Dampak dan Upaya Menghapus Perundungan Anak di Sekolah

Mahasiswa
Dampak dan Upaya Menghapus Perundungan Anak di Sekolah 21/10/2023 332 view Pendidikan detikNews.

Kasus perundungan anak di sekolah kembali berulang dan sangat mengkhawatirkan. Menurut saya, perundungan bisa terjadi karena ketidaksetaraan, kurangnya pemahaman, sistem pengawasan yang lalai, dan kelemahan dalam sistem pendidikan.

Baru-baru ini terjadi lagi perundungan di lingkungan sekolah. Korbannya adalah seorang siswi kelas dua SDN di Gresik, Jawa Timur. Si korban mengaku kekerasan itu bukan hanya sekali terjadi. Ia sudah berulang kali mengalami perundungan yang dilakukan oleh teman-teman sekolahnya.

Puncak kekerasan terjadi pada 7 Agustus 2023. Ceritanya, seperti biasa teman-temannya minta uang saku yang ia bawa dari rumah. Tapi hari itu si korban menolak. Ia tidak mau lagi menyerahkan uang sakunya. Ia bersikeras dan mencoba untuk mempertahankan diri.

Merasa tak terima dan kesal para pelaku kemudian membawa korban ke lorong sekolah. Di situlah mereka menyiksa si korban. Para pelaku menusuk mata korban menggunakan tusukkan bakso. Akibat peristiwa tak terpuji itu, mata si korban jadi buta. Ayah korban mengaku, kondisi mata anaknya tidak bisa lagi melihat secara normal. Apa yang dilakukan anak-anak SD itu mengakibatkan korban mengalami buta permanen.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid matraji, menyebut perundungan atau bullying di Indonesia sudah darurat. Sebab jumlahnya terus bertambah dan tak ada tanda-tanda penurunan.

Pihak pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sudah menerbitkan sejumlah kebijakan untuk mencegah kekerasan di lingkungan sekolah. Namun, bisa dipastikan bahwa kebijakan tersebut bisa terlaksana seandainya semua pihak terlibat menjalankannya. Pihak sekolah harusnya intens mengawasi anak-anak selama jam sekolah sehingga perbuatan tak terpuji itu tak terjadi lagi.

Tindakan-tindakan merendahkan yang sering terjadi dalam perundungan dapat juga membuat anak kehilangan rasa kepercayaan dalam dirinya. Hal ini bisa berdampak negatif pada kinerja akademis dan kehidupan sosial mereka. Anak yang menjadi korban perundungan merasa dirinya sendirian dan terisolasi serta tidak dapat berbicara tentang pengalaman yang mereka alami.

Studi psikologis juga menunjukkan bahwa anak-anak yang menjadi korban perundungan cenderung mengalami gangguan kesehatan emosional. Di antara para korban ada yang mungkin mengalami depresi, rasa cemas yang berlebihan, berpikiran ingin mengakhiri hidupnya lebih cepat dan yang lebih parah lagi bisa mengalami gangguan mental di kemudian hari.

Meminimalisir perundungan di sekolah tidak bisa sepenuhnya hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua juga harus punya peran yang sanggat besar dalam membimbing anaknya dari rumah. Orang tua perlu bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mengarahkan dan mendidik anak-anaknya agar bisa bersahabat dengan siapa saja termasuk dengan teman-teman mereka di sekolah.

Orang tua perlu tahu dengan siapa anak-anak mereka bergaul. Apa saja yang anak-anak mereka lakukan saat bermain bersama teman-temannya. Pengawasan ketat sangat diperlukan. Dengan demikian orang tua bisa mencegah agar anak-anaknya tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan amoral.

Di lingkungan sosial, orang-orang dewasa perlu memberi contoh-contoh baik juga kepada anak-anak. Salah satunya, diharapkan orang-orang dewasa tidak menggunakan kata-kata kasar saat di depan anak-anak. Bisa jadi perundungan itu dilakukan karena anak-anak meniru apa yang mereka dengar dan lihat dalam keseharian.

Selain itu peran media sosial juga bisa disebut sebagai salah satu faktor yang memungkinkan anak-anak melakukan perundungan, apa yang mereka lihat di media sosial itulah yang mereka lakukan di lingkungan sekolah. Karena itu pengawasan terhadap anak-anak dalam mengakses media sosial juga sangat diperlukan bagi orang tua.

Apabila diperlukan smartphone sekarang sudah dilengkapi dalam mode pengawasan orang tua dengan menautkan akun smartphone anak ke akun smartphone milik orang tuanya, dan orang tua bisa melihat apa saja yang anak mereka akses di media sosial.

Sementara bagi mereka yang hari ini sudah menjadi korban, kita sama-sama berharap agar mereka dapat ditangani secara serius serta mendapat keadilan. Pihak sekolah bisa memaksimalkan konseling untuk anak-anak yang mengalami perundungan. Dan orang tua bisa mendampingi dan memotivasi anaknya untuk kembali menemukan kegembiraan, baik di rumah maupun di sekolah.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya