Dilema Mahasiswa Baru: Antara IPK dan Organisasi

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Dilema Mahasiswa Baru: Antara IPK dan Organisasi 31/03/2021 63 view Pendidikan www.freepik.com

Menjadi seorang mahasiswa dianggap sebagai sesuatu yang membanggakan. Karena dengan menjadi mahasiswa, pola pikir yang dimiliki menjadi lebih maju, berpendidikan, dan berprestasi. Dewasa ini, banyak peluang pekerjaan yang mengharuskan calon pelamarnya memiliki gelar sarjana. Jadi tak heran apabila banyak orang yang mati-matian agar bisa duduk di bangku kuliah. Di balik itu semua, ada pendapat yang mengatakan bahwa kesuksesan seorang mahasiswa dilihat dari nama besar kampus tempat mereka berkuliah. Namun hal itu terbantahkan dengan adanya pendapat yang mengatakan bahwa kesuksesan mahasiswa bukan dilihat dari tempat ia berkuliah melainkan dilihat dari dua hal, yaitu IPK dan organisasi.

Mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang mampu menyeimbangkan antara nilai akademis dan organisasi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian mahasiswa kesulitan menyeimbangkan kedua hal tersebut sehingga muncul beragam opini yang mengatakan bahwa berhasil di salah satu saja—IPK atau organisasi—sudah cukup. Hal ini memancing munculnya ungkapan yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga mahasiswa, seperti ‘kupu-kupu’ alias kuliah-pulang dan ‘kura-kura’ alias kuliah-rapat.

Lalu, manakah yang lebih penting antara mengejar IPK atau aktif organisasi? Jawabannya adalah pilihan. Memang, hal ini cukup menjadi dilema di dunia perkuliahan. Namun, alangkah lebih baik apabila setiap individu mengetahui porsi kebutuhannya masing-masing. Setiap pilihan tentu ada risiko yang harus ditanggung. Oleh karena itu, mahasiswa haruslah bijak dalam mengambil keputusan dan dapat mempertanggungjawabkannya.

Ada mahasiswa yang memilih untuk menjadi ‘kupu-kupu’ karena merasa tanggung jawab terbesarnya adalah berkuliah dan mendapatkan IPK yang tinggi untuk ia setorkan sebagai bukti bakti kepada orang tua. Mahasiswa tipe ini mayoritas khawatir terhadap waktu yang terkuras cukup banyak apabila mengikuti organisasi, sehingga tidak ada waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas dan belajar untuk persiapan ujian. Ditambah lagi dengan ancaman pengulangan mata kuliah apabila nilai tidak memenuhi standar kelulusan.

Banyak faktor yang membuat mahasiswa mementingkan IPK. Sebagai contoh, banyaknya beasiswa dan lowongan pekerjaan bagi fresh graduated yang mensyaratkan nilai minimal IPK yang harus dimiliki. Bagi mahasiswa yang mengejar beasiswa, tentunya dibutuhkan IPK yang memenuhi standar ketentuan. Beasiswa membuka peluang masa depan cerah menjadi semakin terbuka lebar. IPK tinggi secara tidak langsung menunjukkan sebuah rasa tanggung jawab seorang mahasiswa terhadap pendidikan yang ia tempuh. Bahkan sebagian masyarakat memandang IPK yang tinggi adalah sebuah penilaian objektif kepada mahasiswa berprestasi.

Bagi mahasiswa dengan predikat ‘kura-kura’ tentunya mempunyai alasan untuk menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan organisasi. Seperti yang sudah diketahui, organisasi mengambil peranan penting dalam pengembangan soft skill dan leadership. Sebagian mahasiswa tipe ini mempunyai pendapat bahwa soft skill dan pengalamanlah yang dilihat saat melamar pekerjaan. Kemampuan berpikir kritis, kreatif, public speaking, dan kepemimpinan adalah kunci utama untuk melangkah lebih maju di jenjang karir berikutnya.

Menurut penelitian dari Universitas Harvard Amerika Serikat, kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh pengetahuan atau hard skill, tetapi juga keterampilan mengendalikan diri dan orang lain atau soft skill. Penelitian tersebut secara tidak langsung mengungkapkan bahwa keaktifan mahasiswa dalam pengembangan potensi diri di organisasi mengambil peran lebih besar terhadap kesuksesan dibandingkan dengan sebuah nilai akademis semata. Hal terpenting yang dapat menjadi petunjuk dari kesuksesan adalah kemampuan komunikasi, integritas, kerja sama, dan etika.

Melihat banyaknya sudut pandang mengenai hal ini, tentunya sebagai mahasiswa yang baik tidak seharusnya memandang sebagian yang lain lebih penting atau lebih berperan terhadap masa depan. Menyeimbangkan kemampuan akademis dan keaktifan dalam berorganisasi adalah tugas setiap mahasiswa. Agar hal ini dapat tercapai, mahasiswa perlu mengatur skala prioritas. Perlu diingat kembali bahwa tugas seorang mahasiswa adalah kuliah. Oleh karena itu, skala prioritas pertama tetaplah kuliah dan mendapatkan nilai akademis yang memuaskan.

Dewasa ini, banyak mahasiswa yang justru mengorbankan jam kuliah hanya untuk menghadiri rapat organisasi. Padahal tujuan utama dari organisasi adalah menunjang kegiatan perkuliahan seperti kemampuan menganalisis dan menyampaikan pendapat. Tak hanya itu, mahasiswa yang mengikuti organisasi diharapkan dapat melatih soft skill dalam hal mengatur waktu dan mengelola diri sendiri. Jadi tidak dapat dibenarkan apabila ada mahasiswa yang malah mengorbankan perkuliahan demi sebuah rapat organisasi.

Dengan demikian, untuk menjadi mahasiswa yang ideal diperlukan keseimbangan antara kemampuan akademis dan nonakademis. Nilai IPK memang bukan sesuatu yang menentukan kesuksesan tapi bisa menjadi cerminan terhadap masa depan. Lalu, tanpa keaktifan organisasi, IPK hanyalah sebuah angka yang suatu saat nanti hanya menjadi ‘masa lalu’ di bidang akademis. Masalah kedilemaan seperti ini sepertinya sepele, tapi tentunya dapat menunjukkan karakter seperti apa yang tertanam pada diri seorang mahasiswa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya