonomi Sosialisme Mengkaji Moralitas Manusia

Founder Ruangan Filsafat
Ekonomi Sosialisme Mengkaji Moralitas Manusia 16/09/2023 328 view Ekonomi https://pin.it/3PWk0O2

Penghapusan kepemelilikan pribadi, mungkin bagi mayoritas orang akan menganggap bahwa gagasan tersebut sebagai kekeliruan dan perampasan hak asasi manusia, khususnya berkaitan dengan kepemilikan harta benda.

Di tengah kapitalisme, kita dapat melihat bahwa tingkat kekayaan setiap orang cenderung beragam dan tidak ada suatu ukuran pasti yang menyatakan bahwa setiap orang harus memiliki kekayaan pada tingkat tertentu, semakin banyak kekayaan yang dimiliki, maka akan semakin baik. Kekayaan yang dihasilkan berasal dari kerja yang dilakukan, misalnya di pabrik, ladang, institusi pemerintahan, atau bisnis.

Akan tetapi, yang menjadi fokus dari kajian ekonomi sosialisme salah satunya adalah distribusi dan kepemilikan kolektif, yang mana hal ini hampir tidak dapat kita temukan di dalam sistem kapitalisme. Para buruh yang bekerja “dieksploitasi” untuk memberikan keuntungan dan memenuhi pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh orang lain. Bisa kita perhatikan bahwa jam kerja buruh tersebut telah menutupi celah bagi orang lain untuk bekerja, dalam artian posisi orang yang seharusnya bekerja telah digantikan oleh buruh yang bekerja untuk menghasilkan suatu komoditas. Kerja-kerja yang dilakukan tersebut merupakan arahan dari manajemen, bos, atau kelas kapitalis. Hingga pada titik tertentu distribusi kekayaan dan keterasingan terbentuk di dalam tubuh buruh tersebut. Dan, pada akhirnya menimbulkan dinamika moralitas manusia.

Saint-Simon, Charles Fourier, Robert Owen, dan François Noël Babeuf—yang terakhir merupakan tokoh yang lebih kontemporer daripada sebelumnya—dapat dianggap sebagai para tokoh yang meletakkan dasar bagi sosialisme, meski mereka tidak menyatakan diri sebagai seorang sosialis karena di masa itu term “sosialis” atau “sosialisme” belum terpikirkan dan dibentuk sedemikian rupa.

Mereka memiliki kesamaan di dalam pemikirannya yang menyatakan bahwa terdapat masalah di dalam liberalisme atau dapat disebut juga sebagai kapitalisme. Masalah tersebut tercermin di dalam sistem yang belum memadai, misalnya masalah kesenjangan, pendidikan, distribusi, hingga kreativitas.

Tidak seperti saat ini, di mana kapitalisme telah bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih ramah dan dianggap tidak berbahaya, dahulu kita dapat melihat bahwa kapitalisme merupaka sistem yang cenderung berbahaya dan mematikan, bayangkan saja, beberapa regulasi negara di wilayah Eropa membiarkan kondisi pekerja untuk bekerja di dalam lingkungan yang tidak layak, upah yang rendah, hingga eksploitasi terhadap pekerja anak yang dibayar murah dengan jam kerja yang lebih panjang.

Meski di antara para tokoh tersebut masih menganjurkan sistem hierarkis, misalnya Saint-Simon. Tetapi, perlu digaris bawahi, mereka telah berhasil membantu para sosialis di masa depan, misalnya Babeuf yang dianggap sebagai salah satu pemikir komunis modern yang mendorong perubahan dan penciptaan teori-teori kritis untuk mengungkapkan sistem yang tidak memadai, yaitu kapitalisme.

Apa yang ditawarkan oleh Sosialisme merupakan salah satu alternatif yang cukup menarik dan layak untuk dipertimbangkan dan diterapkan oleh suatu entitas.

Distribusi kekayaan dan penghapusan kepemilikan pribadi merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai, perlu kita ketahui bahwa sosialisme pada dasarnya tidak berupaya untuk menghapus properti pribadi, misalnya pakaian, rumah, atau barang-barang pribadi. Sering terlintas dipikiran kita bahwa sosialisme akan merampas segala bentuk harta yang dimiliki, misalnya kaitan baju atau kasur. Akan tetapi, tidak demikian. Kepemilikan yang ingin dihancurkan oleh sosialisme adalah kepemilikan terhadap alat-alat produksi, misalnya pabrik, tanah, dan bisnis.

Beberapa hal yang telah disebut di atas dikuasai oleh segelintir orang atau kaum minoritas yang kemudian dapat menentukan nasib sebagian besar masyarakat dengan sumber daya dan kekayaan yang mereka miliki, hal ini dipandang sebagai hal yang tidak etis hingga mengancam moralitas manusia karena dapat memicu penindasan serta eksploitasi.

Kesenjangan kekayaan yang terlihat secara nyata merupakan salah satu dampak dari penguasaan alat-alat produksi dan mendorong mayoritas masyarakat untuk menyerahkan "daya” atau “tenaga untuk bekerja” kepada para kapitalis dengan harapan mendapatkan upah yang sepadan, namun kenyataannya tidak demikian. Lalu bagaimana membentuk ekonomi yang bersifat kolektif daripada ekonomi individualis dalam kapitalisme?

Kepemilikan publik merupakan salah satu dari beberapa cara yang perlu diwujudkan untuk memastikan bahwa tidak ada monopoli oleh minoritas kecil yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Berbagai sumber daya alam, alat-alat produksi, tanah, dan layanan substansial lainnya patut dimiliki oleh secara kolektif oleh masyarakat. Contoh terdekat yang dapat kita lihat adalah kepemilikan sumber daya air yang dikelola oleh pemerintah untuk didistribusikan kepada masyarakat, namun untuk saat ini masyarakat masih dikenakan biaya untuk memperoleh air yang didistribusikan oleh pemerintah dan manfaat yang dirasakan masih belum merata.

Selanjutnya berkaitan dengan sentralisasi atau perencanaan terpusat, beberapa sistem dan derivasi sosialisme yang menerapkan sistem yang bersifat sentralisasi untuk melaksanakan proses distribusi, menentukan tujuan produksi, penetapan harga, pengambilan kebijakan moneter dan fiskal, dan memastikan rantai pasokan terjaga dengan baik. Misalnya, Gosplan atau The State Planning Committee di Uni Soviet, merupakan lembaga yang bertanggung jawab atas segala perencanaan ekonomi secara terpusat yang didirikan pada tahun 1921 dan dibubarkan seiring dengan runtuhnya Uni Soviet.

Gosplan sendiri memainkan peran yang sangat penting dalam permusuan rencana perekonomian di Uni Soviet setiap 5 tahun sekali. Gosplan menjadi ujung tombak bagi terlaksananya kebijakan pertanian Stalin yang menginstrukan bahwa aktivitas pertanian dikonsolidasikan menjadi pertanian kolektif dan pertanian negara, dengan tujuan untuk menghilangkan dominasi swasta yang menyebabkan persaingan yang tidak sehat antar kaum petani.

Dari aktivitas yang berbasis kolektif, khususnya pada bidang ekonomi yang terjadi di era Uni Soviet merupakan salah satu bentuk—yang sedikit dipaksakan untuk mereduksi peran kapitalis dan individualisme—pembentukan moral kolektif yang begitu penting untuk memastikan bahwa setiap individu mendapatkan penghargaan dan distribusi kekayaan yang optimal demi membentuk kesejahteraan bersama.

Kesenjangan yang semakin ditekan dengan beberapa kebijakan yang mengikat merupakan langkah yang dapat dibilang cukup efisien karena akan mengalihkan fokus setiap individu menjadi fokus kolektif agar dapat memenuhi kepentingan bersama dan pribadi. Walau beberapa aspek dilakukan secara kolektif, namun tidak menutup kemungkinan dan peluang, bahwa kepentingan pribadi juga wajib dipenuhi akan memaksimalkan potensi seseorang selama mereka ikut campur dalam aktivitas berbasis kolektif.

Jika kita berbicara tentang moralitas secara seuntuhnya, agak sulit bagi kita untuk mewujudkan moralitas yang bersifat absolut karena tidak setiap orang dapat mendukung tindakan tersebut karena dibayangi oleh hasrat individualisme, khususnya berkaitan dengan keserakahan. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa celah-celah yang mengancam terwujudnya moralitas dapat ditekan melalui kebijakan-kebijakan yang telah ditentukan melalui pendekatan yang lebih komprehensif dan terpusat. Dalam hal ini, kita telah mengenal eitka utilitarianisme di dalam ekonomi yang kemudian mengisyaratkan untuk mencapai kebaikan terbanyak bagi banyak orang.

Dan, dari sistem kolektif di sosialisme, harapan-harapan ini diwujdukan melalui sentralisasi dan kerja-kerja bersama yang dilakukan demi menekan angka kesenjangan ekonomi dan pendapatan, kejahatan, hingga memaksimalkan distribusi kekayaan dengan baik. Dengan semangat yang sama seperti yang disampaikan oleh Marx, yaitu menghapuskan segala bentuk kepemilikan pribadi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya