Disiplin Kunci Keberhasilan

PNS BKKBN
Disiplin Kunci Keberhasilan 05/06/2020 753 view Lainnya pixabay.com

Saya masih ingat suasana ruang kelas waktu saya duduk di Sekolah Menegah Pertama (SMP). Hampir setiap menyambut hari kemerdekaan negeri kita tercinta yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus, selalu diadakan perlombaan antar kelas. Salah satu perlombaan yang masih saya ingat adalah perlombaan menghias dan kebersihan kelas.

Teman-teman selokal, di bawah bimbingan wali kelas pun berunding agar kelas kami menjadi juara. Iuran uang seiklasnya pun dilakukan. Hasilnya biasanya dibelikan bendara merah putih, gambar garuda pancasila dan juga gambar presiden dan wakil presiden saat itu, serta gambar-gambar pahlawan, hingga dibelikan perlengkapan untuk menghias kelas dan juga membuat tulisan-tulisan yang membangun yang bersifat memotivasi bagi siswa dan guru yang membacanya.

Ada beberapa tulisan menarik yang masih saya ingat dan tertempel di dinding ruang kelas kami. Kalimat-kaliamat itu antara lain; Rajin Pangkal Pandai, Dimana Ada Kemauan di Situ Ada Jalan, Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit dan juga Disiplin Adalah Kunci Keberhasilan.

Saya tertarik dengan kalimat terakhir yaitu Disiplin Adalah Kunci Keberhasilan. Ketertarikan saya pada kalimat tersebut karena kalimat itu mengandung pesan yang sangat penting hingga dalam kehidupan saya hari-hari ini.

Kedisiplinan sesuatu yang memang mudah diucapkan, mudah ditulis namun sungguh susah dipraktekkan. Padahal hampir semua kita tahu bahwa kedisiplinan adalah kunci keberhasilan dan ini berarti juga ketidakdisiplinan akan bisa mengakibatkan kegagalan, kesengsaraan, malapetaka atau bencana.

Tetapi untuk menciptakan disiplin agar mencapai keberhasilan itu bukan perkara yang mudah dijalankan terutama di negeri ini. Sebagai contoh, sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kebiasaan membuang sampah sebagian masyarakat kita. Masih banyak yang sembarangan.

Banyak yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Di got-got, selokan atau di tepi-tepi jalan yang semua itu membuat situasi menjadi jorok. Bahkan berpotensi untuk menjadi sarang dan penyebaran penyakit, serta bisa mengakibatkan banjir ketika musim penghujan tiba.

Bahkan begitu tidak disiplinnya masyarakat kita dalam membuang sampah, sampai-sampai ada tempat yang bertuliskan “yang membuang sampah di sini adalah anjing”, atau doa “Ya Alllah, kutuklah orang yang membuang sampah di sini” karena memang di tempat tersebut bukan tempatnya membuang sampah, namun sampah selalu menumpuk di tempat itu.

Padahal tempat pembuangan sampah sementara dan tempat pembuangan sampah akhir sudah tersedia di beberapa tempat. Itulah gambaran ketidakdisplinan sebagian masyarakat kita, di kota kami. Mungkin beda dengan di kota anda.

Ada contoh lain bahwa kedisiplinan sebagian masyarakat kita masih jauh dari harapan ideal, seperti kebiasaan berlalu lintas sebagian masyarakat kita. Sering kali kita menemukan seseorang yang tidak memakai helm ketika naik sepeda motor, menerobos rambu-rambu lalu lintas bahkan ketika lampu lintas sedang berwarna merah.

Penulis juga pernah beberapa kali menyaksikan terjadinya tabrakan yang diakibatkan oleh salah satu pihak sepeda motor yang melawan arah. Akibatnya hal tersebut sering kali membuat nyawa melayang di jalan raya dengan sia-sia.

Ada juga pengendara sepeda motor atau pengemudi mobil yang nekat menerabas palang pintu buka tutup di rel kereta api, ketika kereta api itu sedang melintas. Alhasil motor atau mobil tergilas roda-roda kereta api. Sesuatu yang sebetulnya sangat kita sayangkan.

Hari-hari ini dunia sedang dilanda wabah covid-19. Peran untuk mentaati protokol kesehatan dengan disiplin sangat dianjurkan dan sangat membantu dalam upaya memutus mata rantai penyebaran virus ini.

Namun demikian, protokol kesehatan, seperti memakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan perilaku hidup bersih dan sehat nampak sering kali dilanggar oleh sebagian masyarakat kita. Bahkan ketika sebuah daerah tersebut menerapkan apa yang disebut sebagai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol-protokol kesehatan yang seharusnya dipatuhi.

Bahkan penulis pernah melihat langsung ada masyarakat yang tidak memakai masker, masih berkerumun, tidak menjaga jarak saat sedang diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kota kami, sementara di sekitar lokasi tersebut ada aparat yang bertugas menjaga atau sedang melakukan operasi namun terkesan hal itu dibiarkan. Seolah-olah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilaksanakan setengah hati di kota kami.

Jika pada saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilaksanakan banyak masyarakat yang tidak tertib dan tidak disiplin, lalu bagaimana jika New Normal yang mungkin akan segera dilaksanakan di kota kami?

Bisakah masyarakat sama-sama berdisiplin mentaati aturan protokol kesehatan yang telah ditentukan dalam pelaksanaan New Normal? Dan bisakah pemerintah dan aparat menegakkan kedisiplinan dalam menaati aturan tersebut? Sekali lagi saya ingat, tulisan di dinding belakang ruang kelas kami waktu SMP “Disiplin adalah Kunci Keberhasilan”.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya