Ekonomi Digital: Strategi Solutif di Tengah Pandemi

Pencinta Produk Lokal
Ekonomi Digital: Strategi Solutif di Tengah Pandemi 18/11/2020 397 view Ekonomi mediaindonesia.com

Pandemi Covid-19 hingga kini telah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Dampak ini dapat dirasakan hampir di seluruh sektor perekonomian.

Pemerintah melalui berbagai kebijakannya telah berpikir jauh mengenai upaya penyelamatan perekonomian. Langkah-langkah pemerintah dalam upaya menyelamatkan perekonomian Indonesia dilakukan dengan menggelontorkan beberapa kebijakan mulai dari PSSB hingga new normal.

Di tengah masifnya penyebaran virus corona, satu realitas yang tidak dapat dimungkiri adalah berkembangnya digitalisasi ekonomi. Di tengah melemahnya perekonomian Indonesia, maka digitalisasi ekonomi (ekonomi digital) merupakan salah satu peluang dalam upaya memulihkan serta meningkatkan perekonomian.

Covid-19 dapat dikatakan sebagai akselerator implementasi digital di Indonesia. Artinya mewabahnya virus corona memicu percepatan adopsi dan transformasi digital baik oleh pengguna maupun penyedia jasa.

Pratama Persadha, pakar keamanan siber menyakini digitalisasi ekonomi dapat berkontribusi pada lompatan besar ekonomi di tengah Covid-19 seperti yang diharapkan Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pidato kenegaraannya, Jumat (14/8/2020).

Oleh karena itu, salah satu strategi yang penulis tawarkan dalam upaya meningkatkan perekonomian negara Indonesia di tengah pandemi Covid-19 adalah dengan meningkatkan transformasi digital khususnya di bidang ekonomi.

Memahami Ekonomi Digital

Istilah ekonomi digital diperkenalkan oleh Don Tapscott pada tahun 1995 melalui bukunya yang berjudul The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence. Ekonomi digital adalah kegiatan ekonomi yang bertumpu pada teknologi digital internet. Tapscott mengungkapkan bahwa pada rezim ekonomi lama, informasi berbentuk fisik, sedangkan pada era ekonomi digital, informasi berbentuk digital.

Dari definisi tersebut, ekonomi digital dapat dikatakan sebagai ekonomi baru sebab jaringan digital dan infrastruktur komunikasi menyediakan platform global tempat orang dan organisasi menyusun berkomunikasi, dan berkolaborasi dalam bidang ekonomi.

Dalam perkembangan lebih lanjut, ekonomi digital menjadi fenomena baru yang memiliki peran strategis dalam perkembangan ekonomi global. Hal ini dibuktikan dengan laporan Huawei dan Oxford Economics yang berjudul Digital Spillover (2016), size ekonomi digital dunia telah mencapai 11.5 triliun dollar atau berkisar 15,5 persen dari GDP dunia (diakses dari Kemensetneg RI pada Rabu, 14 Oktober 2020).

Peran strategis ini semakin meningkat sejak pandemi Covid-19 melanda dunia termasuk Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah demi menunjang protokol kesehatan seperti kebijakan work from home, physical distancing,social distancing bahkan sampai pada berlakunya kebijakan tatanan hidup baru (new normal).

Ekonomi digital dapat mendorong peningkatan positif dan berkelanjutan bagi aktivitas-aktivitas ekonomi serta mampu meningkatkan pola pikir individu dan organisasi dalam pengambilan keputusan ekonomi, terutama sebagai akibat dari perkembangan internet dan teknologi perangkat seluler.

Ekonomi Digital Sebagai Upaya Solutif

Di tengah masifnya penyebaran virus corona, terciptanya ekonomi digital yang dicetus oleh Don Tapscott dapat membantu memulihkan dan meningkatkan perekonomian Indonesia yang sedang lesu. Transformasi digital menjadi jembatan perubahan dalam bisnis saat pandemi terutama di masa new normal. Saya menyakini pada era new normal ini,  inovasi digital dalam bidang ekonomi akan melompat tinggi, karena ekonomi bergerak dalam kepungan virus.

Presiden Joko Widodo dalam berita yang dirilis oleh Beritasatu.com (27/02/2020) mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara ekonomi digital terbesar di Asia, dengan pertumbuhan yang paling cepat. Penetrasi pasar internet 65 persen di Indonesia pada tahun 2019 naik 10 persen dibandingkan tahun 2018 yang hanya 55 persen. Pada tahun 2018, terdapat 171 juta pengguna internet di Indonesia. Negara Indonesia tercatat memiliki ekosistem startup yang paling aktif di Asia Tenggara, nomor lima di dunia setelah Amerika Serikat, India, Inggris, dan Kanada. Ada 2.193 startup, ada satu decacorn, ada empat unicorn.

Profesor Walter Brenner dari St. Gallen University di Swiss, menyatakan penggunaan data secara agresif mengubah model ekonomi dan bisnis, memfasilitasi produk dan layanan baru, menciptakan proses baru, menghasilkan utilitas lebih besar, dan mengantarkan budaya manajemen baru.

Di tengah majunya ekonomi digital saat ini, terjadinya wabah Covid-19 ini, justru mendorong terjadinya perlombaan secara besar-besaran bagi pelaku ekonomi, untuk bisa tetap menjalankan usaha bisnis melalui teknologi maju berbasis digital. Sesuatu yang menarik dan mencengangkan kita, sedang terjadi saat pandemi Covid-19 ini, dan terus akan terjadi saat era new normal.

Salah satu bisnis berbasis digital yang paling banyak digemari oleh masyarakat Indonesia adalah bisnis e-commerce. E-Commerce adalah kegiatan jual beli barang/jasa atau transmisi dana /data melalui jaringan elektronik, terutama internet. Tingginya pertumbuhan industry e-commmerce di Indonesia tidak terlepas dari perilaku konsumen yang menginginkan kecepatan dalam berbelanja online.

Pertumbuhan bisnis e-commerce sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Perkembangan jumlah pelaku bisnis e-commerce, dalam hal ini produsen, berkontribusi mendorong penawaran produk dalam perdagangan online. Ketika jumlah produsen e-commerce semakin banyak, semakin banyak pula barang dan jasa yang diperdagangkan secara online. Hal ini berkontribusi terhadap peningkatan transaksi.

Peningkatan pengaruh e-commerce terhadap pertumbuhan ekonomi penjualan barang dan jasa secara online memiliki implikai serupa terhadap pertambahan PDB yang merupakan indikator dalam mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Bahkan nilai pasar e-commerce Indoneisa dinilai akan mencapai sekitar Rp910 triliun pada 2022 (proye McKinsey & co). Angka tersebut meningkat delapan kali lipat dibandingkan 2017 yang nilainya sekitar Rp112 triliun.

Di tengah pandemi ini, bisnis online e-commerce sangat digemari masyarakat karena dinilai paling efektif dan efisien terutama untuk tujuan kesehatan. Sistem pembayaran nontunai dan nirsentuh (cashless dan contactless) dinilai lebih aman secara kesehatan, selain tentu dinilai lebih efisisien. Ada banyak keuntungan baik bagi produsen maupun konsumen dalam bisnis e-commerce.

Selain bagi kedua pihak tersebut, negara juga dibantu dalam rangka upaya peningkatan ekonomi yang sedang lesu akibat virus Corona. Dengan demikian ekonomi digital dalam hal ini bisnis e-commerce mampu menjadi penopang perekonomian Indonesia selama masa pandemic Covid-19 ini karena masyarakat menggantungkan kehidupannya pada ekonomi digital.

Tantangan Ekonomi Digital

Kita harus mengakui bahwa ekonomi digital ini masih mengalami cukup banyak tantangan. Untuk saat ini ada dua tantangan besar yang hemat penulis sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

Pertama, Cyber Security. Cyber security masih menjadi tantangan utama dalam investasi digital ekonomi Indonesia. Sebagai negara berkembang yang memiliki peluang besar, Indonesia memiliki arus transaksi online yang semakin meningkat setiap tahunnya. Hal ini akan menjadi celah baru bagi pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penyerangan terhadap dunia cyber. Salah satu bentuk serangan cyber ini adalah ransomware yang dapat menyerang website yang bergerak di perekonomian digital. Oleh karena itu, pemerintah harus menciptakan sistem keamanan internet tingkat tinggi guna menjaga transaksi dan investasi ekonomi digital.

Kedua, infrastruktur internet yang belum mumpuni. Sebab, akses internet inilah yang memengaruhi investasi digital ekonomi di Indonesia. Saat ini akses internet masih terpusat di pulau-pulau terbesar saja seperti Jawa, Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara. Sedangkan wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dinilai masih minim. Data tersebut dilansir oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia pada 2017 lalu. Maka, pemerintah harus berjuang untuk pemerataan infrastruktur internet di semua wilayah.

Kedua tantangan di atas, hemat penulis cukup berpengaruh terhadap peningkatan ekonomi digital di Indonesia. Jika pemerintah tidak sigap untuk mencari solusi maka akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi terutama di masa pandemic Covid-19 ini. Seandainya, infrastruktur internet merata di seluruh Indonesia dan keamanan cyber terjamin maka pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat berlipat ganda dari hasil yang diraih saat ini.

Penulis menyakini bahwa untuk masa sulit ini, ekonomi digital seperti bisnis e-commerce merupakan strategi yang utama dan paling baik, karena strategi ini juga sangat menjamin kesehatan masyarakat. Sebab, hemat penulis untuk saat ini kesehatan tetap aspek utama yang diperhatikan. Bisnis e-commerce adalah strategi yang sangat efisien dan sangat mendukung aspek kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, mari kita bekerja sama dalam mendukung pemerintah dalam upaya meningkatkan perekonomian di tengah pandemi ini sambal tetap menjaga kesehatan yakni dengan strategi ekonomi digital.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya