Dua Sisi Childfree

Dua Sisi Childfree 30/08/2021 47 view Opini Mingguan Tirto.ID

Setiap pasangan pasti mempunyai keinginan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Beragam mimpi dan harapan dirajut dalam suatu asa yang dinamakan rumah tangga. Salah satunya adalah harapan mempunyai buah hati guna meneruskan keturunan. Namun, bagaimana jika pasangan itu tidak mempunyai keinginan untuk meneruskan keturunannya dalam suatu pernikahan?

Secara umum, childfree merupakan istilah yang ditujukan kepada pasangan suami istri yang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Sebagaimana dikutip dari Wikipedia, istilah ini dibuat sekitar abad ke-20. Seorang penganut Maniisme, St. Augustine mempercayai bahwa membuat anak adalah suatu sikap tidak bermoral yang menjebak jiwa dalam tubuh yang tidak kekal. Oleh karena itu, mereka menggunakan kontrasepsi dengan sistem kalender sebagai upaya preventif.

Istilah childfree kembali mencuat dan sempat menduduki trending di Twitter usai pengakuan dari salah seorang Youtuber Indonesia bahwa ia tidak ingin mempunyai anak. Pengakuan tersebut menuai beragam respon dari warganet. Memangnya apa yang bermasalah dari childfree? Mengapa hal tersebut menuai lebih banyak kontra di Indonesia?

Sebenarnya, fenomena childfree bukanlah hal yang baru di dunia. Bahkan, masyarakat di luar negeri banyak yang mempraktikkan hal tersebut. Sebagaimana dilansir dari Tirto.ID, dalam suatu riset yang dilakukan oleh Tomas Frejka dengan tajuk Childlessness in the United States, menyatakan bahwa pilihan untuk tidak mempunyai anak mengalami peningkatan di tahun 2000-an dari 10 persen menjadi 20 persen dibandingkan dekade 1970-an. Selain itu, International Business Times melaporkan bahwa Australian Bureau of Statistic menilai akan lebih banyak pasangan yang memilih opsi childfree antara tahun 2023-2029.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan mengapa pasangan suami istri memilih childfree dalam kehidupan mereka. Misalnya, masalah finansial, latar belakang keluarga, isu lingkungan, pengasuhan anak, dan pertimbangan kehidupan di masa depan. Hal tersebut menjadi suatu keputusan dalam ranah personal atau privat yang sebenarnya tidak memerlukan campur tangan orang lain.

Meskipun keputusan tersebut masuk ke ranah personal, tidak menutup kemungkinan akan muncul stigma negatif dari masyarakat sekitar, apalagi di Indonesia. Banyak masyarakat yang menganggap bahwa tujuan utama pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan sehingga hal tersebut seakan-akan menjadi ukuran pakem suatu pernikahan.

Banyak anak banyak rezeki merupakan ungkapan yang sering didengar di Indonesia. Masyarakat beranggapan bahwa anak adalah sumber rezeki dalam kehidupan dan bisa menjaga orang tua di masa depan. Mereka di masa tua pasti akan sangat terbantu apabila mempunyai anak sebagai generasi penerus.

Beragam stigma negatif yang bermunculan mungkin akan lebih banyak mengarah pada perempuan karena anggapan bahwa kodrat perempuan adalah mengandung dan melahirkan anak. Hal tersebut menjadi alasan mengapa childfree menuai lebih banyak kontra di masyarakat dan menjadi suatu hal yang tabu.

Bila dilihat, tekanan sosial dari keputusan childfree ini mungkin lebih besar dirasakan di Indonesia. Tentu saja dibutuhkan dukungan dari keluarga pasangan agar mereka tetap sehat secara fisik dan mental. Keputusan ini tentunya tidak akan menjadi masalah apabila telah menjadi kesepakatan bersama antar kedua pasangan, termasuk keluarga besar pasangan. Namun, akan menjadi masalah apabila orang-orang yang ingin menerapkan childfree berlipat ganda. Apa masalahnya?

Apabila orang-orang yang memutuskan childfree berlipat ganda, maka akan berdampak pada kemajuan suatu negara. Bisa saja negara tersebut mengalami kemunduran produktivitas karena menurunnya jumlah usia produktif. Fenomena ini dapat kita lihat di Jepang yang perlahan mengalami stagnasi pertumbuhan ekonomi dan sumber daya manusia karena penurunan jumlah usia produktif setelah masa bonus demografi. Kini, penduduk usia produktif di Jepang sangat minim dan mengakibatkan tingginya beban ekonomi.

Terlepas dari hal tersebut, childfree bisa saja menjadi suatu patokan kebahagiaan seseorang. Meskipun banyak orang yang bahagia ketika memiliki anak dan keturunan, mungkin saja seseorang lebih bahagia ketika hidup berdua dan menghabiskan waktu dengan pasangannya tanpa kehadiran anak. Mereka juga pasti telah mempertimbangkan banyak hal sebelum memilih opsi tersebut. Bisa saja mereka ingin fokus berkarir untuk kehidupan di masa mendatang. Namun, juga tidak menutup kemungkinan akan mengadopsi anak di masa depan.

Pro kontra merupakan hal yang wajar dalam suatu fenomena yang terjadi dalam kehidupan. Banyak masyarakat yang menganggap bahwa tujuan dari suatu pernikahan adalah memiliki anak guna meneruskan keturunan. Inilah yang menyebabkan mengapa childfree menjadi suatu hal yang tabu dalam kehidupan.

Keterbukaan pikiran dan pandangan sangat diperlukan untuk menjawab fenomena seperti ini. Selain itu, childfree merupakan suatu keputusan dalam ranah personal dan tidak merugikan orang lain asalkan hal tersebut tidak dijadikan budaya secara turun-temurun yang dapat berdampak pada keberlangsungan kehidupan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya