Earvin Ngapeth dan Makna Konsistensi Prestasi

Asesor SDM Aparatur Ditjen Pendidikan Islam Kemenag
Earvin Ngapeth dan Makna Konsistensi Prestasi 31/07/2022 42 view Budaya volleyball world

Konsistensi mungkin merupakan masalah besar, jika bukan malah terbesar, dalam prestasi olah raga. Ajang Volleyball Nation League (VNL) 2022 dalam banyak hal membuktikan hal tersebut dengan keterpilihan Earvin Ngapeth sebagai Most Valuable Player (MVP) dan kemenangan tim Prancis di final (24/7).

Ngapeth dan Prancis memperlihatkan kepada publik sebagai pemimpin yang menginspirasi tim dan sebuah skuad yang mampu membangun kekompakan. Di usia yang tidak lagi terhitung muda (31 tahun), Ngapeth mampu mengukir prestasi yang cemerlang sebagai pemain terbaik di ajang pertandingan antar negara terkemuka dalam prestasi bola voli.

Pada seumurannya dan sesama posisi yang diperankannya selaku outside hitter, dirinya mampu menenggelamkan peran superstar bola voli dunia kini pada diri Bartosz Kurek (Polandia), Ivan Zaytsev (Italia), atau Yoandy Leal Hidalgo (Brasil). Ngapeth juga mampu mengalahkan energi anak muda dalam kecemerlangan kapten tim Yuki Ishikawa (26, Jepang), Alesssandro Michieletto (20, Italia) dan beberapa figur lain yang digadang-gadang mampu menjadi pembeda dalam ajang VNL ini. Dalam hitungan ini, hanya Wilfredo Leon Venero (Polandia), bintang dunia lain, yang tidak ditaklukkan Ngapeth karena sedang cedera lutut yang menghalanginya untuk berlaga di VNL 2022.

Prestasi demikian tentu saja tidak dengan mudah diraihnya. Ngapeth seperti penjelajah dalam cerita pribadinya, juga dalam pilihan karirnya. Melihat torehan karir dan prestasinya, Ngapeth seperti tidak memburu glamornya liga bola voli semata. Berjaya di klub Leo Shoes Modena (Italia) pada 2014-2015, Ngapeth melanjutkan karirnya ke klub raksasa Zenith Kazan (Rusia), balik lagi ke Modena, lalu kini berada di Paykan Tehran (Iran) bersama bintang Belanda, yang merupakan opposite hitter ternama, Nimir Abdel Aziz.

Ngapeth mungkin adalah tipikal pemain bola voli yang mengandalkan otak dan strategi, bukan semata kekuatan otot. Dengan tinggi badan "cuma" 194 cm, Ngapeth mengalami kesulitan tersendiri dengan blocking lawan yang bisa jadi rata-rata memiliki ketinggian dua meter lebih selaku middle blocker, posisi yang langsung berhadapan dengan tugasnya selaku outside hitter. Namun dengan kepintarannya, Ngapeth mampu menempatkan presisi pukulannya pada posisi yang mematikan atau pantulan blocking yang tidak terselamatkan lawan.

Secara personal, Ngapeth bukan figur yang mudah dalam menjalani kehidupannya. Pada masa kecilnya, keturunan imigran Kamerun ini dikenal sebagai pemain sepak bola. Namun, nasib dan keinginan kuat mengantarkannya sebagai pemain bola voli top kemudian. Meski begitu, ia dikenal memiliki perangai yang cukup nyentrik, jika bukan malah bengal.

Tahun 2014 – 2015, Ngapeth sempat memiliki masalah di Montpellier gegara kasus ribut di jalanan dan sebuah bar. Tahun 2019, Ngapeth dituduh melakukan pelecehan seksual di Belo Horizonte Brasil, dan catatan personal negatif lainnya.

Meski nyentrik secara personal, namun prestasinya di bola voli tetaplah berkibar dan konsisten. Prestasi fenomenalnya tentu saja turut membawa Prancis meraih medali Emas Olimpaide Tokyo Tahun 2020 dan yang terbaru adalah jawara VNL 2022. Hebatnya, pada kedua ajang bergengsi tersebut Ngapeth, berdasar statistik pertandingan dan penilaian panel juri, tampil sebagai pemain terbaik (Most Valuable Player).

VNL adalah format baru liga bola voli dunia, menggantikan piala dunia dan putaran grand prix bola voli dunia. Dengan sistem liga, Federation Internationale de Volleyball (FIVB) berusaha meningkatkan mutu kompetisi dan pelibatan secara lebih terbuka bagi para negara kontestan di seluruh penjuru dunia. Setelah Olimpiade Rio de Janeirio tahun 2016, FIVB terlihat ingin lebih masif menjadikan bola voli sebagai olah raga terkemuka di dunia, dengan melibatkan berbagai negara dalam kapasitas masing-masing.

Dalam relasi demikian, FIVB juga mengembangkan penguatan kapasitas kelembagaan dan akses terhadap bola voli di berbagai wilayah dan warga dunia. VNL 2022 menjadi penanda semangat tersebut dengan kampanye keep the ball flying. Bekerja sama dengan berbagai lembaga swadaya internasional, FIVB ingin menjadikan bola voli bukan hanya sebagai olah raga itu sendiri, namun juga sebagai kekuatan elemen sosial yang membangun kerja sama sosial dan penghargaan terhadap perbedaan.

Kita tahu, di berbagai belahan dunia dan pada bermacam cabang olah raga, kasus rasisme dan tindakan negatif lainnya masih kerap terjadi dan mewarnai. Semangat inklusif dan menghargai perbedaan sosial, budaya, agama, dan warna kulit yang diusung FIVB menunjukkan konsistensi mereka dalam memerangi rasisme, sekaligus membuka akses dan pelibatan masyarakat lebih luas.

Untuk alasan terakhir itulah mengapa Mindanao, Filipina --dan sayangnya bukan Jakarta atau GOR Amongrogo, venue final Proliga beberapa kali-- terpilih sebagai salah satu tempat penyelenggaraan putaran VNL dengan antusiasme warga yang demikian besar. Dengan kata lain, di ajang perayaan dan kompetisi akbar bola voli dunia, Indonesia belum dihitung sebagai salah satu pemerannya, bahkan pada posisi prestasi bola voli yang lebih baik ketimbang penyelenggara acara.

Di Filipina pula, pada putaran kualifikasi VNL, tim Prancis menunjukkan grafik konsistensi yang bagus meski dalam kondisi psikologis tim yang kurang ideal. Prancis datang ke ajang VNL 2022 melewati tiga pergantian pelatih dalam kurun kurang dari setahun. Ditinggal Laurent Tillie selepas Olimpiade Tokyo, tim Prancis kemudian diasuh oleh legenda bola voli Brasil, Bernardo Rezende. Tidak lama memimpin, Rezende mundur dengan alasan keluarga dan digantikan Andrea Gianni. Mantan pemain fenomenal Italia tahun 90-an ini hanya memiliki waktu empat bulan untuk menyiapkan tim Prancis menghadapi VNL 2022.

Di penyisihan VNL, mereka memang sempat dikalahkan tim Polandia (3-1), Amerika (3-2), dan Argentina (3-1). Namun demikian, setelahnya tim Prancis melaju dengan mulus dan meraup poin dan skor pertandingan demi pertandingan hingga membuat akumulasi poin yang meyakinkan. Di era kompetisi bola voli moderen, raihan kemenangan juga menghitung skor angka per set sebagai poin penghitungan yang ikut menentukan posisi di klasemen.

Dalam pola demikian, tim dengan konsistensi kemenangan dan efisiensi skor akan meraih prestasi tertinggi hingga ke babak final. Di final, Prancis mengalahkan Amerika Serikat lewat duel sengit lima set dengan skor akhir 3-2 (25-16, 25-19, 15-25, 21-25, 15-10).

Melihat konsistensi perjalanan karir Earvin Ngapeth dan tim nasional Prancis, poin penting mengenai hal ini bisa jadi dapat ditemukan, salah satunya, dari pernyataan setter (pengumpan) mereka, Antoine Brizard.

Kepada FIVB setelah kemenangan Prancis di VNL 2022, setter yang juga bermain di klub Gas Sales Piacenza (Italia) ini menyatakan bahwa tim Prancis mengembangkan kekompakan yang konsisten di dalam dan di luar arena permainan.

Kekompakan itu membentuk kesepahaman yang kuat dan mampu menjadi energi untuk menghadapi lawan yang relatif lebih bertabur bintang. Di lain kesempatan Brizard mengakui, peran Ngapeth selaku motivator sangat dirasakan anggota tim.

Ajang Olimpaide 2021 dan VNL 2022 menjadi bukti sahihnya. Prancis mungkin belum sebesar Juara Dunia Polandia, namun capaian mereke tarus menanjak. Ngapeth dan tim Prancis menunjukkan, tidak ada yang sia-sia dengan upaya dan kerja keras. Kekompakan tim dan konsistensi prestasi menyempurnakan upaya tersebut.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya