Di Balik Isu KPK, Arteria, Sampai Penyerangan Kepada Wiranto

Admin The Columnist
Di Balik Isu KPK, Arteria, Sampai Penyerangan Kepada Wiranto 11/10/2019 798 view Catatan Redaksi id.wikipedia.org

Seminggu terakhir kita kembali menemui situasi yang serupa. Ketika beragam persoalan muncul hampir bersamaan. Saling berdesakan, berkejaran dan melompat. Berlomba untuk dibicarakan di berbagai ruang publik. Mulai dari komposisi Pimpinan DPR, persoalan KPK, debat emosional Arteria Dahlan, Ustad Somad yang ditolak UGM, sampai yang teranyar, penikaman Menteri Wiranto. Semua amat menarik untuk dibeli dan dinikmati.

Pertanyaannya kemudian, siapa sesungguhnya yang memilihkan isu-isu ini untuk dibicarakan? Mengapa harus isu-isu di atas, bukan yang lain seperti gempa di Maluku atau harga BPJS yang meroket?

Sebagian dari kita adalah pengasong kebijakan yang militan. Yaitu orang-orang yang berusaha menjual sebuah permasalahan tertentu yang dianggapnya menarik dan penting kepada orang lain. Itu supaya masalah tersebut mendapat perhatian. Semakin banyak yang membicarakannya, semakin besar peluang terselesaikan.

Hal ini dilakukan sungguh-sungguh sepenuh hati. Karena terkadang taruhannya sangat besar untuk masing-masing pengasong. Pengasong yang kalah akan menghadapi posisi sulit. Tidak hanya isu yang dianggapnya penting tak terselesaikan. Tetapi ia berkemungkinan pula menerima dampak buruk dari kegagalannya itu.

Tentang maling uang negara dan KPK, beberapa diantara kita memilih berjualan ini. Kalimat-kalimat yang diucapkan cukup terang. KPK telah berhasil menangkap koruptor kelas kakap. Tak terbilang lagi Ketua MK, Ketua DPR, Ketua DPD, Ketua Parpol, Gubernur dan Bupati/Walikota dan pengusaha yang pernah dijerat institusi ini. KPK adalah kabar gembira bagi rakyat, namun berita buruk bagi para koruptor.

Tapi kini kemampuannya dipreteli politisi senayan. KPK terancam mati muda. Jadi, belilah isu ini. Meski tak satupun dari engkau yang tak pernah mencuri, tapi percayalah. Dengan membeli ini engkau akan selamat dan menyelamatkan.

Lalu ada pengasong moralitas terhadap orang tua. Mereka-mereka ini menawarkan masalah kerendahan moral. Persisnya momen ketika Arteria Dahlan tersulut emosi dan menyosor ilmuwan kharismatis Emil Salim. Mereka bilang, inilah wajah politisi kita. Tak tahu adab kepada orang tua. Sudahlah bicaranya tak masuk akal, pun membentak orang sepuh pula.

Maka, ayo..ayo merapat. Kita perhatikan moralitas politisi senayan. Meskipun engkau sering membentak orang tua di rumah, tapi belilah isu ini. Ini akan menunjukkan pada orang lain bahwa engkau tak pernah kasar kepada orang tua.

Sekarang mari kita tinjau pengasong persoalaan keagamaan. Jualan mereka sangat menarik. Ustad Abdul Somad dilarang datang di Masjid Kampus UGM. Bukanlah Masjid Kampus UGM yang membatalkan, tetapi rektorat. Alasannya karena tak sesuai dengan jati diri UGM. Sebuah alasan yang membuat sebagian orang bingung. Tak pasti apa maksudnya.

Jadi ayo mari ke sini. Silahkan dilihat-lihat dulu barang ini. Tak jadi beli pun tak mengapa. Karena jangan-jangan ada kaitannya dengan ini dan itu. Siapa tahu.

Lalu kemarin siang, pengasong anti terorisme dan kekerasan menemukan barang baru yang bisa diperdagangkan. Tak jelas benar bagaimana, tapi yang pasti perut Menteri Wiranto ditusuk. Sementara ini pelakunya disinyalir anggota teroris.

Dan kata para pengasong itu. Jika seorang menteri saja bisa ditikam, betapa mudahnya menyerang diri kita. Maka ayo dibeli. Desak pemerintah untuk mencurigai yang bercelana cingkrang, berjenggot panjang, dan perempuan bercadar. Karena keselamatan adalah nomor satu.

Begitulah yang dilakukan para pengasong kebijakan publik. Mereka mengenali betul barang jualannya, hal menarik dari barang itu, dan masuk dari sisi terlemah dari pembeli: rasa suci, teka-teki spekulatif, dan ketakutan.

Ini belum lagi jika ditarik ke belakang. Misalnya kerusuhan Papua, Veronica Koman, kabut asap, sampai aksi protes mahasiswa dan STM. Suasana negeri ini tak banyak bedanya dengan terminal. Ada banyak yang menjejalkan barang dagangannya kepada kita.

Persaingan diantara pengasong kebijakan publik ini adalah persaingan sempurna. Tak satupun yang bisa menentukan isu mana yang akan dibahas dan diselesaikan terlebih dahulu oleh pemerintah. Baik sesama pengasong, bahkan oleh Presiden sekalipun.

Betul, kita menganut sistem presidensial. Tapi Presiden bukanlah yang berkuasa penuh menentukan isu mana yang akan diselesaikan. Keputusan Presiden dipengaruhi oleh cerita para pengasong kebijakan. Ada pula survey khusus untuk mengetahui pembeli (baca: publik) sukanya barang dagangan apa.

Tapi ini bukan semata soal jualan saja bung! Taruhannya besar. Lantaran tak jarang kemenangan seorang pengasong berarti kebangkrutan bagi pengasong lain.

Misalnya sederhana saja. Bukankah kemenangan pengasong isu pangan organik berarti kebangkrutan bagi pengasong pertumbuhan ekonomi lewat industri pestisida? Dan begitupun sebaliknya. Kemenangan industri pestisida dapat menghancurkan harapan pengasong pangan organik.

Ketika pemerintah memutuskan pangan nasional seutuhnya bergantung pada kemampuan regenerasi alam, banyak perusahaan pestisida yang bangkrut. Tapi begitu pula di sisi seberangnya. Keputusan pemerintah menggenjot pertumbuhan industri pestisida membuat mimpi makanan organik lenyap.

Sekarang coba kita ambil contoh kasus penikaman Menteri Wiranto di atas. Bukankah kemenangan pengasong anti terorisme akan mengancam jualan milik pengasong kebebasan individu dan kehidupan beragama. Dua jualan ini memang tak berhadap-hadapan, tapi punya potensi saling merugikan.

Demikianlah yang terjadi di balik peristiwa-peristiwa genting di negeri ini. Sebagian dari kita adalah pengasong kebijakan. Mereka yang secara aktif menjual isu tertentu kepada publik. Yang artinya ada potensi untuk saling merugikan di antara mereka.

Ketika kita membeli sebuah isu, maka artinya ada dua. Isu itu berkaitan langsung dengan kepentingan kita dan secara sadar masuk ke dalam pertaruhan. Menang dan menikmati manfaatnya, atau kalah dan merasakan akibatnya. Sehingga tak jarang para pembeli berubah menjadi pengasong kebijakan pula. Ikut berkubang lumpur di medan tempur dengan segala resiko.

Ini sebabnya banyak isu berkejaran. Sebagian dari kita sejak awal adalah pengasong kebijakan. Dan sebagian dari yang lain adalah pembeli. Beberapa diantaranya tetap menjadi pembeli. Sedangkan yang lain berubah menjadi pengasong kebijakan pula. Ruang publik menjadi bising dan riuh. Persaingan antar pengasong semakin keras.

Tapi ini bukan soal. Karena demokrasi menjamin perkelahian model begitu. Yang menjadi soal adalah bila si pengasong kebijakan membodoh-bodohi, menipu, atau bahkan mengancam calon pembeli. Apa dan bagaimana itu, tak perlu dijelaskan lagi. Karena banyak di antara kita sudah yang sudah tahu karena mungkin mengalaminya sendiri.

Maka kepada kamu-kamu, selamat memilih isu terbaik untuk dijajakan. Kenali betul sisi menariknya. Kenali pula calon pembeli barang itu. Dan juallah secara jujur, stop tipu-tipu.

Adapun kepada kita-kita calon pembeli, kenali betul barang dagangan yang ada. Jika amat menarik dan penting, silahkan ikut menawarkannya kepada keluarga, teman, komunitas, atau publik. Serupa dengan di atas, jangan pernah menipu pembeli. Berdaganglah secara jujur.


Lalu selebihnya, selamat menikmati kebisingan ini.



Referensi:
Kingdon, JW (2013), Agendas, Alternatives, and Public Policies (2th Edition), Pearson Education Limited: Essex-London.
Smith, ZA (2018), Environmental Policy Paradox (7th Edition), Routledge: New York.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya