Dilema Asap Tembakau: Antara Kematian dan Kenikmatan

Mahasiswa
Dilema Asap Tembakau: Antara Kematian dan Kenikmatan 30/05/2022 56 view Budaya pixabay.com

“Merokok membunuhmu!”

Peringatan yang sudah sangat sering terdengar dan terpampang nyata pada bungkus-bungkus rokok merek apapun. Saking seringnya tergaung, peringatan tersebut seolah hanya menjadi kata-kata kosong semata. Terlepas dari kebenaran yang terkandung di dalamnya, kata-kata “merokok membunuhmu” tidak dianggap memiliki daya peringatan.

Rokok, dalam berbagai jenis, merek, serta bentuknya telah menjadi salah satu benda adiktif yang sangat digandrungi banyak orang. Merokok juga bukan sebuah penemuan jaman modern yang baru-baru ini menjadi naik daun. Bermula dari tradisi mengunyah tembakau sebagai bagian dari ritual perdukunan di Amerika Selatan pada 4000 SM. Dilansir dari internasional.kompas.com, barulah setelah Cristopher Colombus menemukan Benua Amerika, tembakau juga mulai diperkenalkan di daratan Eropa, dan kemudian ke seluruh dunia.

Penggunaan tembakau kemudian terus berkembang, salah satunya dengan meletakan tembakau pada kertas khusus, lalu dilinting dengan tangan, kemudian dibakar dan dihisap. Ini merupakan awal mula ditemukannya rokok. Semenjak itu, sampai saat ini terus berkembang berbagai bentuk rokok mulai dari rokok kretek sampai pada rokok elektronik.

Tidak mengherankan bila banyak orang menganggap kegiatan merokok sebagai rutinitas biasa, seperti halnya dengan makan sehari hari. Sebuah ironi yang sangat jelas, karena kita sendiripun tahu bahaya dari merokok. Asap rokok atau tembakau mengandung lebih dari 4.000 senyawa kimia, 43 di antaranya bersifat karsinogen. Tidak ada kadar paparan minimal dalam asap rokok atau tembakau yang “aman”.

Berdasarkan World Health Organization (WHO), tembakau merupakan penyebab terbesar kematian oleh penyakit yang dapat dicegah. Bahaya penggunaan tembakau mencakup penyakit yang terkait dengan jantung dan paru-paru seperti serangan jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, emfisema, dan kanker (terutama kanker paru-paru, kanker laring, dan kanker pankreas). Penyakit gangguan reproduksi dan kehamilan juga dapat diakibatkan dari pengunaan tembakau.

Perokok pasif meski tidak merokok, dapat mengalami kanker paru-paru. Sampai-sampai WHO menetapkan 31 Mei sebagai Hari Tanpa Tembakau, sebagai bentuk kampanye membangun kesadaran global akan bahaya kebiasaan merokok.

Sudah banyak usaha yang dilakukan untuk menekan konsumsi rokok. Mulai dari iklan layanan masyarakat, peringatan-peringatan bahaya merokok, sampai pada gambar-gambar korban yang terpampang nyata pada bungkus rokok yang dibeli. Mengetahui semua dampak ini, seharusnya bisa membuat orang menjadi berpikir dua kali untuk merokok. Namun rupanya hal tersebut tidak bisa menghentikan candu terhadap rokok.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah perokok aktif terbanyak di dunia. Menurut data WHO, Indonesia berada pada urutan ketiga dunia setelah Cina dan India dengan jumlah perokok terbesar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk Indonesia berumur 15 tahun ke atas yang merokok sebanyak 28,96 persen pada 2021. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun 2020 yang sebanyak 28,69 persen.

Banyak perokok yang sebenarnya sadar akan bahaya asap yang tengah menggerogoti mereka. Namun kenikmatan tembakau juga bukan merupakan hal yang mudah untuk ditolak. Saya sendiri sebagai seorang perokok aktif, mendapati usaha untuk berhenti merokok sebagai hal yang sangat sulit. Para perokok dihadapi pilihan sulit, antara menghirup kenikmatan atau kematian.

Kenikmatan yang dihasilkan oleh asap rokok, bisa dikatakan sebagai magic. Entah kenapa kegiatan merokok membuat pikiran menjadi lebih ringan dan lebih santai. Tak heran, banyak orang yang sedang dalam keadaan stress atau depresi, akan lebih banyak mengkonsumsi rokok. Saya sendiripun cenderung lebih banyak menghabiskan batang rokok setiap harinya, jika berada dalam keadaan stress dan tertekan.

Merokok dianggap sebagai salah satu pelarian yang lebih ringan dibanding alkohol ataupun narkoba. Karenanya, para perokok aktif merasa tidak akan ada masalah serius, toh hanya merokok, tidak sampai kecanduan pada hal yang lebih berbahaya. Pola pikir lainnya adalah menjadi perokok yang bertanggung jawab. Tidak masalah diri sendiri merokok, selama tahu tempat, dan berusaha untuk tidak membahayakan orang lain yang bukan perokok aktif.

Pola pikir semacam ini yang akhirnya membawa pada kecanduan serius. Tidak sedikit saya menjumpai orang-orang yang terus saja merokok, meski sedang berada pada kondisi kesehatan yang buruk.

Dilema rokok ini tidak hanya dirasakan oleh perokok saja, tapi juga pemerintah serta mereka yang mendapat keuntungan dari rokok. Selama ini, banyak pihak telah mengupayakan kampanye berhenti merokok, dan nampaknya pemerintah serta para penguasa juga memberikan dukungannya. Tapi benarkah begitu? Yang terlihat justru dilema serta ketidakkonsistenan.

Ketidakkonsistenan ini terpampang sangat nyata pada iklan-iklan, bahkan pada bungkus rokok sendiri. Peringatan : merokok membunuhmu, disertai dengan foto paru-paru seseorang yang menghitam akibat asap rokok tertempel rapi pada kemasan-kemasan rokok. Hal ini membuat orang menjadi kebingungan, lantas apa gunanya peringatan tersebut bila rokok tetap diproduksi dan diperjualbelikan dengan bebas?

Tidak mengherankan, mengingat pajak rokok menjadi salah satu pemasukan terbesar bagi negara. Pemerintah tentunya tidak akan semudah itu menghentikan produksi rokok begitu saja. Produsen dan penjual juga tidak mungkin melepaskan pemasukan mereka begitu saja. Mereka juga dihadapi dilema, antara kenikmatan uang yang didapat dengan kematian yang menghantui rakyatnya.

Akhirnya yang kemudian marak terjadi adalah saling menyalahkan satu sama lain. Para perokok menyalahkan perusahaan dan pemerintah yang tidak tegas untuk menghentikan konsumsi rokok. Sebaliknya, pemerintah serta produsen juga menyalahkan tingginya konsumen rokok, sehingga rokok harus terus diproduksi. Sebuah lingkaran setan yang tidak akan ada habisnya.

Hari tanpa tembakau sedunia, sudah selayaknya menjadi hari kita membangun kembali kesadaran kita akan bahaya merokok. Semua pihak punya tanggung jawab yang sama dalam usaha menekan konsumsi rokok. Harus ada kesadaran dalam diri masing-masing orang, untuk mulai mengurangi kebiasaan merokok. Demikian juga harus ada sikap yang tegas dari pemerintah serta pihak berwenang.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya