Demo dan Aksi Massa di Mata Tan Malaka

mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi widya sasana Malang
Demo dan Aksi Massa di Mata Tan Malaka 31/05/2022 84 view Politik mojok.co

Pemikiran Tan Malaka tentang revolusi dan aksi massa memang tidak bisa dipisahkan. Bahkan telah menjadi kesatuan yang membawa sebuah perubahan jika dijalankan secara seksama. Pemikirannya tentang revolusi dan kemakmuran kaum proletar membawanya pada pemikiran kritis terhadap kapitalisme dan imperialisme. Dalam hal ini Tan malaka juga tidak bisa dipisahkan dari upayanya dalam mengkaji kembali pemikiran marxisme supaya sesuai dengan kultur negara Indonesia. Pemikiran kritis dan tajam ini membuatnya selalu hidup di dalam pelarian tidak ada teman maupun keluarga. Namun di dalam kesendiriannya ia tidak pernah melupakan negara tercinta Indonesia. Maka tidak salah jika Muhammad Yamin menyebutnya sebagai “Bapak Republik” Indonesia.

Kecintaannya terhadap negara membuat Tan Malaka tidak ingin setengah-setengah dalam memberikan diri dan pemikirannya. Revolusi yang digagasnya di dalam aksi massa juga dirancang sedemikian rupa sehingga diharapkan dapat memberikan hasil yang terbaik. Akan tetapi, pemikiran cemerlang tersebut disalahartikan oleh sebagian orang yang gila kekuasaan sehingga revolusi yang dicita-citakan gagal untuk dilakukan.

Tan Malaka memang seorang revolusioner dan pemikir cemerlang yang pernah negara ini miliki. Namun pemikirannya yang condong kepada marxisme membuat nama Tan Malaka menjadi tercemar. Ia dianggap sebagai seorang pemberontak karena pemikiran yang berhaluan sosialis-komunis. Padahal dalam hal jasa Tan Malaka juga memiliki peran yang sebanding atau mungkin lebih dibandingkan bapa bangsa lainya.

Aksi massa yang dimaksud Tan Malaka juga memiliki pengertian berbeda dengan apa yang saat ini kita pahami sebagai aksi massa. Bagi Tan malaka aksi massa adalah sebuah jalan terakhir dalam mencapai revolusi. Dari sebab itu, aksi massa tidak bisa dilakukan secara sembrono melainkan harus dipersiapkan secara matang dan penuh perhitungan. Aksi massa yang Tan Malaka maksud adalah sebuah seni dalam memperoleh revolusi. Bukan seperti aksi massa yang kita kenal sekarang yang terkesan sembarangan dan berbau politik kepentingan. Aksi massa adalah sebuah harapan terakhir rakyat dalam memperoleh kebebasan.

Memang aksi massa yang digagas Tan Malaka telah tercemar oleh politik kepentingan para penguasa. Aksi massa yang memiliki nilai luhur sekarang bisa dibeli dengan murah. Hal ini dapat dilihat dari kehidupan bangsa saat ini yang sedikit-sedikit aksi massa. Tidak suka dengan kebijakan yang ada aksi massa, tidak suka dengan oknum tertentu dalam pemerintah aksi massa. Mentalitas bangsa yang seperti ini sudah membuat aksi massa kehilangan nilai luhurnya.

Tercemarnya aksi massa membuat Tan Malaka kecewa terhadap kaum komunis Indonesia. Pemikiran para elite komunis Indonesia yang saat itu bersifat atheisme juga membuatnya muak. Namun hal ini tidak mengubah kecintaannya terhadap negara dan kaum proletar. Dalam salah satu bukunya yang berjudul GERPOLEK, Tan Malaka juga menjelaskan betapa pentingnya aksi massa sebagai bentuk perang gerilya dalam menghadapi gerakan politik dan ekonomi. Perlawan tersebut bukan tentang bagaimana cara kita menghadapi mereka yang mengancam kemerdekaan kita dengan kekerasan. Tetapi lebih kepada cara kita mengalahkan mereka dengan massa tanpa harus berperang. Seperti yang Tan Malaka katakan “Kita telah merdeka dan negara mana saja yang melanggar kemerdekaan kita itu adalah negara aggressor yang harus diperangi dan diboikot”.

Dari semua pemaparan di atas dapat kita pahami bahwa aksi massa bukanlah sekedar kumpulan massa yang menuntut haknya. Aksi massa adalah sebuah seni dalam melawan ketidakadilan, atau sebuah nilai luhur dalam demokrasi dalam mencapai sebuah kesejahteraan. Namun seiring berjalannya waktu aksi massa yang digagas Tan Malaka telah kehilangan jati dirinya di dalam panggung demokrasi Indonesia. Aksi massa telah ternodai oleh berbagai macam kepentingan dan ideologi yang menginginkan kekuasaan dengan cara yang tidak sportif. Dan aksi massa menjadi kambing hitam dalam gelapnya panggung politik Indonesia.

Permasalahan ini dapat terlihat dari berbagai macam gerakan massa yang dipelopori oknum-oknum tertentu demi kepentingannya pribadi. Inilah yang dimaksudkan Tan Malaka sebagai sikap terburu-buru dalam melakukan revolusi. Indonesia terlalu cepat seratus tahun untuk melakukan sebuah perubahan tanpa perencanaan. Dan perubahan seperti ini yang menurut Tan Malaka dapat membawa kehancuran dalam hidup bernegara.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya