Ekonomi Riau di Tengah Pandemi COVID-19

Statistisi Ahli
Ekonomi Riau di Tengah Pandemi COVID-19 07/05/2020 903 view Ekonomi Bualbual.com

Covid-19 masuk ke Indonesia sejak awal Maret 2020, ditandai dengan pengumuman yang disampaikan oleh Presiden Jokowi pada tanggal 2 Maret 2020, yaitu: “terdapat 2 WNI di Depok yang positif Corona”.

Sejak diumumkannya informasi tersebut, masyarakat beberapa kota besar di Indonesia (DKI Jakarta dan Surabaya) mulai melakukan panic buying retail. Hal ini disampaikan oleh Anggota Dewan Penasihat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Tutum Rahanta pada media cnbcindonesia.com.

Kondisi tersebut mulai mempengaruhi situasi ekonomi daerah dan Indonesia secara umum. Ditambah dengan beberapa kondisi lainnya seperti situasi perdagangan luar negeri, penutupan gerai makanan, dan lain-lain, semakin membuat kondisi ekonomi tidak menentu.

Bagaimanakah dengan kondisi ekonomi Riau pada Triwulan I 2020, apakah sama dengan kondisi nasional atau berbeda?

Badan Pusat Statistik Provinsi Riau tanggal 5 Mei 2020 merilis angka Pertumbuhan Ekonomi Riau Triwulan I 2020 sebesar 2,24 persen, bersamaan dengan dirilisnya keadaan ketenagakerjaan berupa angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Riau Februari 2020 sebesar 5,07%.

Untuk kondisi ketenagakerjaan, datanya tidak mencerminkan kondisi saat terjadinya pandemic Covid-19 karena diperoleh dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional yang pencacahan lapangannya dilaksanakan tanggal 8-29 Februari 2020. Sedangkan untuk angka pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2020 sudah bisa dianggap mencerminkan kondisi pandemi Covid-19.

Struktur Menurut Lapangan Usaha

Riau sebagai provinsi dengan share ekonomi terbesar kedua di luar pulau Jawa memiliki struktur ekonomi yang agak berbeda dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Kepemilikan sumber daya alam yang melimpah membuat perekonomian Riau sangat bergantung kepada sumber daya alam, yaitu minyak bumi dan perkebunan kelapa sawit.

Sektor pertambangan dan penggalian Riau yang didominasi oleh minyak bumi terus mengalami penurunan disebabkan karena produksi minyak semakin berkurang. Ini merupakan pengaruh dari usia sumur-sumur minyak yang ada semakin menua dan ditambah dengan anjloknya harga minyak dunia semakin memperparah pertambangan minyak bumi Riau.

Wilayah dan lahan yang luas menguntungkan bagi Riau untuk meningkatkan perkebunan kelapa sawit. Produksi Kelapa sawit dalam bentuk Tandan Buah Segar (TBS) menjadi bahan baku utama dalam industri Crude Palm Oil (CPO). Kedua sektor inilah (perkebunan dan industri CPO) sebagai penyumbang terbesar dalam perekonomian Riau saat ini.

Dengan share lebih dari 50% terhadap PDRB Riau dan ditambah dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 45% dari jumlah penduduk yang bekerja di Riau, kedua lapangan usaha ini menjadi tumpuan baru bagi perekonomian Riau.

Struktur Menurut Pengeluaran

Ada hal menarik dari angka yang dirilis BPS Provinsi Riau. Konsumsi rumah tangga yang diperkirakan akan terdampak parah akibat Covid-19, ternyata masih bisa tumbuh sebesar 1,72 persen dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,25%. Kondisi ini berbeda dengan nasional dimana pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat 2,84%. Angka ini sangat rendah bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu 5,02%.

Konsumsi pemerintah mengalami kontraksi sebesar minus 4,83 persen. Kontraksi ini disebabkan adanya kebijakan penggeseran anggaran untuk kepentingan biaya tak terduga dalam menghadapi Covid-19 serta penundaan belanja barang dan belanja modal yang tidak prioritas.

Karena Riau didominasi oleh kelapa sawit dan CPO, hal ini berimbas kepada nilai ekspor Riau yang masih tumbuh sebesar 15,19%. Di luar dari prediksi yang menganggap bahwa dengan terjadinya pandemi Covid-19 di dunia akan menyebabkan ekspor Riau menurun drastis.

Hal tersebut terbantahkan, ternyata meskipun permintaan CPO dari negara China mengalami penurunan, tetapi tertutupi oleh permintaan CPO dari India yang justru meningkat akibat India memutuskan pembelian CPO dari Malaysia. Peningkatan ekspor juga disebabkan karena Riau melakukan ekspor serat rayon ke Turki dan 14 negara lainnya di dunia (antaranews.com).

Tumbuh Tapi Melambat

Secara umum kondisi ekonomi Riau pada Triwulan I 2020 saat pandemi Covid-19 masih tumbuh, tetapi sedikit melambat. Perlambatan disebabkan karena mulai pertengahan Maret 2020 tepatnya tanggal 17 Maret-15 April 2020 ditetapkan Status Siaga Covid-19 . Tepatnya setelah Gubernur Riau mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor: Kpts.596/III/2020 tentang penetapan status siaga darurat bencana non alam akibat virus Corona di Provinsi Riau tahun 2020.

Efek dari penetapan status siaga tersebut adalah memberlakukan social distancing dimana aktivitas masyarakat mulai dibatasi, sekolah/perguruan tinggi diliburkan, kantor-kantor mulai melakukan work from home, dan beberapa aktivitas di luar ruangan dibatasi.

Hal ini berimbas kepada penurunan ekonomi pada berbagai sektor yang berhubungan dengan aktivitas masyarakat secara umum, seperti menurunnya penjualan/perdagangan kendaraan bermotor, pakaian, dan produk non makanan lainnya, berkurangnya pembelian di rumah makan/restoran, menurunnya penggunaan penginapan/hotel, menurunnya jasa pendidikan, menurunnya jasa lainnya seperti tempat hiburan/rekreasi, salon, dll. Penurunannya ditandai dengan pertumbuhan yang negatif (kontraksi) untuk sektor-sektor tersebut.

Kontraksi/penurunan ekonomi akan semakin berat dirasakan pada Triwulan II tahun ini, dimana banyak daerah yang sudah menerapkan PSBB secara massif, melakukan penutupan jalur penerbangan, munculnya larangan mudik, dan penutupan usaha-usaha karena sepinya permintaan/penjualan. Hal lainnya yang akan timbul akibat dari penurunan kondisi ekonomi adalah jumlah pengangguran akan semakin besar.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemberian bantuan berupa sembako dan BLT dari pemerintah perlu disegerakan. Saat ini masyarakat sangat membutuhkan apa yang telah dijanjikan oleh pemerintah beberapa waktu lalu. Tidak bisa menunggu nanti atau penundaan lebih lama lagi karena terkait dengan masalah perut manusia. Kita tidak menginginkan kejahatan yang muncul akibat dari perut yang lapar kan? Semoga pemerintah dapat segera bertindak.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya