Ekonomi Perilaku dan Diskursus Manusia Mahkluk Irrasional

Ekonomi Perilaku dan Diskursus Manusia Mahkluk Irrasional 22/08/2020 309 view Ekonomi www.kompas.com

Selama perkuliahan dulu, dosen-dosen ekonomi saya, selalu menekankan bahwa manusia dalam keputusan ekonominya selalu menitikberatkan pada asumsi yang rasional. Kalau kalian anak ekonomi, pasti sering dengar pernyataan bahwa "manusia adalah makhluk yang rasional, ingin menghasilkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari sumber daya yang terbatas".

Asumsi tersebut bersumber dari teori marginal utility. Berangkat dari teori tersebut, kemudian kalangan ekonom neoklasik menyebut manusia sebagai Homoeconomicus. Individu yang pengennya selalu kaya secara materi.

Tapi coba kita pikir ulang, emang benar yah kalau manusia itu mahkluk yang rasional? Bukankah banyak keputusan manusia jaman sekarang yang gak rasional. Apalagi kalau soal rasa cinta, gak ada tuh yang rasional. Uang sejuta aja bisa habis dalam sehari cuma gara-gara pengen doi seneng.

Paham neoklasik yang kita pelajari dulu dalam perkuliahan, (terutama mata kuliah ekonomi mikro dan pemasaran) nyatanya dibantah habis-habisan oleh paham ekonomi perilaku.

Ekonomi perilaku bisa dibilang hasil dari konsolidasi tiga diskursus ilmu pengetahuan, yaitu ekonomi, sosial, dan psikologi. Menurut ekonomi perilaku, keputusan manusia dalam aktivitas ekonomi, tidak semata-mata didorong oleh profit atau kepuasan, tapi juga karena nilai yang lain. Bisa karena sisi sosial, emosional dan lain-lain. Ada beberapa teori dari ekonomi perilaku yang sangat ralate dalam kehidupan kita sehari-hari.

Misalnya teori herd instinct atau naluri kerumunan. Intinya teori ini mengatakan bahwa manusia memiliki dorongan untuk berperilaku mengikuti mayoritas dan tidak ingin dianggap berbeda.

Contohnya gini, pas tren ngevape, semua ikut ngevape. Pas tren tiktok kayak sekarang, semua juga ikut tiktokan. Pas semua pada bikin conten di youtube, semua juga pengen ikut-ikutan bikin konten youtube. Perilaku begini kan sering banget terjadi. Karena manusia itu, secara perilaku sosial, seringnya cuma pengen ikut-ikutan yang lain. Tanpa memikirkan efek secara rasional atas aktifitas ikut-ikutan yang dilakukan.

Nah, teori herd instinct ini kemudian memicu perilaku yang disebut Irrational excuberance atau irasionalitas gila-gilaan. Ini bisa dilihat nyata pada kasus kelangkaan masker pada awal-awal kasus corona masuk Indonesia. Pada saat itu, semua orang berbondong-bondong ikut-ikutan membeli masker dalam jumlah banyak, sehingga memicu kelangkaan. Akibatnya, harga masker pun melambung secara tidak rasional.

Efek domino dari irrational excuberance adalah munculnya fenomena lanjutan yaitu Farming Scarcity. ini merupakan perilaku memanipulasi dengan teknik membingkai suatu pesan yang membuat sebuah produk yang dijual seolah terkesan langka di pasaran. Karena jika semakin langka, kan harganya juga akan mahal.

Selanjutnya dalam ekonomi perilaku, ada yang disebut sebagai Mental Accounting. Seseorang punya kecenderungan membelanjakan uang secara berbeda, jika uang tersebut kita labeli secara berbeda. Misalkan kita memisahkan atau melabeli beberapa uang kita menjadi uang kuliah, uang pacaran, uang makan dan uang kos-kosan. Dengan perilaku seperti itu, kita akan menciptakan sikap disiplin dalam pengeluaran bulanan kita, sehingga terhindar dari sifat boros.

Padahal, kalau kita pikir secara rasional. Semua uang itu kan sama saja. Maksudnya begini, mau itu dilabeli uang kuliah, uang pacaran, atau uang kos-kosan, toh uang itu kan uang yang sama, dan tanpa dilabeli pun uang itu pasti akan dibelanjakan.

Kemudian ekonomi perilaku juga menjelaskan fenomena odd pricing atau harga psikologis. Kalian sering kan melihat penetapan harga ganjil. Misalnya harga sebuah sepeda dihargai 1.995.000, lebih dipilih oleh seseorang dari pada harga sepeda dengan harga 2.000.000. padahal, kalau dipikir-pikir, kan muma selisih lima ribu aja kan?

Atau yang paling sering dibeli, misal satu sachect pewangi pakaian ukuran 10ml seharga 1000 rupiah, dianggap lebih murah daripada pewangi pakaian ukuran 750 ml seharga 50 ribu.

Padahal, secara rasional kalau dihitung, akan lebih murah membeli yang 750 ml. karena kalau kita beli pewangi seharga 1000 itu sampai 750 ml, akan lebih mahal 25 ribu. Secara psikologis ini disebut sebagai cognitve bias, artinya terjadi penyimpangan rasionalitas dalam menilai sesuatu. Misalnya penilaian bahwa produk Cina itu pasti cepat rusak dan tidak berkualitas. Padahal kan tidak selalu demikian.

Fenomena lainnya yang menarik dari penjelasan ekonomi perilaku adalah fenomena loss aversion atau risk aversion, yang bisa diartikan sebagai kecenderungan manusia yang lebih memilih menghindari risiko dari pada mendapatkan keuntungan. Toh secara emosional kita kan susah banget kalau disuruh kehilangan sesuatu.

Seorang pionir ekonomi perilaku sekaligus penerima nobel ekonomi pada tahun 2017 yaitu Prof. Richard Staler menciptakan sebuah teori dalam bukunya yang berjudul Nudge yang sangat berfungsi dalam kehidupan kita sehari-hari. Teori tersebut dinamai sama dengan judul bukunya, yaitu Nudge Theory. Teori dorongan halus. Teori ini intinya bermakna bahwa kita bisa memberikan pengaruh pada orang lain melalui sugesti yang tidak langsung.

Misalnya begini, bagi pemerintah, untuk mensiasati biaya kebersihan dan melestarikan lingkungan, alih-alih memberikan sangsi dan poster larangan berupa dilarang membuang sampah sembarangan di tempat umum, kenapa tidak menyediakan banyak tempat sampah yang lokasinya mudah terlihat dan mudah dijangkau. Bukankah Hal tersebut akan lebih efektif. Atau dalam lingkup ekonomi ketika pemerintah ingin masyarakatnya bisa melek uang virtual, maka tinggal hadirkan saja produk barang atau jasa yang hanya bisa diperoleh dengan uang virtual, atau bisa juga dengan pemberlakuan diskon. Nah hal tersebut merupakan contoh dari teori Nudge. Memberikan sugesti atau dorongan secara halus dan tidak langsung.

Pada kenyataannya aktivitas baik ekonomi maupun non ekonomi, manusia selalu mempunyai dorongan yang tidak serta-merta berdasarkan keuntungan semata. Faktor psikologis, emosional, konsensus lingkungan sosial bisa menjadi dasar seorang manusia dalam berperilaku dan membuat keputusan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya