Disrupsi Ekonomi: Kapitalisme Wajah Baru

Mahasiswa stfk ledalero
Disrupsi Ekonomi: Kapitalisme Wajah Baru 23/02/2020 747 view Opini Mingguan pixabay.com

Akhir-akhir ini bangsa kita sedang mengalami serangkaian problematika yang kian menggusarkan nalar.

Setelah debat panjang tentang isu pemulangan eks anggota ISIS, kali ini kita dihadapkan dengan masalah ekonomi tentang adanya Putus Hubungan Kerja (PHK) terhadap ribuan karyawan di berbagai perusahaan besar di negeri ini. Tak tanggung-tanggung seperti yang dipaparkan redaksi The Columnist bahwa terdapat 2.683 karyawan Krakatau Steel, 2.500 karyawan dari dua perusahaan di Batam, dan 2.000 pekerja di perusahaan rokok Surabaya yang telah dipecat secara tak adil. Jumlah ini akan terus bertambah, mengingat beberapa perusahaan besar lainnya telah mewanti-wanti untuk melakukan PHK terhadap para buruhnya.

Lantas yang menjadi pertanyaannya ialah apa yang menyebabkan ‘vonis’ ini dijatuhkan pada karyawan-karyawan yang menimba kehidupannya dari pekerjaan mereka ini? Hemat penulis, salah satu hal yang mendalangi semua problem ekonomi ini ialah adanya kapitalisme dengan wajah baru yakni disrupsi ekonomi. Faktor inilah yang menjadi tesis dasar penulis.

Sekelumit tentang Disrupsi

Ada begitu banyak pemikir yang berusaha menggodok sebuah teori yang sempurna tentang disrupsi, salah satunya adalah Renald Kasali.

Dalam bukunya yang berjudul Disrupsion (2017) secara sederhana Kasali mengartikan disrupsi sebagai sebuah inovasi dari manusia-manusia modern. Inovasi ini erat kaitannya dengan upaya digitalisasi dalam setiap pekerjaan manusia. Selain itu, disrupsi juga berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru sehingga hal ini juga turut menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat dari sebelumnya. Singkatnya disrupsi merupakan proses digitalisasi dalam ranah kehidupan manusia. (Kasali, 2017:34).

Disrupsi mengandaikan adanya revolusi teknologi dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya. Revolusi ini bukan hanya semata-mata demi efisiensi melainkan demi produktivitas yang tinggi. Konsekuensi logis dari revolusi yang katanya berbasis inovatif ini adalah teralienasinya para buruh dari pekerjaan mereka. Para buruh didepak dan digantikan dengan mesin-mesin canggih.

Di Indonesia sendiri fenomena disrupsi telah merambah pada sektor-sektor yang signifikan. Bukan hanya itu, fenomena disrupsi juga turut menginisiasi munculnya perusahaan-perusahaan berbasis digital seperti Grab, Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan lain sebagainya.

Pada tataran ini, disrupsi telah menjadi hantu yang menakutkan bagi perusahaan-perusahaan nasional yang belum melakukan penyesuaian terhadap perkembangan teknologi mutakhir.

Arus perkembangan teknologi yang begitu pesat memaksa perusahaan-perusahaan mainstream yang memperkerjakan banyak karyawan, seperti perusahaan rokok, karet, mobil, semen, dan lain sebagainya untuk mengambil langkah yang tegas tanpa memperhatikan implikasinya terhadap kehidupan sosial. Hal ini, berarti bahwa akan ada yang ‘dipaksa’ menjadi korban.

Disrupsi Ekonomi: Wajah Baru Kapitalisme

Jika dibaca dengan cermat, pada dasarnya disrupsi ekonomi merupakan wajah baru dari kapitalisme yang datang dari luar. Disrupsi ini berusaha melibas negara-negara berkembang dengan ide-ide digitalisasi. Skema ini dilakukan oleh para kaum kapitalis untuk mendepak para pekerja. Oleh karenanya, demi mempertahankan diri, para buruh harus meningkatkan produktivitasnya layaknya sebagai ‘mesin’ sehingga para buruh dieksploitasi kemanusiaannya dan martabatnya disamakan dengan mesin-mesin canggih yang bekerja tanpa kenal lelah.

Bercokolnya kapitalisme wajah baru ini kemudian akan mendatangkan ekses destruktif dalam kehidupan masyarakat. Bertambahnya jumlah pengangguran dan meningkatnya angka kemiskinan bukan tidak mungkin akan menyelimuti iklim kehidupan bangsa kita dalam beberapa hari ke depan. Bahaya laten seperti meningkatnya angka kriminal dalam kehidupan bersama juga akan menjadi wabah yang berkepanjangan.

Disrupsi bukan hanya datang dengan iming-iming meningkatkan produktivitas, melainkan juga datang sebagai senjata pembunuh massal yang mengejutkan masyarakat. Disrupsi yang disokong kaum kapitalis bagaikan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Ketika masyarakat tidak siap dengan perubahan dunia maka yang terjadi adalah krisis besar akan melanda masyarakat.

Semakin sangarnya disrupsi ekonomi yang berkelindan di negara kita juga turut berimplikasi pada terbatasnya ruang gerak masyarakat.

Dalam konteks ini, ada sebuah upaya dari kaum kapitalis untuk menghegemoni negara dengan ide-ide digitalisasi. Namun sayangnya, hegemoni ini berujung pada teralienasinya para pekerja yang tidak mampu bersaing dengan mesin. Adanya potensi pergantian pemain ini mengafirmasi bahwa kapitalisme dengan wajah baru kian menggurita dalam kehidupan bangsa ini.

Hemat penulis pada tataran ini disrupsi ekonomi bukan lagi membawa angin segar bagi perkembangan dan kemajuan negara kita. Disrupsi ekonomi sebagai wajah baru dari kapitalisme merupakan akar masalah yang mendatangkan penindasan struktural terhadap masyarakat akar rumput.

Lantas, layakkah para buruh yang tadinya di-PHK disalahkan? Hemat saya tanggung jawab besar dalam mengurus urusan publik tidak semuanya dibebankan pada masyarakat itu sendiri.

Dalam arti bahwa tanggung jawab ini juga harus menjadi PR bagi pemerintah. Pemerintah punya tanggung jawab yang besar dalam memajukan kesejahteraan umum. Semua itu demi satu tujuan yang mulia yakni demi keadilan sosial. Keadilan sosial mengandaikan bahwa ada persamaan hak dan kewajiban. Persamaan hak untuk mendapat pekerjaan. Apalagi hal ini telah tertuang dengan jelas dalam konstitusi kita, khususnya pada UUD 1945 dan Pancasila.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan menjadi harga mati yang mesti diperjuangkan. Melakukan PHK terhadap buruh merupakan sebuah penyangkalan terhadap Pancasila dan terhadap kemanusiaan. Oleh karena itu, adalah suatu kebajikan jika pemerintah memacu perkembangan dan kemajuan bangsa dengan memperhatikan kembali kondisi masyarakat selalu mengutamakan keadilan. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengutamakan keadilan masyarakat ketimbang yang lain.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya